Inilah Akhirnya

0
134

Sore itu, alun-alun Blora dipenuhi oleh banyak anak muda. Mereka berkumpul untuk berlatih, menyiapkan pesta rakyat yang akan diselenggarakan untuk menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-5 tahun 1950. Mereka berlatih sejak siang hari, sesudah pelajaran di Sekolah Rakyat usai. Di antara mereka ada yang berlatih karawitan, tari Gambyong, dan yang jadi pusat perhatian adalah mereka yang berlatih sebagai pasukan pengibar bendera. Anak-anak Paskibra berlatih dengan bersemangat. Maklum, karena pada tanggal 17 Agustus nanti, Presiden Sukarno akan mendeklarasikan meleburnya negara-negara federal kembali menjadi negara kesatuan. Mereka termotivasi oleh semangat ini. Mereka ingin menampilkan yang terbaik agar seluruh rakyat Blora berbangga, jika Sang Saka Merah Putih berkibar dengan gagah di alun-alun dua hari lagi.

Di antara siswa yang tergabung dalam Paskibra, Sudjono ditempatkan di bagian depan tengah pasukan. Ia cucu seorang pensiunan serdadu KNIL yang awalnya tidak tertarik dengan kegiatan seperti itu. Namun di kemudian hari ia sadar bahwa ia adalah seorang anak Indonesia yang merdeka, dan bukannya seorang cucu babu Belanda.

“Siswa Tedjo sebagai penjuru!” teriak pembimbing menghentikan kegaduhan istirahat.

“Siap, siswa Tedjo sebagai penjuru.” jawab Tedjo.

“Pasukan bershaf tiga kumpul. Mulai!” teriak pembimbing lagi.

“Siap pasukan bershaf tiga kumpul. Mulai.” jawab para siswa yang semburat membentuk barisan. Sesudah mereka membentuk barisan bershaf tiga, pembimbing segera memberikan perintah untuk meluruskan barisan.

“Baiklah kawan-kawan sekalian, latihan hari ini telah berjalan dengan lancar. Esok hari jangan lupa untuk menghadiri latihan, dan jangan lupa pula untuk selalu menjaga kesehatan. Ingat, 17 Agustus nanti untuk pertama kalinya sejak negara kita merdeka, Belanda tidak bercokol kembali di bumi Nusantara. Oleh karena itu, tugas kalian adalah membuat seluruh masyarakat Blora berbangga karena Sang Saka Merah Putih dapat berkibar tanpa diganggu oleh Belanda. Siap kalian?”

“Siap, Kak!”

“Baiklah, kalau begitu mari kita akhiri latihan hari ini dengan berdoa. Berdoa dipersilahkan.” perintah pembimbing diikuti dengan keheningan para siswa yang berdoa.

“Selesai. Balik kanan bubar, jalan!”

Para siswa berhamburan pergi, tidak disadari bahwa Sang Surya telah tenggalam di ufuk barat. Seluruh siswa lain yang berlatih karawitan dan tari-tarian telah pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan siswa Paskibra di alun-alun. Sudjono segera mengambil sepeda motornya, BMW R51 yang baru-baru ini masuk ke Indonesia. Seperti biasa, ia tidak berniat pergi kemana-mana, kecuali ke rumahnya yang kecil di dekat pasar. Ia segera menghidupkan sepeda motornya, lalu berhenti, ketika ia melihat Rukmini berjalan di pertigaan arah ke stasiun. Ia memutuskan untuk membelokkan sepedanya dan menawarkan diri untuk mengantar Rukmini pulang.

“Dik Rukmini, mau pulang? Ayo saya antar.”

“Oh, Mas Djono tidak usah, rumah saya jauh nanti merepotkan saja.” tolak Rukmini secara halus.

“Ayolah dik, ini sudah malam, tidak baik ada gadis jalan sendirian.”

“Tidak apa mas, rumah saya di Jepon, saya bisa naik kereta sampai stasiun Jepon,”

“Lalu Dik Rukmini mau berjalan dari stasiun sampai ke rumah. Ah itu tidak baik dik, kalau terjadi apa-apa bagaimana? Sudahlah naik, akan saya antar sampai rumah.” kata Sudjono meyakinkan.

“Baiklah kalau begitu Mas, asal tidak merepotkan.” jawab Rukmini tersenyum.

“Ah, tidak.”

Di perjalanan mereka bercerita mengenai pengalaman masing-masing. Sudjono hanya tersenyum-senyum saja, ia berbangga hati bisa mengantar pembawa baki bendera pulang. Terlebih lagi Rumini memang seorang gadis yang cantik. Ia tinggi semampai, rambutnya kalau diurai menyejukkan mata, mukanya yang manis mengalahkan paras para penari Gambyong. Dari rumor yang beredar, banyak anak Sekolah Rakyat yang mengejar-ngejar Rukmini. Bahkan anak sekolahan Jepon pun begitu. Kembali Sudjono terseyum-senyum di sela-sela pembicaraannya dengan Rukmini. Tak terasa mereka telah sampai di rumah Rukmini.

“Mas, sudah sampai, tidak mampir dulu?” Rukmini menawarkan.

“Sudah dik, tidak usah. Mana ibu bapakmu? Aku ingin berpamitan pulang.”

Loh, nak baru sampai kok sudah ingin pulang.” kata ibu Rukmini yang tiba-tiba berdiri di teras rumah.

Sampun bulik, saya akan langsung pulang saja.”

“Dimana tho nak, rumahnya?”

“Di dekat Pasar Kabupaten.”

“Waduh, jauhnya. Kok mau tadi mengantarkan Rumini pulang.” katanya sambil sedikit tersenyum.

“Hehe, baik kalau begitu, saya langsung pulang bulikmonggo.” kata Sudjono seraya mencium tangan ibu Rukmini dan menyalami Rukmini. Ia segera menyelah sepedanya, menghilang di dalam kegelapan malam jalanan Cepu-Blora.

* * *

16 Agustus 1950 pagi, seluruh siswa telah berkumpul di alun-alun Blora. Mereka melanjutkan latihan kemarin. Siswa pemain karawitan dan penari diperintahkan untuk memasuki pendopo kabupaten, karena Bupati Siswadi akan memberikan pengarahan. Tinggallah para siswa Paskibra berlatih di alun-alun. Saat mereka sedang berlatih itulah, Sudjono mencuri-curi kesempatan untuk memandangi kecantikan Rukmini.

Mereka berlatih hingga pukul sebelas siang, ketika pembimbing memerintahkan mereka untuk kembali ke Sekolah Rakyat. Di warung sekolahan, Sudjono bertemu dengan beberapa teman lamanya.

“Djon, semalam aku melihat kau mengantar Rukmini pulang.” kata Santi membuka pembicaraan.

“Iya, kenapa memang?” jawab Sudjono santai.

Loh bagaimana sih kamu ini, sudah punya kekasih masih saja mencari gadis lain.” kata Susiyani menghakimi.

“Aku tidak ada niatan apa-apa. Aku hanya kasihan saja jikalau ada gadis berjalan sendirian malam-malam.” jawab Sudjono dengan nada tinggi.

“Seperti aku tidak mengetahui dirimu saja, pasti habis ini kau akan menyukainya.” balas Susiyani.

“Memang Rukmini cantik sih, ya Djon?” goda Parman.

Tidak tahan dengan godaan teman-temannya Sudjono segera pergi ke dalam kelas. Tapi ia berpikir, bahwa ada benarnya apa yang dikatakan Parman. Rukmini memang cantik, lebih cantik dari kekasihnya, Sugiyarti. Terbersit di dalam hatinya untuk mencari peruntungan, memikat hati Rukmini dan meninggalkan Sugiyarti.

* * *

17 Agustus 1950 telah tiba, seluruh masyarakat Blora telah berkumpul di alun-alun. Para siswa Paskibra yang berkumpul dipendopo kabupaten telah memasuki alun-alun. Hal ini menandakan bahwa upacara akan segera dimulai. Formasi pasukan pengibar bendera telah terbentuk. Sudjono berada di depan tengah, dan Rukmini berada tiga shaf di belakangnya. Semua mata tertuju pada kecantikan Rukmini, mereka semua bergumam memuji Rukmini. Upacara pun berlangsung dengan baik. Seusai upacara berlangsung, para siswa Paskibra menyempatkan diri untuk berfoto di gerbang pendopo kabupaten. Dengan box camera yang dipinjam dari kantor bupati, mereka mengabadikan momen membanggakan itu.

Pukul sepuluh lebih sedikit, semua acara termasuk acara berfoto siswa Paskibra dihentikan. Tiba-tiba speaker bersuara ‘kresek-kresek’ menandakan bahwa alat tersebut akan segera digunakan. Tidak lebih dari lima menit kemudian, suara Presiden Sukarno menggema dari siaran RRI Pusat. Amanat presiden “Dari Sabang Sampai Merauke” menjadi satu-satunya suara yang didengar di alun-alun. Seusai amanat presiden selesai dibacakan, speaker dimatikan, dilanjutkan dengan tepuk tangan riuh dan teriakan “Merdeka!” di alun-alun. Acara pun dilanjutkan kembali. Pesta rakyat yang ditunggu-tunggu pun dimulai.

Siswa-siswa Paskibra yang berfoto di gerbang pendopo kabupaten segera berhamburan memasuki alun-alun kembali. Rukmini segera menghilang di balik keramaian. Sudjono sendiri memilih berjalan lambat di pinggiran alun-alun. Ketika baru beberapa langkah ia berjalan, di depannya Sugiyarti berdiri memegang sebuah bendera kecil.

“Mas, bagaimana tadi upacara?” tanya Sugiyarti tersenyum.

“Biasa saja ah.” jawab Sudjono ketus.

Ah ya sudah kalau begitu. Bagaimana kalau kita melihat kawan-kawan yang bermain karawitan?” Sugiyarti menawarkan. Rautnya mukanya berubah kesal.

“Malas aku.”

Woiii.. tunggu aku.” teriak Tedjo sambil berlarian, lalu menabrak tubuh Sudjono.

“Ada apa Ted?” tanya Sudjono kebingungan.

“Rukmini menari Gambyong. Kau harus melihatnya.”

Loh, aku tak tahu kalau ia menari Gambyong.”

“Ia sudah lama bergabung untuk menari Gambyong, tapi memang pihak kabupaten sengaja menutupi hal itu, agar menjadi kejutan bagi masyarakat.” jawab Tedjo sambil lalu.

Sudjono tertegun. Di dalam hatinya, hati nurani dan nafsu saling bertarung. Ia ingin sekali melihat Rukmini menari, tetapi disampingnya ada sang kekasih yang tak bisa ditinggalkannya begitu saja. Namun, nafsunya berkelit, ini adalah satu-satunya kesempatan untuk melihat indahnya tubuh Rukmini melenggak-lenggok sembari menari. Aduhai, pikir Sudjono. Kesempatan tak datang dua kali.

“Aku akan melihat Rukmini.” kata Sudjono.

“Apa? Kau akan melihat wanita itu menari. Lalu bagaimana dengan aku?”

“Pulanglah saja sana.” hardik Sudjono.

“Kau mengusirku, teganya…” tak kuasa Sugiyarti menahan tangisnya.

“Aku muak denganmu Sugiyarti. Perilakumu itu seperti noni Belanda, seperti anak kecil yang manja. Tak tahan aku denganmu. Lebih baik aku menjalin kasih dengan Rukmini yang berhati baja itu.”

“Tega kau Mas. Inikah akhir hubungan yang selama ini kita jalin.”

“Ya, ini akhirnya!” bentak Sudjono sambil meninggalkan Sugiyarti yang menangis tersedu-sedu.

Manis pambukane, kok pahit tiba mburine.” teriak Sugiyarti dengan suara melengkingnya, tapi yang diteriaki sudah berlari jauh.

Sudjono segera berpikir keras. Ia segera mencari penjual bunga. Bunga itu akan diberikannya kepada Rukmini, agar Rukmini dapat menjadi kekasihnya. Barulah ia menemukan penjual bunga di dekat Masjid Jami’. Ia membelinya seharga beberapa sen. Ia kemudian berlari kembali memasuki alun-alun. Di tengah keramian, ia berdesakan dengan para lelaki yang ingin melihat Rukmini menari. Ketika Sudjono sampai, Rukmini telah usai menari. Sudjono pun memberanikan diri mendekati Rukmini di tengah kerumunan.

“Dik, maukah kau menjadi kekasihku?” tanya Sudjono dengan berlutut di depan Rukmini.

“Apa maksudmu, Mas?” tanya Rukmini kebingungan.

“Aku ingin kau menjadi kekasihku.” jawab Sudjono.

“Ini memalukan.” kata Rukmini sambil menutupi wajahnya.

Hai, kamu kurang ajar ya.” bentak seorang lelaki, bersamaan dengan itu mendaratlah sebuah pukulan di muka wajah Sudjono.

Ahhh, apa salahku? Hah, kamu kan anak jaksa. Kenapa kau memukulku?”

“Karena kau telah mempermalukan kekasihku di depan semua orang!” bentaknya.

“Apa? kekasihmu?”

“Iya, Rukmini adalah kekasihku. Sudah Rukmini, ayo pulang, tidak ada gunanya kau di sini.” perintahnya sambil menarik tangan Rukmini.

Orang-orang yang melihat kejadian itu segera membubarkan diri. Mereka takut jikalau ditangkap polisi karena dituduh membiarkan sebuah perkelahian terjadi. Tinggallah Sudjono berlutut di tempat itu sendirian. Semua orang telah pulang, alun-alun telah sepi. Sudjono menyesali apa yang telah diperbuatnya. Air matanya mengalir ketika melihat bunga yang baru saja dibelinya remuk diinjak-injak orang. Hatinya hancur, ia tak punya harapan lagi. Serasa bumi ini tak pantas menjadi tempat hidup Sudjono. Dengan pikiran kalut, ia segera berlari mengambil sepeda motornya, dan memacunya ke arah Cepu. Ia sampai saat malam tiba. Di sana, di antara hutan jati di luar Cepu, Sudjono menangisi hidupnya. Tak henti-hentinya air matanya mengalir membasahi wajahnya yang sembab terkena pukulan si anak jaksa.

Sesekali ia menarik nafas panjang, mengingat-ingat saat-saat bahagianya bersama Sugiyarti dulu. Ia menyesal mengapa dengan mudahnya ia melepaskan Sugiyarti demi seorang wanita yang baru beberapa hari dikenalnya itu. Sudjono malu, sangat malu. Apa jadinya ia esok hari kalau bertemu dengan teman-temannya di Sekolah Rakyat. Apa jadinya ia kalau bertemu dengan Sugiyarti. Ah, di pikiran Sudjono hanya ada satu pilihan, ia harus mengakhiri hidupnya. Ketika hanya terdengar suara gesekan daun-daun jati yang berguguran dan suara burung hantu yang menyeramkan, Sudjono melangkahkan kakinya ke tengah jalan. Beberapa detik kemudian, munculah sebuah truk pembawa kayu dari Cepu. Tak kuasa si supir membanting setirnya. Tubuh Sudjono terhempas kencang, lalu terbanting ke pinggir jalan. Kepalanya membentur aspal. Dari telinga dan mulutnya mengalir darah segar. Ia meninggal.

Keesokan harinya, 18 Agustus 1950, di Sekolah Rakyat seluruh siswa Paskibra, pemain karawitan, dan para penari menerima ucapan selamat dari Bupati Siswadi karena keberhasilan mereka menyukseskan perayaan 17 Agustus kemarin. Namun, diantara mereka Sudjono sajalah yang tak hadir. Mereka semua seolah lupa bahwa Sudjono tak hadir bersama mereka. Mereka semua bersuka cita, termasuk Rukmini. Sugiyarti memilih untuk menyendiri di warung sekolah walau bersama dengan teman-temannya. Pukul sepuluh, bupati pergi dari Sekolah Rakyat. Lima menit kemudian, speaker sekolah berbunyi,

* Penulis: Arrial Thoriq SR

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here