Bu, sebelum hari itu tiba, saya sempat membayangkan Ibu—guru senior yang telah lebih dari tiga dekade mengabdikan diri dalam dunia pendidikan—akan mulai mengambil jarak dari institusi sekolah. Dalam bayangan saya yang naif dan pragmatis, masa menjelang pensiun adalah masa istirahat. Duduk di beranda rumah, membaca ulang buku-buku usang, menyiram tanaman, mengobrol dengan tetangga sambil menyesap air hangat, dan tetap menjaga gula darah yang makin tak patuh.
Tapi tidak demikian.
Di usia yang sebentar lagi enam puluh—usia yang oleh negara dianggap cukup untuk pensiun, namun oleh anak-anak didik Ibu masih dianggap usia “Masih semangat kok, Bu”—Ibu tetap datang ke sekolah. Dengan tubuh yang sudah lelah tetapi hati yang belum pernah benar-benar ingin pulang. Kadang bahkan lebih pagi dari guru-guru muda yang masih saja memeluk bantal saat jam pelajaran pertama.
Ibu tetap masuk kelas, tetap menyalakan hidup, bahkan ketika tubuh mulai redup. Orang bilang itu dedikasi. Tetapi bagi saya, diksi yang lebih tepat adalah cinta. Cinta terhadap sesuatu yang perlahan pudar dari ruang-ruang kelas kita. Cinta pada peluh yang tidak masuk daftar penilaian kinerja, pada cerita yang tak bisa dinilai dengan rubrik, dan pada wajah-wajah murid yang tak selalu mengerti tetapi tetap Ibu cintai.
Ingatan tentang Ibu menghampiri saya pagi ini. Saat kelas sunyi. Di depan, meja guru yang dahulu saya pandang seperti altar pengetahuan masih berdiri kokoh dan sakral. Saya mendadak rindu, Bu—rindu pada masa ketika buku ajar masih berlubang-lubang karena keterbatasan, tetapi guru selalu mampu mengisinya dengan kisah hidup. Kini, buku teks sempurna secara teknis, namun miskin kehidupan. Semua telah ditata dalam modul—instruksi kognitif yang diturunkan dari pusat kebijakan. Ada asesmen formatif, diagnostik, dan sumatif. Bahkan empati dijadwalkan: minggu ini temanya “Keberagaman”, minggu depan “Anti Perundungan.” Ironisnya, pada minggu anti perundungan itu pula, seorang siswa diminta mencukur rambut karena tidak sesuai norma institusional.
Sungguh, Bu, ini kontradiksi performatif yang terlalu absurd jika hanya disebut sebagai ironi.
Saya percaya, para penyusun kebijakan pendidikan kita adalah narator yang cakap menulis distopia. Dalam naskah mereka, guru adalah makhluk multitugas: diminta mendesain pembelajaran berdiferensiasi—yang menuntut pendekatan personal—namun tetap terikat sistem yang menyeragamkan. Kami diminta “berinovasi”, tapi tidak diberi ruang untuk menyimpang. Bahkan ketika murid lebih sibuk bertanya “Berapa nilainya?” daripada “Apa maknanya?”, kami tetap diminta menjaga suasana yang positif dan produktif.
Tekanan struktural itu nyata, Bu. Bayangkan, kami diminta mengajarkan teks narasi lewat cerpen di buku teks yang hambar secara estetika maupun tematik. Cerita yang seharusnya menggugah imajinasi justru menjadi instrumen evaluatif yang kering. Tak heran jika murid lebih memahami algoritma media sosial daripada struktur naratif dan memaknai teksnya. Tapi saya tidak menyalahkan mereka. Mereka adalah anak-anak zaman yang lebih menghargai konten lima belas detik daripada diskusi dua jam.
Kita sering menyebut mereka malas membaca. Tapi kapan terakhir kali kita beri mereka bacaan yang layak—bukan sekadar “sesuai kompetensi dasar”?
Bahkan karya sastra pun kini harus disampaikan secara kaku. Setiap kali saya ingin mengajak siswa merenung, menikmati diksi, atau menelusuri simbolisme, selalu ada suara yang muncul, “Itu tidak masuk asesmen sumatif.”
Lucu bukan, Bu?
Sistem hari ini tampak paradoksal. Di satu sisi mendorong kreativitas dan kemandirian, di sisi lain mengikat semua proses dalam indikator dan rubrik seragam. Sistem ini seolah berkata: silakan mencipta, tapi jangan menyimpang. Silakan berdiferensiasi, tapi semuanya harus sama. Kami seperti sedang menyusun puzzle negara yang lupa di mana meletakkan akal sehatnya. Pendidikan kini ibarat teka-teki silang yang tak menyediakan kunci jawaban.
Meski begitu…
Saya masih mencintai pekerjaan ini, Bu.
Saya tetap mengajar. Karena saya percaya, mengajar adalah bentuk sabar paling radikal, dengan membuat sebuah praktik sunyi yang menolak tunduk pada logika standar.
Katakan bahwa saya tidak salah, Bu. Jika saya ingin menciptakan ruang hangat—meski hanya dengan membacakan puisi, memutar lagu, atau bertanya sesuatu yang tak ada jawabannya di kunci jawaban.
Saya percaya pada tatapan murid yang jujur, saat mereka mengerti bukan karena menghafal, tapi karena merasa. Percakapan kecil di sela pelajaran seringkali membangkitkan rasa ingin tahu lebih dari seribu modul. Saya percaya bahwa warisan seorang guru bukanlah administrasi rapi, tapi jiwa-jiwa muda yang tumbuh dengan cinta pada pengetahuan. Mungkin mereka tak mengingat rubrik penilaian yang saya susun, tapi saya berharap, suatu hari, mereka akan mengenang satu kalimat yang saya ucapkan. Satu bait puisi yang membuat mereka terdiam. Satu pertanyaan yang membuat mereka pulang dengan pikiran yang gelisah namun hidup.
Kini Ibu telah pensiun. Tapi cinta Ibu tidak ikut pulang. Ia tinggal di sini—menetes pelan ke papan tulis, menyusup ke suara-suara guru yang masih mencoba menyalakan obor yang sama.
Saya masih percaya, Bu.
Musyarrafah S. adalah kontributor Gubuk Tulis, pegiat literasi, pengamat pendidikan, dan peneliti Oase Institute










