Limbah merupakan hasil keluaran dari proses produksi baik rumah tangga maupun industri. Indonesia dengan penduduk terbesar keempat di dunia diperkirakan menghasilkan sampah 175.000 ton/hari. Ditjen Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ir Sudirman MM dalam Seminar Nasional dengan tema “Peran Pengusaha Daur Ulang Plastik Menuju Indonesia Bebas Sampah Tahun 2020” pada tanggal 08 Oktober 2015 di Jakarta mengungkapkan bahwa prosentase sampah plastik yang dihasilkan sebanyak 14 % dan sampah organik sebanyak 60%. Banyaknya limbah organik yang belum termanfaatkan membuat lima mahasiwa FTP UB berinovasi memanfaatan limbah organik slurry biogas menjadi produk-produk yang bernilai ekonomis bagi masyarakat.

Slurry atau limbah biogas merupakan produk hasil proses pengolahan biogas  yang kaya kandungan unsur hara yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan makhluk hidup. Namun, sebagaimana limbah pada umumnya, kurangnya perhatian dan minimnya pengetahuan tentang pemanfaatan limbah sering menjadi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sosialisasi dan pelatihan pengolahan limbah harus gencar dikampanyekan agar penanganan limbah khususnya di Indonesia tidak lagi menjadi permasalahan di tengah kehidupan masyarakat.

sedang mengelolah limbah slurry

Melalui program pengabdian masyarakat yang bejudul Oasis (Optimalisasi slurry berbasis integrated farming) di dusun Bendrong desa Argosari Kecamatan Jabung Kabupaten Malang yang bertujuan untuk mewujudkan SDGs (sustainable development goals). Kelima mahasiswa FTP UB, Qoirul Irvandri (TIP 2014), Mohammad Safrizal (TEP 2014), Delia Mulyawati (TIP 2014), Devi Wahyu (TIP 2014) dan Fathillah Nur (TEP 2015) bekerjasama dengan remaja masjid setempat mengolah limbah slurry biogas dengan menjadi pakan cacing dan media hidup cacing, hasil keluaran dari budidaya cacing tersebut dapat menghasilkan kascing (kotoran cacing) yang dapat dijadikan sebagai kompos yang kaya akan unsur hara bagi tanaman. Selain itu, limbah slurry biogas juga diubah menjadi produk pupuk organik cair yang dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menambah penghasilan bagi masyarakat dusun Bendrong. Tidak hanya berhenti disitu, kelima mahasiswa ini juga melakukan pelatihan pengemasan, pembuatan logo produk dan pemasaran agar program ini berkelanjutan dan tidak berhenti hanya pada proses pengolahan limbah. Dusun Bendrong sendiri merupakan salah satu dusun yang terkena program sanitasi biogas oleh pemerintah, terdapat lebih dari 75 instalasi biogas yang saat ini masih aktif digunakan oleh warga dusun, dari banyaknya instalasi biogas tersebut mampu mengasilkan 400 sampai 600 kg/hari yang hanya dialirkan ke sungai .

Menurut Qoirul, “program Oasis ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi limbah slurry biogas yang belum termanfaatkan menjadi produk-produk yang bernilai jual, sehingga dapat menambah penghasilan bagi REMAS dan untuk kedepannya kami berharap limbah slurry biogas di sini tidak begitu saja dibuang ke sungai agar tidak mencemari lingkungan”, tandasnya. Selain itu, pihak masyarakat juga sangat mengapresiasi program penanganan limbah ini, melalui Samsul, selaku ketua remaja masjid. Ia berkata, “Saya sangat mengapresiasi kegitan mahasiswa yang bekerjasama dengan kami, ini merupakan hal baru yang sangat bermanfaat bagi kami dan msyarakat. Selain itu,  bisa menjadi pembelajaran bagi kami dan masyarakat dalam menangani limbah biogas yang telah lama tidak dimanfaatkan”.

Untuk kedepannya, program inovasi ini akan disosialisasikan ke desa-desa yang penduduknya kebanyakan beternak sapi, karena program ini memang layak diterapkan oleh petani sebagai upaya menerapkan proses pertanian berkelanjutan. Dengan program ini petani dapat menghemat biaya hidup dengan tidak lagi membeli gas untuk memasak dengan adanya instalasi biogas, mendapatkan tambahan penghasilan dari proses budidaya cacing, penjualan pupuk cair dan kompos kascig serta turut mengurangi pencemaran lingkungan.

 *Penulis: Qoirul Irvandri, dkk, 2017

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here