Desa harus jadi kekuatan ekonomi
Agar warganya tak hijrah ke kota
Sepinya desa adalah modal utama
Untuk bekerja dan mengembangkan diri

Syair Iwan Fals itu menjadi nyanyian semangat masyarakat agraris. Lini pertanian menjadi potensi utama perekonomian warga. Mereka menanam, merawat, memanen, dan menikmati hasil pertaniannya.

Kali ini, penulis berkunjung ke suatu daerah yang dekat dengan gunung Kawi, kabupaten Malang pada 18 Desember 2019. Desa ini bernama Bangelan, bagian dari kecamatan Wonosari. Untuk menuju ke sana, anda perlu menempuh jarak sekitar 50 km, waktu tempuh normal sekitar satu jam. Bisa melewati Kromengan atau Wagir.

Di sana kami berjumpa dengan seorang pengusaha keripik pisang, Gatot dan Jay. Bersama lima orang rombongan kami bercerita dan berdiskusi mengenai dunia usaha dan UMKM. Gatot menceritakan sejarah industri rumahannya.

Gatot bercerita bahwa usaha keripiknya bukan keripik biasa. Dia melakukan inovasi dalam jajanan ringan berbahan pisang itu. Pisang yang ia gunakan adalah pisang raja awak, pisang yang di pasar bernilai cukup murah. Hal yang membuat keripiknya menjadi tidak biasa adalah pada potongan atau irisan pisang. Di mana biasanya keripik diiris tipis sedemikian rupa, akan tetapi Gatot menginovasi irisan pisang itu dengan tebal, sebesar mente.

“Awalnya kami cukup pesimis dengan persediaan pisang raja awak, karena sangat minim pembudidaya, warga juga kurang mendukung dengan usaha kami, setelah berjalan beberapa bulan, dan usaha kami semakin berkembang, warga pun ikut optimis. Optimisme warga itu ditunjukkan dengan mampunya petani pisang mendistribusikan ke kami, agar pisang bisa diolah menjadi keripik terbaik,” ujar Gatot.

Di tengah obrolan datang salah satu marketing usaha pisang raja awak itu, yang akrab disebut mas Jay. Jay datang penuh senyum usai bertemu dengan konsumennya, kemudian ia masuk rumah dan menyapa semua dari kami. Perbincangan akrab dan mendalam pun berlangsung.

Jay menceritakan jungkir baliknya dalam usaha, hingga ia pernah gulung tikar dan berhutang kepada orang 80 juta. Momen itulah yang menjadikannya bangkit. Sehingga, ia memutar otak mencari formula agar usahanya bisa laku keras di pasar.

Hasil dari momen pahit itu,ia bisa bangkit, dan memberi identitas produknya bukan sebagai keripik, karena keripik itu diiris tipis-tipis. Alhasil, ia memberi nama Paradise Crunch, Sorga yang renyah. Setelah disuguhkan Paradise Crunch itu, penulis dan teman-teman merasakan sorga dari olahan pisang itu- sorga kerenyahan dan kenikmatan.

Selain itu, yang menjadikan produk itu beda dengan lainnya adalah produk itu benar-benar diteliti kadar gizinya. Kadar gizi hingga kadar air dalam Paradise Crunch. Maka dari itu, untuk menghasilkan gizi dan kehieginisan makanan, produk itu diolah dengan menggunakan minyak kelapa.

Kerja keras Gatot dan Jay selama kurang lebih dua tahun menghasilkan buah manis. Mereka sering diundang pameran UMKM ke berbagai daerah, hingga luar negeri. Pada suatu waktu, ia diundang pameran UMKM ke Jakarta, acara pun dihadiri oleh Presiden Jokowi, dan di situ Paradise Crunch dicicipi oleh Jokowi, sambil merekomendasikan untuk terus dipertarungkan hingga kancah internasional- yang pada akhirnya digandeng oleh Bekraf.

Alhasil, buah keringat tak mengkhianati proses. Akhir-akhir ini industri rumahannya digandeng oleh PT Tiga Keinci, yang saat ini dengan memproduksi 2 kwintal perhari. Sedangkan target tahun depan dari dua kelinci, akan memproduksi Paradise Crunch sebesar 1 ton perhari. Sehingga ke depannya mereka akan melakukan perluasan area produksi.

Paradise Crunch juga didistribusakan ke supermarket, dengan kemasan 100 gram. Harganya terjangkau, cuma 12.000,-. Selain itu juga bisa membeli kiloan, perkilonya 100.000,-.

Disela membincang Paradise Crunch, kamu juga membincang perkembangan kopi di Bangelan. Awalnya kami tidak mengira di sana terdapat kebun kopi yang luas. Ternyata, di sana ada beratus hektar kebun kopi. Gatot pun menceritakannya, lalu membuatkan kopi untuk kami.

“Kopi di sini ada dua jenis, yang saya seduh ini jenisnya ekselsa, kalau ini robusta, silakan dinikmati,” ujar Gatot sambil mempersilahkan.

Ekselsa menjadi kopi favorit warga sana, karena aroma wanginya. Akan tetapi, ekselsa tidak tersedia dalam jumlah besar. Hanya robusta yang melimpah di sana.

Perbincangan kopi semakin seru dengan cerita persekongkolan dagang. Di mana menurut Gatot Bangelan menjadi bayang-bayang dominasi kopi Dampit. Semua tengkulak membawa kopi-kopi Bangelan ke Dampit, untuk memenuhi permintaan pasar.

“Banyak petani yang punya lahan kopi tak cukup luas menebangi tanaman kopiny, karena hasil dari penjualan kopi tidak sebanding dengan pemeliharaannya. Apalagi ditambah dengan permainan tengkulak dan didistribusikan ke pasar besar. Serasa kopi tidak ada nilainya,” tambah pak Gatot menggeram.

Di sana perlu pemberdayaan petani kopi, dan juga penghargaan kepada petani kopi. Penghargaan itu bisa dilakukan dengan tidak membeli murah kopi-kopi itu. Belilah dengan harga yang sebanding dengan kualitas dan jerih payah petani.

Kopi menjadi komoditas penting di Indonesia, Malang khususnya. Penghargaan kepada petani kopi menjadi penting, guna menjaga kualitas dan cita rasa kopi. Kopi menjadi sorga bagi peminumnya.

Pada sebuah kesimpulan, kopi dan paradise crunch khas Bangelan adalah sorga cita rasa tersembunyi yang patut diketahui dan rayakan oleh semua orang.

Setelah obrolan panjang lebar, kami dipersilahkan melihat dan mengamatai proses produksi Paradise Crunch. Mulai dari proses pengupasan, penyimpanan, penggorengan, pemilahan, hingga pengemasan. Pendengaran, penglihatan dan pengamatan adalah sebuah proses penerjemahan menuju kesuksesan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here