Komunitas Gubuk Tulis melaksanakan kegiatan Jagongan Gubuk untuk memperingati 29 tahun berpulangnya tokoh sastrawan,jurnalis dan politikus Indonesia Mahbub Djunaidi pada Rabu, 02 Oktober 2024. Gubuk Tulis mengadakan kegiatan Jagongan Gubuk dengan topik membaca Mahbub Djunaidi mengingat beliau merupakan salah satu tokoh yang cukup besar di Indonesia yang dikenal dengan menulis sindiran satir untuk pemerintah di Indonesia pada masa orde lama dan orde baru.

Jagongan mengenang Bung Mahbub ini cukup menarik karena kita ketahui bahwa banyak anak muda yang tidak tahu tokoh Mahbub Djunaidi sehingga adanya diskusi ini akan mampu membuka dan memperkenalkan ke anak muda karya-karya dan kontribusi dari Mahbub Djunaidi. Selain itu banyak tokoh-tokoh di Indonesia yang mengidolakan Mahbub Djunaidi. Salah satunya ada mbah Sudjiwo Tedjo yang menganggap bung Mahbub sebagai guru menulisnya dan beliau juga memuji kolom-kolom dari Bung Mahbub.
Dilansir dari laman nu.or.id keberanian Bung Mahbub dalam menyuarakan kebenaran dan membela wong cilik tak perlu diragukan. Sampai-sampai ia dijuluki si burung parkit di kandang macan. Ia banyak menulis, memberi perhatian dan pembelaan kepada kaum miskin. Termasuk kepada anak-anak pedagang asongan dan para pengemis cilik di persimpangan-persimpangan jalan. Ia dikenal sebagai pribadi yang ringan ceria, kocak berolok. Baginya semua orang tak ada bedanya, tidak bermartabat lebih tinggi dan lebih rendah, hanya karena jabatan dan pekerjaannya.

Sharing pengalaman membaca karya-karya dari Bung Mahbub dibuka dengan buku karya beliau yang berjudul “Politik Tingkat Tinggi Kampus” yang mana jika orang awam maupun orang yang awal-awal membaca buku tersebut akan mengira bahwa buku tersebut membahas mengenai kritik terhadap mahasiswa yang berpolitik di kampus. Tetapi ternyata buku tersebut membahas mengenai aktifitas mahasiswa dan perihal kepemimpinan presiden Soekarno. Istilahnya Bung Mahbub seperti menanyakan “apakah di zaman sekarang ini butuh pemimpin yang pindah dari satu podium ke podium lain?”. Selain itu gaya penulisan Bung Mahbub tidak baku dan tidak terlalu sastra sehingga gaya penulisannya cukup unik.

Buku kedua berjudul “Asal Usul Catatan-Catatan Pilihan” tepatnya membahas pada kolom Estapol. Pada kolom estapol tersebut membahas mengenai tahanan politik pada zaman dahulu dan sekilas kondisi G30SPKI. Di zaman orde baru dan orde lama masih ditemukan diskriminasi dari keluarga tahanan politik 1965 sulit mendaftar TNI AD,AL dan AU. Buku ketiga yang dibahas dalam Jagongan kali ini adalah buku yang berjudul “Dari Hari ke Hari”. Buku tersebut terdapat gambar sepeda di sampulnya yang bermakna bahwa Bung Mahbub mengikuti ayahnya untuk pindah ke Solo. Mahbub Djunaidi berasal dari keluarga kyai atau ulama. Ayah Bung Mahbub kerja di Jogjakarta tetapi tinggal di Solo. Bung Mahbub kecil tidak hanya bermain tetapi sangat literat dengan banyak membaca buku dan melihat kondisi sosial lingkungan sekitar.

Penulis: Ardya Udyana Gayatri (Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Malang)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here