Suatu proses dapat dikatakan sebagai proses koevolusi apabila di dalam proses evolusi terjadi suatu interaksi antara lawan yang satu dengan yang lain, katakanlah seperti parasit dan inangnya. Suatu proses evolusi sendiri tidak dapat dikatakan sebagai koevolusi apabila terjadinya dikarenakan faktor perubahan iklim, namun hal tersebut dapat dikatakan sebagai koevolusi apabila disebabkan oleh sebuah interaksi antara dua pihak.

Koevolusi juga dapat dikatakan sebagai proses perubahan antara dua proses evolusi. Sederhananya, terdapat dua pihak yang saling berusaha untuk menekan seleksi kepada sesama. Proses berkembangnya Corona Virus Disease 19 yang sekarang ini sedang mewabah, memiliki sejarah tersendiri. Pada tahun 1960, virus ini diidentifikasi sebagai virus penyebab flu biasa. Namun virus ini mulai mendapat fokus perhatian sejak munculnya wabah SARS-Cov yang mana setelah diteliti ternyata ini disebabkan oleh bentuk baru dari virus corona yang awalnya didentifikasi sebagai virus penyebab flu.

Kemudian pada tahun 2012 muncul wabah virus MERS-Cov. Setelah diteliti pula memiliki relasi dengan wabah SARS yang mana sama-sama disebabkan oleh virus corona. Dari peristiwa tersebut kemudian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya virus corona ini dapat beradaptasi dan berubah menjadi virus yang dinilai ganas.

Seperti juga hasil penelitian dari Komputasi LIPIĀ  yang berjudul Peranan Bioinformatika Dalam Dunia Kedokteran mengatakan bahwa virus corona ini merupakan virus dari hasil mutasi. Dulu virus corona ini digolongkan sebagai virus yang hanya dapat menginfeksi hewan. Namun dikarenakan terdapat proses mutasi, maka virus tersebut dimungkinkan dapat menginfeksi manusia.

Virus yang mampu beradaptasi dikenal sebagai resistensi virus. Resistensi virus terhadap antivirus katakanlah berlaku hanya 3-4 minggu. Maka pada minggu ke 5 dan selanjutnya, antivirus tersebut tidak akan efektif lagi. Kemampuan yang dimiliki oleh virus terhadap antivirus tidak serta merta muncul karena dibuatnya antivirus dan interaksi antara virus dan antivirus tersebut. Namun kemampuan yang dimiliki oleh virus tersebut dinilai sudah terbentuk dari waktu yang cukup lama sebelum virus kontak langsung dengan antivirus.

Kemampuan ini merupakan bentuk adaptasi dari virus itu sendiri. Meningkatnya fenomena resistensi virus terhadap antivirus ini justru disebabkan karena semakin meluasnya akses penggunaan antivirus itu sendiri. Antivirus yang digunakan manusia bertujuan untuk menghambat, membatasi perkembangan virus, hingga mematikan virus. Maka dari itu perlu adanya konfirmasi dari dokter sebelum menggunakan antivirus ini.

Dengan adanya mutasi yang merupakan bagian dari proses evolusi ini, virus secara terus menerus akan mengembangkan sistem pertahanan diri. Begitu juga sistem imun atau sistem kekebalan tubuh manusia, seiring dengan masuknya berbagai macam jenis virus ke tubuh, maka tubuh akan memiliki semacam pengenalan informasi terhadap virus tersebut. Sehingga proses ini dapat memperkuat sistem kekebalan tubuhnya. Proses interaksi dan persaingan kekebalan antara virus dan manusia ini merupakan proses koevolusi.

Hal tersebut dinilai akan berlanjut dan tidak pernah berhenti. Sistem kekebalan satu pihak akan dibalas dengan sistem kekebalan pihak lawan. Proses adaptasi virus terhadap sistem kekebalan manusia yang mana terjadi ketika virus masuk ke dalam tubuh manusia yang kemudian menginfeksi manusia, virus kemudian mengumpulkan informasi terkait dengan sistem imun manusia. Setelah adanya informasi tersebut, virus tersebut akan melakukan mutasi sehingga dinilai dapat menjadi lebih mudah beraaptasi. Proses virus beradaptasi inilah yang membuat virus semakin tak terkalahkan dan mematikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa virus dan manusia saling membutuhkan untuk saling memperkuat daya tahan masing masing pihak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here