Covid19 seakan tengah mengucilkan ruang gerak kita semua. Perjumpaan dan pertemuan semakin kurang untuk dilakukan. Akankah itu semua menghambat pergerakan generasi muda atau komunitas yang biasanya menjadi ruang berekspresi?

Selama ini yang kita ketahui, komunitas adalah wadah setiap orang untuk menyalurkan dan mengekspresikan pemikirannya, bakatnya, atau sebagai sarana silaturrahim. Sedangkan di tengah pandemi ini, jarak dan komunikasi menjadi renggang- secara fisik. Alternatif yang banyak dilakukan adalah dengan melakukan perjumpaan daring.

Ini hanyalah catatan refleksi tentang tema yang ditawarkan Gubuk Tulis tadi malam (7/6). Penulis menilai bahwa tema ini sangat penting untuk diperbincangkan, mengingat peran komunitas yang semakin penting dalam mendorong kemajuan bangsa. Komunitas sebagai gerakan akar rumput ini adalah kekuatan bagi bangsa Indonesia- terlebih komunitas yang dihidupi anak muda.

Pemuda dengan semangat, ketekunan, dan kesungguhan hati dalam ruang personal dan komunitas menjadi penting untuk terus bergerak di tengah pandemi. Pandemi juga memberikan pelajaran besar kepada kita semua akan pentingnya berkolaborasi dan bersolidaritas. Perihal pandemi semua sama, terdampak- tinggal bagaimana kita bisa menghidupi diri kita, komunitas kita, dan orang lain.

Solidaritas antar komunitas sangatlah ditunggu, tidak hanya solidaritas kesehatan atau pangan. Setiap komunitas memiliki genre dan visi yang berbeda dalam suatu hal. Tapi, dalam hal pandemi dan kebangsaan penulis kira sama kepentingannya- untuk menjadi maslahah untuk orang lain.

Sebagaimana beberapa komunitas pemuda yang penulis ketahui; komunitas literasi, perdamaian, atau terkait isu perempuan- itu semua juga harus mengulurkan tangan dengan membantu orang lain. Dengan cara apa? Dengan caranya masing-masing. Jika semuanya sadar, pandemi ini adalah urusan kita semua, urusan manusia. Sehingga, solusi-solusi dari berbagai gagasan dan keterampilan penting untuk direfleksikan kembali.

Kenapa setiap komunitas penting untuk bergerak dan mengambil peran? Ya itu tadi, perihal pandemi kita semua sama. Makan semua harus menggerakkan kepiawaiannya dalam berbagi dan membangun masyarakat kembali, di antaranya melalui literasi, perdamaian, dan kesadaran gender.

Literasi, mengapa penting? Ia sangat fundamental saat ini. Kemelekan akan segala diskursus di tengah pandemi menjadi penting, salah satunya saja terkait literasi kesehatan. Karena, kesadaran akan pola hidup sehat di fase apapun dalam pandemi ini tetap diperlukan, mengingat banyak masyarakat abai terhadap kondisi saat ini.

Fase normal baru, transisi atau apalah yang terkesan dipolitisir itu menjadikan masyarakat semakin menganggap covid19 ini biasa saja. Banyak yang keluar rumah dan berkerumun tanpa menggunakan masker- apalagi cuci tangan, penulis agak ragu. Belum lagi pola hidup masyarakat yang kurang baik, dengan gemar begadang dan jarang olah raga. Cukup membuat dilema.

Ongkos kesehatan dibayar murah dengan begitu saja, dengan meremehkannya. Ini sungguh tidak benar, kesadaran atau literasi penting untuk terus digaungkan- laiknya khotbah Jumat atau Minggu. Oleh karenanya, penting untuk komunitas literasi terus bergerak, dengan menyebarkan narasi-narasi positif tentang pandemi ini.

Selain itu, isu perdamaian, bagi komunitas perdamaian ini juga tetap relevan. Isu yang terakhir berseliweran adalah adanya operasi ISIS yang memanfaatkan pandemi ini. Belum lagi jika kita mau tetap berhati-hati dengan homeschooling anak-anak kita, yang dari beberapa penelitian adanya penyebaran paham intoleran-radikal ke dalam ruang seperti itu.

Pendidikan jauh menempuh masa yang akan lebih sulit rupanya, karena ekonomi telah terselamatkan atas konstalasi politiknya. Pendidikan daring yang hampir sepenuhnya dipasrahkan ke orang tua menyisakan banyak penderitaan kepada orang tua. Bagaimana bisa? Ya karena materi yang tidak dimengerti orang tua ketika hendak mendampingi anaknya.

Pada aspek itu, akhirnya ibu atau perempuan sebagai madrasah pertama turun tangan. Alhasil dengan berbagai kapasitasnya, seorang ibu yang kebingungan mendampingi anaknya belajar di rumah menjadi polemik lagi. Hingga pada urusan yang lebih kompleks, pendidikan dan ekonomi.

Tentu, biaya pendidikan daring tidak murah, belum lagi yang di pelosok. Sekolah atau negara dalam hal ini belum lah bijak dan memberikan alternatif yang tepat mengenai isu pendidikan ini. Negara ini lupa bahwa Indonesia tidak hanya Jakarta, bukan Jakarta pun juga tetap sama- sekolah atau negara belum cukup bijak dan rela mencerdaskan anak bangsa. Kesiapan guru dan infrastruktur pendidikan daring masih dalam tahap tidak siap.

Oleh karena itu, dari berbagai persoalan di atas, peran komunitas lah yang menjadi taruhannya. Hanya mau diam atau bergerak membantu mereka semua. Komunitas adalah ruang pembebasan, solidaritas komunitas adalah oase yang membebaskan umat manusia dari keterpurukan.

 

*Tulisan refleksi Halal bi Halal Lintas Komunitas Via Zoom (Minggu, 07 Juni 2020)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here