Kepergian

0
117

Tubuhku merinding, dinginnya udara tidak terbendung oleh baju monyet pinjaman yang kukenakan. Mungkin akan lebih baik bila aku bangun dan menghangatkan badan dengan satu cangkir air hangat. Hanya itu yang bisa ku bayangkan. Lagipula sebelum semua penghuni wisma bangun, akupun sudah harus bangun dan bersiap. Sebagai tamu dari negara yang jauh, akan sangat baik bila kesan pertama tidak mengganggu penilaian penghuni disini. Tubuh semua konfrater disini lebih besar daripada tubuhku, apa yang mereka konsumsi melebihi rata-rata orang Indonesia pada umumnya. Entah sekedar bir hangat atau daging merah mereka lalap bagaikan teh dan kemangi di desa. Semua menyarankanku utuk melakukan hal yang sama agar tubuhku bertahan di negara yang dingin ini. Usaha yang bagus, namun badanku tetap menolak.

Satu-satunya yang dapat membuatku tetap hangat adalah kenangan dan harapanku tentang kampung halaman. Entah mereka merindukanku atau tidak, namun kurasa keluarga dan teman-temanku akan senang bila aku kembali pulang. Aku ingin hari ujian akhirku segera datang, meski sudah berada di awal pekan depan.  Menjadi pelajar rantau di negeri orang tidak semudah yang dibicarakan orang pada umumnya. Mereka yang memperlajari ekonomi atau matematika mungkin sadar bahwa mereka dapat membawa ilmu baru bagi Indonesia. Namun tidak denganku, ilmu yang kupelajari tidak dapat diterima langsung, proses pemaknaannya pun sulit dipahami, apalagi diterima dengan rasio dasar belaka.

Filsafat dan teolog bukan subjek yang umum dipelajari, apalagi bagi Indonesia yang kini tengah bergejolak. Apa yang dikabarkan melalui surat kabar seminngu sekali tentang Indonesia membuatku gusar. Mahasiswa disana tengah menggalang aksi solidaritas, tengah mengencangkan genggaman tangan melawan apa yang mereka katakan sebagai diktator. Tahun ini, semua kawanku sedang berlomba-lomba menghimpun pendapat bagi masyarakat umum. Mereka yang belajar filsafat mengutarakan kesetaraan, yang mempelajari teologi menyuarkan pembebasan, para pelajar sosiologi mengumandangkan keadilan dan kebebasan. Indonesia tengah bergerak, sementara aku hanya berada ribuan kilometer dari tempatku berasal, kedinginan dan menunggu kabar.

Setiap kabar tentang Indonesia hanya semakin merisaukanku, “Apa yang sebenarnya teman-temanku hadapi saat ini?” Seorang jendral dinyatakan sebagai diktator, sementara sirkumstansinya adalah jaring-jaring koruptor. Kehidupan intelektual kami memang penuh represi di Indonesia, namun kami tetap kenyang karena padi dan umbi terus ditanam. Surat terakhir dari temanku di Malang mengatakan bahwa telah terjadi kerusuhan dan penembakan terhadap beberapa mahasiswa di Jakarta, saat itupun ia bergegas ke Yogyakarta untuk bertemu dengan seorang ‘kawan’ demi membendung kekerasan terhadap para pelajar. Apa yang menjadi kekhawatiranku benar-benar mengganggu, “Bagaimana kabar ibu bapakku? Apa yang sedang dilakukan adikku di kampusnya? Apakah ia juga ikut bergerak seperti kawanku yang lainnya?”.

Setelah meneguk air hangat terakhirku, seorang penunggu asrama mendatangiku dengan membawa sepucuk surat. “Lettera da Indonesia.” Sontak aku berdiri dan meraihnya, sebuah surat dari Lukman.

Solom damai bagimu, saudaraku. Bagaimana kabarmu disana? Apakah studimu lancar-lancar saja? Aku sedang berada di Solo saat ini, keadaan tidak begitu baik. Banyak rumah yang terbakar. Aku kemari untuk mendatangi seorang kawan, orang yang berbeda dengan yang baru saja kutemui di Yogyakarta. Namanya Heru, ia seorang mahasiswa antropologi yang kebetulan bersekolah dengan adikmu. Aku dan Heru merencanakan penggalangan massa dan akan berangkat ke Jakarta dalam waktu dekat ini.

Oh ya, aku juga bertemu adikmu, ia juga menyatakan bahwa ia akan berangkat ke Jakarta bersama kami. Aku belum memberitahunya apapun namun tampaknya ia telah mengetahui banyak hal. Ia pandai seperti mas-nya.  Orang tuamu baik-baik saja walaupun kerusushan tidak terhidarkan disini, kini janjiku untuk mengabarkan kondisi keluargamu telah lunas. Aku mengirim surat ini untuk memohon doamu untuk keberangkatanku. Masyarakat Indonesia tengah mengalami perubahan besar, kini semua ingin unjuk bicara. Andai kamu bisa pergi bersamaku ke Jakarta, kamu akan melihat pesta demokrasi pertama di Indonesia setelah tiga dekade kita berdiam diri.

Frans, selain doa keselamatan darimu, aku juga memohon kepadamu untuk mencari pemahaman lebih lanjut atas ide-ide demokrasi. Walau untuk saat ini kurang penting, namun setelah pesta usai, masyarakat harus benar-benar memiliki pemahaman yang tepat tentang demokrasi.

Semoga Tuhan selalui menyertaimu dalam langkah dan proses belajarmu, kumohon bawalah buah tangan intelektual yang dapat mengenyangkan kami disini esok hari. Solom. B. Lukman.

Solo? Kerusuhan? Jakarta? Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Lukman menggambarkan satu pesta demokrasi besar, sementara ia tetap memintaku untuk memberi penjelasan lanjut tentang konsep demokrasi. Lantas apa yang hendak mereka lakukan? Pikiranku semakin kacau hari demi hari. Aku berusaha mengirim surat pada ibuku, dan Lukman. Namun mungkin percuma karena ia sedang melakukan perjalanan, tidak berada di asrama mahasiswanya seperti biasa. Bagaimana adikku yang pasif bisa ikut terlibat? Seakan Indonesia dipenuhi orang-orang yang tidak puas. Yang kutahu dari Indonesia adalah orang-orang yang terlelap kekenyangan, hanya sedikit kaum yang resah.

Ujianku telah berlalu, seminggu tak kudengar kabar tentang Indonesia. Auk tetap melakukan apa yang Lukman minta walau dengan hati bertanya-tanya. Akhirnya berita internasional menyatakan kemunduran Presiden karena gugatan dari masyarakatnya. Demokrasi, Reformasi.. Pikiranku kalut, apa yang Lukman, adikku dan kawan-kawannya lakukan berbuah. Sementara mahasiswa Indonesia disini hanya segelintir namun mereka melakukan unjuk rasa yang senada. Aku hanya dapat berdoa agar semua baik-baik saja. Untuk masyarakat, untuk negara, mereka merupakan pahlawan dalam memperjuangkan kebebasan dan tekanan sosial. Aku tidak sabar menunggu saat kepulangan.

Sengat matahari dan suhu udara Solo kembali menghangatkanku. Sebelum bertemu dengan petinggi institusi yang mengirimku studi, aku ingin memeluk ibu bapakku, menggosok rambut ikal adikku. “Bu, anakmu pulang..”. Senyumku berbaur dengan ide akan kegembiraan mereka. Namun yang terjadi justru hamburan tangis ibu. Mungkin saking rindunya, pikirku besar kepala. Duduk di bangku tua di ruang depan, bapak menghisap kretek terakhirnya, matanya memancarkan kekhawatiran. “Bukan sambutan yang kuharapkan.” Setelah meletakkan semua bawaanku, aku ikut menikmati kretek bersama bapak, ibu masih tersedu. “Kami mengharapkan kehadiranmu lebih cepat, nak.” Lalu bapak melanjutkannya dengan cerita, kronologi saat Lukman datang, kepergian adikku bersamanya, siaran-siaran di televisi, berita di media cetak, letusan-letusan di malam hari. Pertokoan yang terbakar, hingga ketidakpulangan adikku dan Lukman.

Hatiku berdegup kencang, bukan karena efek tembakau, namun karena kisah yang bapak haturkan. Adikku tidak pulang, sementara teman-temannya sudah kembali ke Solo. Hingga kini tidak ada kabar tentang mereka berdua. Aku berusaha mencari keterangan tentang Heru, mahasiswa antropologi itu. Namun tetap tak kutemukan jejaknya. Jejak yang tersisa tentang mereka hanya demokrasi bagi Indonesia, demokrasi yang Lukman sendiri masih belum jelas arahnya. Kini mereka dianggap pahlawan bagi kawan-kawan sejawatnya. Bagi mahasiswa, mereka adalah pejuang kemerdekaan yang baru. Bagiku dan keluarga, mereka adalah rantai yang hilang, yang melumpuhkan kegembiraan kami. Entah di mana mereka berdua sekarang, mereka bukan orang yang akan meninggalkan kami demi keinginan pribadi. Mereka, menjadi martir bagi sebagian Indonesia. Namun menjadi bayangan yang mengisi kekosongan hati kami.

Lukman dan adikku menyisakan luka dengan kepergiannya, namun menyisakan harapan bagi bangsanya. Kini yang dapat kulakukan adalah terus belajar, mengamati pergerakan negaraku, melakukan yang terbaik untuknya. Akankah pengorbanan adikku dan Lukman membuahkan pembebasan? Ataukah hanya kelaparan dengan cara yang berbeda? Akankah teman-teman mereka terus mengenang, atau akan mengkhianati semangat mereka dahulu. Indonesia berdiri dari jiwa-jiwa yang murni, yang menyuarakan kebebasan dari segala tekanan. Namun tekanan selalu hadir dengan berbagai bentuk. Aku rindu jiwa adikku, rindu jiwa Lukman. Tekanan kini justru hadir dari tubuh kami sendiri, dari sikap kami yang terlalu terbuka dan berani meniadakan batas. Yang mengatasnamakan eksistensi pribadi sebagai kebenaran mutlak, ultra-subjektifisme, akut. Kami saling menindas, setelah raksasa besar hilang, leprechaun[1] bermunculan. Aku membutuhkan Lukman, adikku, dan kawan-kawannya. Di mana akan kutemui mereka saat ini?

*Penulis: Hilman Yahya

[1] Peri menyeramkan berukuran kecil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here