Selamat hari Ibu…
adalah kata-kata yg mudah diucapkan…
namun mengartikulasikan perjuangan para Ibu untuk melanjutkan kehidupan saja, sering berakhir hanya dengan omong kosong belaka yang dibalut jargon feminisme keropos dan berhenti di atas meja-meja diskusi…
Sementara perempuan-perempuan muda diperjual-belikan di pasar-pasar gelap di nyaris semua negara berkembang.
Beberapa negara malah melegalkannya dengan berbagai alasan yg dirasionalisasikan… Dan tak jarang penjebak dan penjualnya adalah perempuan juga.
Siapa bisa lupa akan Sumiarsih, mucikari Dolly pembunuh keluarga Letkol Purwanto pada 15 Agustus 1988 ? Berapa ratus perempuan muda yang menjadi korban dan umpannya ?
Siapa bisa mengabaikan Madame Alex perempuan Philipina penjual gadis-gadis Asia yang berkuasa di California?
Siapa tak mengenal Matilde Manukyan perempuan Armenia hasil didikan para biarawati Perancis? Dialah Ratu Rumah Bordil, sang pialang perempuan bawah umur di seantero Turki yang malah menerima anugerah piagam pembayar pajak terbesar pada akhir tahun 1995.
Kalo Hari Ibu sekedar romantisme gender belaka, maka terlalu mudah bagiku mencium kaki Ibuku atau memanjakan istri dan anak2 perempuanku…
Tetapi menerima amanat Beliau untuk melanjutkan kehidupan setiap insan dan alam semenjak dari benihnya, di dlm kebenaran yang berkeadilan melalui setiap belaian lembut tangannya pada kepalaku,
itu adalah perjuangan sampai matiku…
Selamat Hari Ibu…
Penulis: Pendeta Crysta









