Perihal rasa memang tak akan ada habisnya. Rasa sayang, rasa sedih, rasa bosan, rasa rindu, bahkan rasa cinta. Perasaan merupakan pelaku utama dalam mengatur segala hal terkait kenyamanan diri. Tak jarang orang melakukan hal diluar norma hanya karena merasa sedih atau kecewa.Mengorbankan martabat bahkan harga diri hanya untuk melampiaskan emosi negatif dari rasa-rasa yang tengah terbendung lama.

Kita tahu bahwa setiap manusia memiliki rasa, bukan? Jika semuanya berperasaan maka sudah dipastikan bahwa kondisi hati yang mereka rasakan jelas tidak seragam. Mungkin saat kamu senang mereka sedang merasa sedih, mungkin saat kamu kesal mereka sedang merasa bosan, atau bisa jadi saat kamu merasa cinta, eh si dia ternyata biasa saja. Nah hal seperti itu kerap terjadi kan?

Lagi-lagi kita menemukan perbedaan di sini. Tak salah lagi bahwa harus dipertegas mengenai rasa semua orang berbeda dan tak akan ada yang bisa memenjarakan manusia hanya karena beda rasa. Mungkin jika ada, penjara akan dipenuhi muda-mudi yang cenderung labil dalam memaknai rasa. Tapi sungguh lucu bila hal itu terjadi sebab “rasa” adalah suatu hal yang melekat dan tak seharusnya disalahkan.

Bagaimana dengan watak yang terlalu berperasaan?

Menjadikan rasa memimpin segalanya, menomor satukan rasa untuk memilih hidupnya, bahkan sering menerka bagaimana rasa yang miliki oleh manusia di sekitarnya. Hal ini tentu sangat berbahaya sekali. Kita tahu bahwa sebetulnya banyak sekali masalah yang timbul karena rasa. Mengolok-olok teman misalnya, bukankah itu merupakan pelampiasan dari bentuk rasa sombong? Atau kasus bunuh diri yang amat sering kita temui, penyebabnya beragam, bisa karena rasa iri tak dapat menyamai teman sejawat, bisa karena rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan, bisa karna rasa cemburu yang tak terbendung oleh akal.

Nah, untuk mengatasi hal tersebut, perlu diketahui bahwa sebetulnya kita diciptakan tidak hanya memiliki sebuah hati. Selain perasaan, ada akal yang timbul karena kita memiliki otak, ada perilaku yang timbul karena kita dianugerahkan memiliki tangan dan kaki, ada tutur kata yang kita dapatkan dari anugerah lisan yang diberikan, serta suara yang kita dengar dari telinga.

Bukankah dalam merasakan suatu hal, kita dapat berpikir hal positif? memandu rasa negatif melalui pikiran positif merupakan hal yang sangat efektif. Ketika kamu tak ingin diberi sebuah rasa kecewa, maka berhentilah berkhayal yang negatif, cukup dengan berpikir positif kamu akan merasakan hal yang positif juga.

Entah hal itu berujung benar atau salah, yang terpenting adalah kamu berada dalam zona pikiran positif. Nah akal yang positif inilah yang membantu kamu memahami dirimu seutuhnya.

Pernahkah kita berpikir bahwa mengapa kita sering mendengar suara dari luar namun sangat jarang kita dengar suara hati kita? Padahal sangat penting dalam bercermin tentang apa yang terjadi pada diri kita.

Mulai dari sudahkah kamu memberikan kebutuhan pangan pada dirimu?Sudahkah kamu membersihkan dirimu? Sudahkah kamu mengoreksi kata yang keluar dari lisanmu? Sudahkah kamu berpikir hal yang mementingkan dirimu hari ini? Manusia adalah makhluk sosial, akan tetapi manusia juga butuh merawat diri, itulah sebabnya kita diberi paru-paru di dalam tubuh manusia satu per satu, tidak menyeluruh, sebab kita diwajibkan untuk memenuhi hak tubuh kita sendiri bukan dari orang sekitar kita.

Jadi, mulailah bertanya tentang dirimu, apakah kamu sudah siap hidup hari ini? Sudahkah kamu mempersiapkan ketegaran dirimu dalam menyikapi hal-hal tak terduga? Sudahkah kamu siapkan masa depanmu? Sudahkah berani memulai kebaikan?

Mari, mulailah berbuat baik pada diri sendiri lupakan tanggapan orang sekitar terlebih dahulu, selama kamu tidak melanggar norma sepertinya cukup baik bagi kita untuk melakukan dan memperhatikan apa yang kita inginkan.

Selamat menjalani hari dengan penuh kepercayaan diri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here