Kebaikan yang Diglorifikasi Secara Personal Kadang Tak Menyentuh Akar Masalah | Opini: Musyarrafah S

0
60

Gerakan sosial tidak pernah netral terhadap kenyataan yang melahirkannya. Ketika sebuah gerakan memilih persoalan yang hendak diperhatikan, pada saat yang sama ia sedang menentukan apa yang dianggap penting, siapa yang perlu didengar, dan persoalan mana yang dibiarkan berada di luar perhatian.

Mao Zedong pernah menggunakan perumpamaan bahwa rakyat adalah air dan gerakan sosial adalah ikan yang berenang di dalamnya. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa gerakan tidak pernah berdiri sendiri. Ia hidup dari persoalan masyarakat, dari kebutuhan yang nyata, dan dari hubungan yang terus-menerus dengan kehidupan sosial. Ini dapat menjadi cara untuk melihat kembali bagaimana sebuah gerakan menentukan arah perhatiannya. Pada dasarnya memang tidak semua persoalan memiliki tingkat urgensi yang sama. Ada persoalan yang membutuhkan kerja panjang, keberanian politik, dan kesediaan berhadapan dengan kepentingan yang tidak sederhana. Ada pula persoalan yang lebih mudah diangkat karena relatif aman untuk dibicarakan. Pilihan terhadap isu, bukan sekadar persoalan teknis kegiatan. Ia memperlihatkan sejauh mana sebuah gerakan bersedia mengikuti persoalan yang menjadi alasan keberadaannya.

Sebenarnya agak ganjil ketika seseorang atau sebuah komunitas menyatakan diri peduli terhadap suatu hal atau konsentrasi pada satu isu, tetapi kepedulian itu berhenti pada wilayah-wilayah tertentu yang tidak banyak mengusik kenyamanan. Bukan maksudnya setiap gerakan harus mengambil semua persoalan sekaligus, melainkan karena kita tahu ada perbedaan antara keterbatasan kapasitas dan kesengajaan untuk terus menghindari persoalan yang lebih mendesak. Kira-kira, apa istilah yang lebih tepat? Kesadaran di balik pilihan tersebut? Nah, kesadaran. Sejauh mana seseorang menyadari bahwa di hadapannya terdapat persoalan yang jauh lebih serius, tetapi tetap memilih untuk tidak menyentuhnya? Sejauh mana citra sebagai orang atau komunitas yang peduli telah menjadi sesuatu yang lebih penting daripada persoalan yang semula hendak diperjuangkan? Tidak mudah mengetahui apa yang sesungguhnya ada di kepala seseorang. Motif tidak selalu dapat dibaca dari tindakan. Namun, pola pilihan isu tetap dapat diperhatikan. Ketika perhatian secara konsisten jatuh pada hal-hal yang mudah diterima, sementara persoalan yang lebih mendesak dan lebih berisiko terus berada di luar jangkauan, sulit untuk tidak mempertanyakan arah kepedulian tersebut.

Memang ada kerja-kerja yang mudah dikenali sebagai kebaikan. Ada pula kerja yang menuntut keberanian untuk berhadapan dengan persoalan yang tidak menghasilkan citra serupa. Yang kedua mungkin tidak memberi ruang yang sama bagi seseorang untuk tampil sebagai pelaku kebaikan. Bahkan, dalam situasi tertentu, ia dapat membuat seseorang berhadapan dengan kritik, kehilangan kenyamanan, atau tidak lagi memperoleh tepuk tangan dari lingkungan terdekatnya. Mungkin justru karena itu kerja semacam ini sering lebih mudah diabaikan.

Tidak semua keberpihakan menghasilkan narasi yang sederhana tentang siapa yang baik dan siapa yang harus diapresiasi. Ada hal-hal yang jauh lebih mendesak untuk dibicarakan, tetapi justru memilih langkah mundur karena membawa gerakan harus berhadapan dengan kepentingan, kebijakan, atau kekuasaan tertentu. Persoalan semacam itu membutuhkan lebih dari sekadar kesediaan untuk hadir. Ia menuntut keberanian untuk bertahan dalam pembicaraan yang panjang, membaca persoalan secara lebih utuh, dan menerima setiap kemungkinan. Yang lebih menyedihkan adalah ketika persoalan yang paling dekat dengan ancaman terhadap ruang hidupnya dan masyarakatnya justru tidak memperoleh perhatian yang sepadan. Bukan karena persoalan itu tidak terlihat, tetapi karena tidak banyak yang dapat dipertontonkan. Ia tidak menghasilkan kegiatan yang mudah dipotret sebagai aksi.

Gerakan sosial tidak harus selalu memilih jalan yang paling sulit. Tetapi gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap suatu hal semestinya tidak menjadikan keamanan citra sebagai batas bagi keberpihakannya. Jika ada ancaman yang nyata terhadap ruang hidup masyarakat, tetapi perhatian justru terus diarahkan kepada persoalan yang lebih nyaman dan simbolik, perlu disadari lagi bahwa masyarakat bukan sekadar latar bagi kerja-kerja sosial. Ikan tidak menentukan sendiri keberadaan air yang menjadi tempatnya berenang. Ia bergantung pada kondisi air, bergerak mengikuti arus, menemukan ruang hidup dari keseluruhan lingkungan yang menopangnya. Dengan cara yang sama, gerakan sosial kehilangan pijakannya ketika persoalan masyarakat hanya ditempatkan sebagai dekorasi bagi kegiatan yang telah ditentukan sebelumnya. Masyarakat kemudian tidak lagi menjadi sumber pertanyaan, melainkan sekadar medan tempat sebuah agenda dijalankan.

Perubahan posisi semacam ini tampak kecil, tetapi konsekuensinya tidak sederhana. Ketika gerakan lebih dahulu memiliki bentuk kegiatan, kemudian mencari persoalan yang sesuai untuk mengisinya, hubungan antara gerakan dan realitas sosial perlahan terbalik. Persoalan tidak lagi menentukan bentuk tindakan. Sebaliknya, realitas dipilih sejauh ia dapat menyesuaikan diri dengan bentuk tindakan yang telah tersedia. Pada tahap tertentu, yang dipertahankan bukan lagi hubungan dengan persoalan masyarakat, melainkan keberlangsungan kegiatan itu sendiri.

Persoalan gerakan sosial bukan hanya tentang keberpihakan, tetapi juga tentang politik perhatian, apa yang dipilih untuk dilihat, apa yang terus dibicarakan, dan apa yang dibiarkan berada di luar bingkai perhatian. Sebuah gerakan dapat sangat aktif dalam merespons persoalan tertentu, tetapi pada saat yang sama mengalami penyempitan medan pandang. Perhatian telah terbentuk sedemikian rupa sehingga hanya isu tertentu yang terbaca sebagai sesuatu yang layak ditindaklanjuti. Keaktifan tidak selalu berbanding lurus dengan kepekaan. Kehilangan kepekaan terhadap perubahan konteks semacam itu mudah berubah menjadi rutinitas moral. Kategori “baik” mulai menggantikan pertanyaan mengenai relevansi. Ini dapat menciptakan ilusi perubahan. Ada gerak, ada partisipasi, ada dokumentasi, ada hasil yang dapat ditunjukkan. Namun, seluruh indikator tersebut terutama membuktikan bahwa sebuah aktivitas berlangsung, bukan bahwa realitas yang melatarbelakanginya mengalami perubahan.

Gerakan yang masih hidup secara intelektual tidak sekadar mempertahankan agenda, ia mampu membiarkan realitas memengaruhi agenda. Gerakan yang hidup dari sekadar keberlangsungan organisasi bukan terutama intensitas aktivitasnya, melainkan hubungan dialektis antara tindakan dan kenyataan. Gerakan dapat tetap berjalan secara organisatoris tetapi kehilangan hubungan epistemiknya dengan masyarakat. Ada kemungkinan ketika sebuah agenda telah terlalu lama menjadi sumber identitas, legitimasi, dan visibilitas, keberlanjutan agenda itu secara perlahan berubah menjadi tujuan yang harus dipertahankan. Gerakan tidak lagi semata-mata hadir karena terdapat persoalan yang menuntut kehadirannya, tetapi persoalan itu justru diperlukan agar kehadiran gerakan tetap memiliki alasan.

Secara struktural selalu terdapat kemungkinan bahwa institusi, komunitas, bahkan figur tertentu menjadi terlalu terikat pada agenda yang membuat eksistensinya terus terbaca, sehingga perubahan konteks yang seharusnya menggeser agenda justru diperlakukan sebagai gangguan terhadap kesinambungan dirinya. Isu yang lebih mendesak mungkin terlalu dekat dengan relasi kuasa, terlalu kompleks untuk disederhanakan menjadi kegiatan, atau terlalu berisiko untuk menghasilkan citra kepedulian yang selama ini telah terbentuk. Mengetahui bahwa suatu kerusakan sedang berlangsung, tetapi terus mempertahankan horizon perhatian pada persoalan yang lebih aman, menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai realitas belum tentu bertransformasi menjadi kesediaan untuk mengubah orientasi tindakan. Ada jarak antara mengetahui sesuatu dan membiarkan pengetahuan itu mengganggu agendanya yang sudah mapan.

Persoalan gerakan sosial terletak pada kapasitasnya membangun hierarki perhatian berdasarkan pembacaan yang sadar terhadap kenyataan. Tidak semua persoalan memiliki bobot historis, material, dan sosial yang sama. Karena itu, menentukan apa yang perlu didahulukan bukan sekadar persoalan preferensi agenda, melainkan kerja intelektual untuk membaca kontradiksi, mengenali relasi kuasa, dan memahami akibat yang sedang berlangsung di dalam kehidupan masyarakat. Perhatian yang serius tidak berhenti pada apa yang paling mudah dihadirkan ke ruang publik, tetapi bergerak menuju apa yang secara substantif paling membutuhkan intervensi.

——

*penulis adalah peneliti Oase Institute dan kontributor gubuk tulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here