Laki-laki dalam Usaha Melawan Budaya Patriarki

0
101

Melibatkan laki-laki dalam usaha melawan budaya partiarki bagi saya adalah keharusan. Menyadarkan bahwa perempuan pada dasarnya setara dengan laki-laki tanpa menyadarkan pihak laki-laki bagi saya adalah perjuangan yang sia sia bagi tercapainya kesetaraan gender. Dan jika diteruskan yang ada malah hanya menimbulkan pertentangan tajam antara laki-laki dan perempuan, karena laki-laki yang tidak mempunyai kesadaran kesetaraan gender pada akhirnya menganggap perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender sebgai usaha bodoh dan melawan kodrat, bahkan bisa-bisa menganggap para perempuan feminis adalah pembenci laki-laki.

Pada kenyataanya khususnya di Indonesia yang lekat dengan budaya patriarki, disadari atau tidak, laki-laki setinggi apapun pendidikannya  pun hampir sedikit yang mempunyai kesadaran di dalam diri mereka bahwa mereka laki-laki bukanlah pemimpin dari perempuan, malahan kebanyakan dari mereka benar benar tidak peduli dengan konsep apa itu kesataraan gender. Laki-laki masih terpaku kepada kepercayaan lama hasil turun temurun yang diwariskan dari orang tuanya yang notabene besar dari budaya patriarki yang menganggap bahwa laki-laki memang ditakdirkan untuk diatas perempuan. Dan parahnya lagi kepercayaan itu juga diperkuat dengan dogma-dogma agama.

Saya sendiri sebagai laki-laki sadar betul bahwasanya menyadarkan laki-laki untuk menganggap dirinya tidak lebih tinggi dari perempuan pun sangat sulit karena pekerjaan inipun juga upaya melawan ego dari laki-laki sendiri dan ketidakmauan untuk membuka pikirannya. Ini terbukti ketika saya ngobrol di warung kopi dengan kebanyakan teman teman saya yang sebenarnya mempunyai akses pendidikan yang baik, dan  ketika saya berbicara tentang feminisme, kalian tahu tanggapan kebanyakan mereka seperti  apa? “Perempuan tidak mungkin setara, di kitab suci jelas laki-laki adalah pempimpin bagi perempuan.”, ” Kalau perempuan setara apa mau mereka perempuan yg memperjuangkan feminisme itu bekerja jadi tukang angkot?” Perempuan itu labil, tidak mungkin kalau tidak dibimbing oleh laki-laki, dan dalam rumah tangga tidak mungkin ada dua pemimpin yang ada nanti malah bentrok jika dua duanya memimpin.” Jawaban-jawaban yang ada justru menunjukan misogini-nya.

Saya pun akan membalas satu persatu tanggapan dari mereka, tapi ketika saya sudah mentok malas, sayapun memakluminya. Bukan, bukan karena saya menyerah, tapi coba bayangkan saja, laki-laki yang keseharianya hanya untuk pekerjaan dan mungkin pendidikan yang jauh dari isu isu sosial, lalu sehari harinya bergaul dengan  orang orang yang dibesarkan dalam budaya patriarki dan tidak mempunyai keiniginan untuk membaca membaca sedikit buku tentang konsep gender atau paling tidak, mau untuk berdiskusi dengan perempuan tentang hubungan sosial, apa mungkin mempunyai pemikiran dan mau terbuka dengan apa itu kesetaraan gender dan dampak butuk dari budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial.

Di sisi lain, di Indonesia sendiri sudah mulai banyak bermunculan komunitas perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender. Mereka berusaha untuk menyadarkan perempuan perempuan supaya ikut andil dalam melawan ketidakadilan, seperti menuntut pemerintah untuk mengadakan infrastruktur hukum yang berkeadilan gender, menuntut pemerintah dan masyarakan memenuhi hak kesehatan perempuan dan menghapus kekerasan dalam perempuan, melindungi lingkungan hidup dan pekerja perempuan, hingga menununtut pemerintah dan partai politik meningkatkan keterwakilan dan keterilbatan perempuan di bidang politik. Ini sebenarnya adalah langkah awal yang cukup baik dalam usaha melawan budaya patriarki, tetapi meskipun begitu banyak dari perempuan sendiri yang justru ikut menyinyiri para perempuan yang memperjuangkan kesetaraan. Jika kalian perempuan, coba saja tanyakan kepada teman anda sesama perempuan, berapa banyak dari teman anda yang ikut mendukung kesetaraan gender dan menolaknya, satu diantaranya mungkin akan memiliki jawaban seperti ini, “ Mau bagaimanapun, setinggi apapun perempuan tidak mungkin setara dengan laki-laki.”

Kesetaraan gender seharusnya bukanlah sebuah konsep yang rumit, dan seharusnya adalah sebuah keniscayaan. Dan kita semua wajib untuk mengupayakan terciptanya kesetaraan gender ini, tetapi seperti yang kita lihat sendiri di sekeliling kita, budaya patriarki memang sudah merasuk dan tertancap cukup kuat di diri kita. Banyak dari para perempuan sendiri ada yang malah nyinyir dan bahkan membenci perempuan lainya yang memperjuangkan keadilan bagi perempuan, tidak merasa bahwa sebenarnya perempuan selama ini tertindas, dan juga ikut melanggengkan budaya patriarki. Laki-laki juga sama, masih banyak dari laki-laki tidak mau repot-repot ikut memperjuangkan keadilan untuk perempuan, karena seperti yang kita tahu budaya patriarki yang menguntungkan posisi laki-laki membuat laki-laki sangat acuh terhadap keadilan bagi perempuan.

Menurut hemat saya dalam upaya melawan budaya patriarki ini, kita tidak bisa hanya mengandalkan pihak perempuan dalam memperjuangkan keadilan, karena kita tahu dalam melawan buadaya patriarki pun, masih banyak dari perempuan yang tidak ikut mendukung dalam melawan upaya menciptakan kesetaraan gender, masih banyak perempuan yang ikut menyinyiri perempuan yang berpakaian minim, berdandan menor, bahkan para perempuan sendiri masih banyak yang masih mempunyai pandangan bahwasanya jika seorang perempuan dengan bepakaian minim dan berjalan sendirian di malam hari lalu ada kejadian pelecehan seksual  maka itu wajar saja dan mereka perempuan tersebut justu menyalahkan perempuan yang jalan sendirian, bukan menyalahakan otak mesum para pelaku pelecahan. Contoh kasusnya bukan hanya itu saja, cukup mudah jika kita ingin tahu bagaimana banyak dari perempuan yang masih terjebak dalam budaya patriarki. Lihat saja ketika para perempuan melihat perempuan lainya yang sedang asik merokok, menggunakan pakaian mini di malam hari, apa pandangan mereka tadi? Nakal, padahal apa salahnya, wong itu tubuh mereka. Sangat banyak stereotip yang melekat pada perempuan dan justru dilanggengkan oleh perempuan itu sendiri.

Bagi saya, tugas kita sekarang baik laki-laki dan perempuan dalam upaya menciptakan kesetaraan gender menurut saya yang paling baik adalah menyadari dampak buruk budaya patriarki terlebih dahulu yang dimulai dari kita sendiri dengan cara membuka pikiran dengan mulai banyak membaca, entah dari buku atau artikel artikel di internet tentang bagaimana bahaya budaya patriarki yang bukan hanya berdampak buruk bagi keadilan perempuan tetapi bagi anak anak atau adik adik kita sendiri, seperti penyebab tawuran antar pelajar, hingga pembunuhan,  tetapi dampak buruk patriarki yang ini sangat jarang dibahas, padahal patriarki ikut andil dan memiliki efek buruk yang sangat destruktif untuk laki-laki terutama dari segi psikologis, sehingga memaksa laki-laki untuk menjadi makhluk yang agresif dan menyukai kekerasan. Bukan hanya itu saja budaya patriarki juga memberikan hak kepada laki-laki untuk mempunyai otoritas terhadap tubuh perempuan hingga membuat laki-laki berkeyakinan bahwa untuk mengatur bagaimana perempuan berpakaian itu juga urusan laki-laki, dan jika perempuan berpakaian atau berdandan yang tidak sesuai dengan pikiran laki-laki, laki-laki berhak untuk catcalling , atau bahkan melecehkan tubuh perempuan entah itu bentuk verbal maupun non-verbal dan seperti yang kita tahu penyebab kekerasan dalam rumah tidak lain merupakan salah satu akibat dari kontruksi budaya patriarki. Setelah kita mengetahui dampak buruk budaya patriarki cara terbaik selanjutnya adalah ikut menyosialisasikan tentang dampak buruk budaya patriarki dan menyadarkan kebanyak orang bahwasanya perempuan bukanlah subordinat dalam kehidupan manusia. Ini bisa dimulai dari lingkungan terdekat kita, seperti jika kita mempunyai adik atau anak laki-laki, kita biasakan untuk menyosialisasikan kepada anak atau adik adik kita laki-laki atau bahkan teman teman kita sendiri yang sudah dewasa untuk menghomati perempuan, tidak peduli bagaiamana perempuan itu berpakaian dan memberikan pengertian yang baik jika tubuh perempuan adalah otoritas perempuan tersebut, dan tubuh perempuan bukanlah urusan laki-laki.

Setelah itu kita bisa membiasakan untuk memahami dan menerapkan kesetaraan gender dalam hubungan, jika kita laki-laki dan mungkin sudah memiliki pasangan, kita bisa ikut melibatkan perempuan pasangan kita dalam mengambil keputusan dan membicarakan dengan baik-baik bahwasanya hubungan yang baik bukan hanya dipimpin satu orang dan satunya menuruti perintahnya, tetapi hubungan yang baik ketika memutuskan sesuatu hal adalah dari hasil kesepekatan bersama, dalam berumah tanggapun kita bisa membagi hak kewajiban sesuai kesepakatan bersama, beban mengurus anak dan rumah bukan hanya tugas istri tapi juga kalian sebagai suami.  Tidak ada salahnya jika kita ikut membantu membuatkan sarapan anak-anak kita, menyapu rumah, atau mencuci pakaian. Dan jika anda perempuan, anda bisa mulai menjelaskan bahwa anda tidak ingin dalam hubungan ini pasangan anda yang mendominasi dan dalam menjalani hubungan harus ada kesepakatan bersama, karena hubungan yang baik akan selalu menghargai pendapat pasanganya.  Atau mungkin bisa dimulai dengan hal hal kecil seperti ikut membayari makanan ketika kalian makan bareng, dan menjelaskan dengan baik bahwasanya membayari makanan ketika makan bareng bukan hanya tugas laki-laki tapi tanggungan bersama. Inipun bisa lanjut sampai ketika anda menjalin rumah tangga, tanggungan rumah tanggapun jika anda ingin dan sepakat dengan suami anda, anda bisa membantunya, dan anda bisa dengan baik mengatakan bahwa tanggungan rumah tangga bukan hanya kewajiban laki-laki tapi beban bersama.

Mencoba memberikan pemahaman tentang pentingnya kesetaan gender kepada seseoran kadang mungkin bisa menjadi pekerjaan sulit, karena terkadang kita melawan orang yang dibesarkan dalam budaya patriarki sejak kecil, tapi bukan berarti tidak bisa, pasti bisa. Jika mau secara sabar dan gigih dalam usaha mengupayakan kesetaraan gender.

Pada intinya untuk melawan budaya patriarki dan menciptakan kesetaraan gender haruslah dengan keyakinan penuh dan berusaha tanpa henti dengan dimulainya menyadari akan dampak buruh budaya patriarki, sampai menyosialisasikan tentang pemahaman kesetaraan gender yang dimulai dari orang terdekat kita terlebih dahulu. Dan laki-laki haruslah ikut andil dalam melawan budaya ini, karena bagaimanapun laki-laki lah yang selama ini mendapakan keistimewaan sehingga sangat sulit dan mustahil jika laki-laki tidak ikut andil dalam melawan budaya patriarki. Karena seperti yang kita tahu, dalam melawan budaya patriarkipun yang menindas perempuan, masih banyak perempuan juga yang tidak satu suara dan tidak ikut melawan ketidakadilan ini.

*Penulis: Fiki Mochamad A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here