Suhrawardi dan Teori Gradasi Cahaya

0
103

Oleh: Afifah Ahmad*

Sampul buku ini menarik perhatian saya. Gambar orang yang berdiri bersayap seperti malaikat, tapi tanpa kepala. Ya, tanpa kepala. Siapakah sosok yang digambarkan dalam buku ini?

Kalau melihat judul bukunya, kita akan langsung ingat nama Suhrawardi atau Sohravardi, filsuf iluminatif yang terkenal dengan gelar Seikh Ishraq. Buku ini adalah ringkasan kitab Hikmat Ishraq yang awalnya berupa diktat dan disusun oleh Sayed Yahya Yasrebi yang sudah 16 tahun mengajar kitab ini.

Lalu mengapa gambar di sampul itu tanpa kepala? Teman-teman yang pernah mempelajari filsafat dan tasawuf tentu tahu, Suhrawardi sebagaimana Alhalaj, harus mengakhiri hidupnya secara tragis karena tuduhan ‘sesat’. Ada dua versi tentang kematiannya, satu pendapat mengatakan ia dipenjara lalu dibunuh secara pelan-pelan. Pendapat lain menyebutkan, ia dihukum gantung.

Yang mengejutkan saya, Suhrawardi ‘dieksekusi’ di masa Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, Panglima yang dielu-elukan banyak muslim, terutama ketika ia memimpin perang salib. Dan lebih mengejutkan lagi, Suhrawardi adalah guru dari Malik Zahir, putra Salahuddin. Malik Zahir muda sangat mengagumi pemikiran Suhrawardi yang progresif, tapi para ‘Ulama’ konservatif mengkhawatirkan kedekatan ini dan menekan pihak yang berkuasa dengan membuat berbagai tuduhan yang mengada-ada.

Saya membayangkan periode Islam pada saat itu, dengan ngeri-ngeri sedap. Itulah fakta sejarah yang seharusnya menjadi pelajaran berharga untuk kita hari ini. Kebencian dan penyesatan yang terus menerus bergulir dan diproduksi pada akhirnya akan melegitimasi segala tindak kekerasan.

Oya, meskipun Suhrawardi meninggal di Aleppo, tapi ia berasal dari kota kecil Sohrevard, provinsi Zanjan Iran. Salah satu provinsi di Iran yang ingin saya kunjungi tapi belum juga terlaksana. Padahal di provinsi ini ada dua tempat bersejarah yang telah masuk situs budaya UNESCO. Jadi makin semangat pergi ke Zanjan, selain mengunjungi situs sejarah juga bisa napak tilas jejak pemikir Suhrawardi.

Jangan minta saya menerjemahkan buku ini ya. Baru baca pengantarnya saja udah keriting mata saya hihi..Lagian, buku Hikmat Ishraq ini, kalau gak salah, aslinya berbahasa Arab. Jadi, pasti banyak yang lebih mumpuni. Kalau saya malah ingin membaca buku Suhrawardi yang judulnya Aql-e Sorkh (The Red Intellect). Buku ini berupa cerita-cerita yang mengandung pesan filosofis yang dalam.

Gagasan utama Suhrawardi cukup pelik, tapi intinya ia mengembangkan teori gradasi cahaya yang dikenal dengan Nurul Anwar. Konsep Nurul Anwar sendiri ada kemiripan (meski banyak perbedaannya juga) dengan teori Wahdatul Wujud yang dikemukakan Ibnu Arabi. Bedanya, objek yang dikembangkan Suhrawardi bukan wujud, tapi cahaya.

Ok, segitu dulu kawan. Gak perlu dibaca kalau membosankan, cukup diskip aja. Sementara saya akan menghayal dulu, naik kereta ke Zanjan sambil membaca buku Aql-e Shork yang belum saya punya.

*penyuka Rumi dan penulis diberbagai portal media

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here