Tragedi, Kasih dan Logika Orpheus Zizekian

0
140

Dalam mitos, Orpheus dewa musik Yunani telah kehilangan istrinya karena patukan ular berbisa. Euridis seorang peri yang dikenal karena kecantikkannya harus berpindah ke dunia Hades. Sebagai seorang dewa, Orpheus berusaha untuk menggunakan statusnya sebagai dewa untuk merayu Pluto agar dapat mengembalikan istrinya ke dunia manusia. Hades menerima penawaran Orpheus dan memintanya agar menghibur dunia bawah tanah dengan permainan liranya. Semua terhanyut dalam alunan musik Orpheus dan pada saatnya Hades menepati janji dengan mempersilahkan Orpheus kembali ke dunia bersama istrinya. Hades memiliki satu syarat bagi mereka berdua. Selama perjalanan kembali ke dunia, Orpehus tidak diperbolehkan untuk menatap istrinya hingga melewati gerbang Hades. Euridis dan Orpheus saling menggenggam tangan, melewati sungai Stix sambil menahan kerinduan. Sejenak mereka akan sampai gerbang perbatasan dunia orang mati. Orpheus yang tidak tahan akan kesesakan masih menggegam tangan istrinya. Ia tidak mampu menahan, perasaan syukur dan hasrat terbatasi dengan persyaratan dari Pluto. Namun Orpheus sebagai seorang yang hipud dalam keindahan akhirnya tidak dapat menahan. Ia menoleh ke belakang, menatap istrinya. Paras ayu Euridis masih tertanam dalam-dalam walau raganya belum nampak secara sempurna. Euridis masih membentuk kabut halus berpendar karena kesucian dirinya semasa hidup. Namun wajahnya menampilkan ketakutan. Euridis tahu, dengan tatapan Orpheus maka kerinduannya tertebus untuk sementara, namun dengan itu ia sekaligus kehilangan Orpheus untuk selamanya.

Orpheus masih terpana, jiwa Euridis perlahan-lahan menghilang bersamaan dengan sapuan matahari yang masuk melalui celah gerbang. Orpheus kehilangan Euridis. Dunia berhenti menyinarinya. Orpheus harus menerima kenyataan bahwa ia tidak dapat kembali merengguh Euridis kembali. Hutan yang biasanya hangat dengan nyanyian Orpheus kini dingin dalam keheningan. Tragedi ini membuat dunia bungkam untuk sementara. Semua peri dan dewa-dewi yang turut berduka berusaha menghibur Orpehus dengan mengatakan bahwa Euridis akan ada bersamanya dalam segala hal di permukaan bumi ini. Keindahan Euridis disamakan dengan tetesan embun, kabut pagi, sinar purnama dan suara manja anak rusa. Orpheus tersesat dalam kesedihan perlahan pulih kembali. Dengan satu dua dentingan liranya ia kembali menghibur bunga-bunga hutan. Butuh waktu yang cukup lama untuk Orpheus merangkai secara lengkap satu rangkaian puji-pujian untuk cintanya. Seluruh dunia terhibur kembali, Orpheus berhasil menggambarkan afeksinya atas Euridis kepada seluruh dunia. Hati yang keras pun melembut ketika mendengar nyanyian Orpheus. Tak terkecuali para dewa, peri, faun dan manusia merasa bahwa nada-nada yang dilantunkan oleh Orpheus lebih indah dari sebelumnya. Kecuali Euridis – tidak ada yang mengetahui keadaan Euridis. Akankah ia turut terhibur atau kembali menunggu dalam keheningan dunia orang mati.

Kisah cinta ini jika dilihat secara parsial menunjukkan kesejatian cinta Orpheus yang dapat dirasakan secara universal. Namun terdapat hubungan yang belum terselesaikan disana. Sepintas, dapat kita amati bahwa Orpheus merupakan subjek utama dalam cerita. Euridis hanyalah salah satu faktor yang semakin menampakkan kekuatan karakter Orpheus. Dalam mengkomentari kisah ini, Zizek memnculkan celetukkan mengenai apa yang menyebabkan Orpheus menoleh. Ia juga mengandaikan bahwa Euridis sengaja menarik perhatian Orpheus di dekat gerbang Hades agar suaminya menoleh dan mengagalkan prasyarat Pluto. Sebagaimana seluruh mitos, kita dapat memberikan ratusan pengandaian untuk mempelajari pola pikir masyarakat yang mengkonstruksi kisah tersebut.

Namun satu hal yang dapat dengan jelas diamati adalah bagaimana proses Orpheus menyembuhkan dirinya. Tanpa mengetahui bagaimana keadaan Euridis (yang dapat kita tempatkan sementara sebagai faktor satu) setelah kedatangannya ke Hades, Orpheus dengan nasehat dan penghiburan para dewa – dewi dan peri (yang dapat kita tempatkan sebagai faktor dua ) justru dapat menjadi ‘lebih’ dibandingkan Orpheus sebelumnya. Dalam pemilahan ini dapat kita pertanyakan kembali manakah faktor utama yang membuat Orpheus menjadi Orpheus yang baru. Faktor satu dan dua (mereka tidak berurutan, ada karena memiliki peran yang sama dalam merubah subjek utama) seakan tidak berhubungan dan memiliki efek yang berbeda. Hilangnya Euridis membuat Orpheus sedih, Hiburan yang lain membuat Orpheus bangkit, kembali lagi rasa sedih Orpheus membuat citarasanya dalam bermusik semakin indah dan mendalam.

Kembali ke tragedy Orpheus. Dalam hal ini Orpheus sebagai subjek telah melakukan proses objektivasi Euridis dengan dukungan para dewa –dewi dan peri. Keberadaan Euridis digantikan oleh keindahan dunia namun masih dengan penekanan tragedi ‘kehilangan’ yang keluar dalam bentuk puji-pujian. Euridis, tepat seperti gambaran para pendongeng, telah secara mutlak terabaikan. Lepas dari pengandaian Zizek tentang alasan Sang Dewa Musik menoleh di ujung gerbang Hades. Yang lain, para dewa-dewi dan peri juga beralih menjadi subjek yang mendorong Orpheus mengobjektivasikan Euridis.

Gambaran kisah kasih ini mirip sekali dengan apa yang dilakukan oleh banyak orang pada masa ini. Manusia mencari tragedy untuk mendapatkan agony, dan selanjutnya menjadi pasio untuk mendorong mereka menghasilkan sesuatu. Hal ini tidak asing ditemukan di dunia kesenian. Pergerakan sosialpun menggunakan cara yang sama untuk mengembangkan diri. Pada beberapa kasus, kesadaran gerakan sosial bukan berdasarkan dari kesadaran atas hilangnya kesadaran itu sendiri (kesadaran atas keadilan, kebebasan, dll). Para aktivis gerakan sosial justru sering kali membius kesadaran diri dengan belas kasih imitasi. Pembesar-besaran kesedihan, playing victim, dan menjual penderitaan menjadi motor yang tiba-tiba efektif untuk mendorong para penggerak sosial yang ‘miskin kesadaran’ ini. Mereka bergerak secara impulsif dan tanpa mempertimbangkan klausa awal – atau sistem yang menaungi. Hanya bergerak karena rangsangan luar, tragedy, tanpa berpatok pada proses pendalaman terlebih dahulu.

Gerakan filantopi rawan dengan infiltrasi konsep kasih yang senada dengan kisah Orpheus. Suatu gerakan yang didasarkan oleh kasih pada dasarnya dapat secara efektif melakukan perubahan sebatas kasih itu muncul dari dalam diri sendiri. Pengobjektivasian ‘korban’  – seperti Euridis- berbahaya bagi gerakan sosial baru karena akan menjatuhkan gerakan kepada target gerakan saja, bukan pada perubahan secara holistik.

Ambil saja contoh lain yang lebih ekstrem, misalnya pada para seniman yang menjual tiket konsernya seharga tiga ratus ribu rupiah. Di tengah lantunan lagu-lagu cinta dan patah hati, ia menyelipkan lagu perjuangan dan prosa-prosa mengenai rakyat miskin, lapar dan tertindas. Estetika Paradoks yang megah ini dapat menggugah kasih para penikmat – seperti para dewa-dewi, peri dan faun – untuk sementara. Orpheus baru ini menjadi sangat dikenal dan dipuja karena menjual kesedihan dan belas kasih. Menyerupai juga kisah “The Bang-bang Club”, para wartawan yang mengabadikan kematian seorang anak di Afrika dan mendapatkan penghargaan tingkat dunia karenanya.

Orpheus-Orpheus baru lahir dari tragedy. Melupakan Euridis yang tetap mendekam dalam kekelaman abadi. Zizek dalam hal ini mencoba membantu kita untuk kembali memikirkan akar dari hal yang sedang kita lakukan. Apakah memang kesadaran yang melandasi gerakan kita, atau rangsangan tragedy semata. Bahaya objektivasi telah laten dan mengakar dalam kehidupan pribadi, sosial bahkan estetika. Pembiaran hanya akan membuat Euridis-Euridis semakin terlupakan. Sementara itu para Orpheus baru terus mabuk kepayang dalam rangsangan kasih yang ambigu.

*Penulis: Dika Sri Pandanari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here