Di kotaku, sekolah merupakan batasan pertama seseorang dipanggil dengan nama lain untuk menunjukkan kepandaiannya. Demikian diriku yang dipanggil Nurlela anak seorang Bidan, yang buka praktik melayani semua kalangan masyarakat. Panggilan Bidan pada ibuku membawaku dalam situasi yang tidak rumit, situasi yang semua orang tau bahwa hutang-piutang adalah hal yang paling rumit sepanjang hidup. Dan aku tidak pernah disulitkan dalam hal tersebut, tanpa hutang seseorang akan memberi kami dengan harapan periksa gratis, obat gratis, bahkan melahirkan tanpa membayar selain kebaikan. Di sini, di kotaku, hal-hal baik bisa terjadi tanpa bantuan pemerintahan seperti kartu jaminan sosial. Menentramkan, menjadi Nurlela anak Bidan!

Di tengah kota pesisir timur seperti ini, dengan segala kelimpahan macam-macam ikan laut, seperti ikan tongkol yang memberikan rahmat kesehatan bagi para ibu hamil di kota ini. Dengan begitu tugas ibuku menjadi bidan tidak sulit, tidak banyak memberikan resep obat. Karena itu, ibuku tidak menarik biaya pengobatan kecuali mereka membayar sendiri dengan kebaikan; dengan membawa beberapa rantang masakan ikan, bumbu laos dan semacamnya. Pada akhirnya tidak banyak yang ibu lakukan untuk mereka. Tapi bagaimana, sekolah merupakan materi termahal di sini. Menjadi bidan adalah pekerjaan yang butuh menempuh sekolah tinggi ke luar kota, tinggal di antara gedung-gedung baru, yang akhirnya mengantarkan mereka pada pekerjaan kantor dan seragam kesehatan. Pada seragam yang seperti itu, kotaku menjunjung tinggi sebuah kehormatan.

Disituasi yang lain, dibeberapa kilometer dari jantung kotaku. Berjejer ibu-ibu dengan susunan gelang emas, tinggi sekali, mungkin dari pergelangan tangan sampai tiga jari sebelum siku, mereka lah yang menjual macam-macam ikan Asap; Pari, Tongkol, dan lain-lain. Ibu-ibu seperti ini tidak mendapatkan terlalu tinggi derajat kehormatan, karena mereka bukan bidan, bukan guru dinas, atau seragam pekerjaan sipil lainnya. Tapi kepada mereka semua orang tidak memberanikan diri untuk salah bicara. Kabarnya, mereka memiliki kepandaian dalam berbahasa, maka siapa yang sedang bercanda menjatuhkan harga dirinya akan menelan kemaluannya sendiri. Tapi tidak bagiku dan ibu, kami hanya tinggal berdua di kota ini. kami pendatang, tegasnya aku bukan perempuan kelahiran kota pesisir ini. Aku tumbuh disini, pekerjaan terbesar ibuku adalah menghegemoni pikiranku untuk tidak membayar nilai seseorang dari seragam atau seberapa tinggi rentetan emas di gelang tangannya, sampai pada usia dewasa aku dapat menentukan cara berpikir seorang diri. Ibu-ibu itu, menyusun gelangnya untuk menjelaskan susunan ketinggian derajat sosialnya di kalangannya sendiri. Semakin tinggi gelang yang dia pakai semakin masyarakat menganggapnya telah berhasil menaklukkan kerasnya hidup, telah berhasil menyanggupi kesejahteraan dirinya dan anak-anaknya. Tugas terbesar ibuku, adalah untuk mematahkan hal-hal demikian dalam pikiranku.

“Kota ini baik untuk kelangsungan hidup, Nurlela. Tapi tak baik untuk keselamatan nasib. Maka jangan mengambil suami dari kota ini.” Jelas ibu sambil menyiapkan iwak potean yang telah digoreng.

Ini sedikit rumit, wajib sekolah sembilan tahun membuatku terdidik sebagaimana hegemoni masyarakat di sini. Hingga pada waktu tertentu yang lalu, aku berada pada situasi yang tidak dapat mempertahankan kehormatan diriku sebagai seorang anak bidan untuk melanjutkan sebuah pernikahan dengan laki-laki yang berasal dari kotaku sebelah timur. Dia adalah laki-laki yang lahir dari rahim pergelangan tangan emas ibu-ibu penjual ikan asap itu, namanya Ramli. Pendidikan terakhirnya di Strata 1 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi. Aku tidak menimbang berat perihal pendidikannya, toh beruntungnya dia selamat dari tinggi rendahnya derajat di kota ini karena pendidikan S1 nya. Keberuntungan kedua, budaya ibu-ibu gelang emas bukan menempuh pendidikan untuk menuntaskan perkara derajat sosial, apalagi kalau bukan ketinggian gelang emas yang dipakai ibu mereka? atau saudara perempuan mereka atau bahkan calon istri dan menantu mereka. Ramli laki-laki yang beruntung.

Ya, siapa yang dapat menyangkal bahwa budaya adalah sebuah hukum adat, hukum penentu masa depan. Dan perempuan sepertiku, bukanlah masa depan budaya mereka. Juga ibuku, tidak ingin aku kelak memakai gelang emas setinggi siku saat sudah memiliki anak. Di mataku, usia kehidupan ini sama dengan seiring pertumbuhan usiaku. Aku berjalan sesuai irama manusia-manusia yang lainnya, hanya saja aku belum sampai hati mempelajari tentang cinta, tentang pilihan hidup, tentang keterhubungan antar perasaan. Belum, belum sampai hati aku memikirkan hal-hal yang menurut kebanyakan orang menyengsarakan itu. Cinta menurutku adalah ketertarikan secara emosi dan psikis, di mana keduanya dapat berubah sewaktu-waktu. Cinta sepraktis itu di mataku. Tidak hanya dapat berubah, tapi diubah dengan sengaja. Tapi berbeda dengan Ramli, tekad dan niatnya tampak sudah bulat untuk memintaku menjadi istrinya. Berkali-kali dia menjelaskan betapa besar perasaan yang dia miliki terhadapku. Dia telah menyiapkan rawa di ujung pinggir pantai untuk biaya hidup setelah menikah, di samping itu, suatu hari ijazahnya kan laku di pemerintahan daerah, tapi itulah mereka.

“Bu, Ramli telah menyiapkan segala hal untuk pernikahan kami kelak. Apa tidak akan menyakitinya jika Nur tiba-tiba memutuskan demikian?” tanyaku pada ibu yang masih di atas meja makan.

“Apa yang telah dia sipakan, itu untuk masa depan dia, Nurlela. Terlepas akan mengawinimu atau perempuan lain. Cinta tidak akan mampu membangun apa-apa kecuali rasa bahagia dan kecewa. Kalau dia telah menyiapkan rumah, ladang, atau rawa, itu perkara lain. Kau mengerti?”

“Tidak ada yang dapat kumengerti hari ini kecuali kebingungan, Bu,”

“Tak perlu putus asa begitu. Ibu tau betul Ramli laki-laki yang baik, berpendidikan, tapi kau harus membaca setiap kejadian dalam hidupmu, termasuk Ramli, termasuk ibunya, termasuk keluarga bersarnya, termasuk tradisi keluarganya yang turun temurun itu.”

Ibu tiba-tiba semakin menunjukkan bahwa dia tidak menyetujui rencana pernikahanku dengan Ramli. Apa lagi yang harus kubaca dalam kehidupanku ini? tidak ada kalimat tersisa yang terlewatkan untuk kuberi tanda garis bawah dalam diri Ramli. Semua sudah kulihat betul, kubaca betul, kupelajari dengan seksama. Kota ini, apa yang terjadi disini sehingga menjadi pertimbangan yang serius dalam upaya sebuah pernikahan? Atau aku salah berfikir. Harusnya aku bertanya pada ibu apa itu perinikahan? Atau lebih tepatnya, apa itu pernikahan bagi orang-orang yang tinggal di kota ini, kota pesisir.

Aku dan ibu lalu melanjutkan makan tanpa berbicara apa-apa, sementara di luar, depan ruang praktik sudah banyak orang mengantri untuk periksa. Sesekali aku mengamati cara ibu makan, sungguh tidak nyaman sekali. Dia makan sambil menyiapkan segala keperluan perawatan, mondar-mandir meletakkan ini dan itu. Seolah tidak ada pamalik apapun yang melekat dalam diri ibu untuk dipatuhi, seperti halnya ibu-ibu yang lain di kota ini, bahwa makan harus tenang diatas meja makan atau di depan pintu rumah. Tidak ada hal semacam itu yang melekat dalam pikiran ibu. Tapi tetap saja, perempuan yang dinamis seperti ibu belum juga mewajarkan Ramli dan keluarga besarnya untuk menjadi bagian masa depanku.

***

“Kau tahu, Nur? Setiap pagi aku harus mencatat sekian ton ikan-ikan yang masuk di beberapa Badan Usaha Milik Negara ataupun swasta. Beberapa sesuai hitungan jumlah, beberapa yang lain dilebihkan untuk kepentingan anggaran perusahaan mereka. Menjadi bagian administratif begini hanya mencatat, Nur, bukan menghitung. Dan yang menakutkanku bukanlah pencurian besar-besaran itu, bukan siapa-siapa yang kucatat nama perusahaaan dan para pembesar di negeri ini. Tapi hidup macam apa? setiap pagi menjadi bagian pencuri dan pulang ke rumah harus menentang ibu sendiri untuk menurunkan tingginya gelang emas yang ia kenakan. Kau mengerti betapa itu membuatku sedih?” Jelas Ramli dengan suara pelan sambil mengusap kacamatanya dengan ujung baju yang dia pakai. Angin pantai membuat kami meredupkan mata.

Aku ingin sekali memahami kesedihan Ramli, tapi aku masih diam dan membiarkannya melihat bentangan luas gelombang pantai yang tipis itu di depan kami. Para nelayan mulai berdatangan dari tengah laut, beberapa lainnya sudah sampai di tepian dan mengaitkan tali tampar pada pasak yang sudah dipasang. Perlahan matahari turun membawa sisa-sisa kehidupan. Matahari yang hampir tenggelam itu, besar sekali, merah tumpah di lautan.

“Jika begitu, jangan biarkan gelang emas ibumu turun satupun. Biarkan mereka indah menghiasi pergelangan tangan ibumu. Biarkan, Mas. Aku tidak keberatan. Hanya saja, sampai kapanpun ibuku tidak akan membiarkanku memakainya suatu hari nanti, terlebih kehidupanku selanjutnya ada di ruangan obat-obatan dan peralatan rumah sakit. Gelang emas akan sedikit mengganggu penanganan pasien jika di ruangan seperti ini. Semoga kau juga mengerti,” jawabku meyakinkannya, bahwa tidak apa-apa bagiku, jika rencana pernikahan ini akan tumbang dan selesai.

“Kau tidak sedih jika masa depanmu bukan bersamaku, Nur?” tanyanya sedikit mendesak. Tangannya lalu membelai rambut yang kuikat kebelakang, lalu melepaskan ikatan itu dan membuangnya ke laut. Kini rambutku terurai, wajahku tersapu angin.

“Jika itu menyedihkan, maka aku akan menanggungnya dengan bahagia. Sebuah rencana pernikahan yang batal karena latar belakang keluarga sudah banyak terjadi, Mas. Dan itu tidak membuat kita lantas mati dan mengakhirinya di laut ini,”  jawabku pelan.

Lalu dia melangkah lebih dekat, dan memeluk tubuhku yang sebenarnya sudah penuh dengan berat kehidupan ini,  “Rupanya kau sudah menyiapkan hatimu seperti ini, Nur. Lelaki seperti apa aku selalu menyerahkan diri? Pada pencurian, pada tradisi, bahkan pada kisah sedih sendiri seperti ini. Bagaimana bisa kau sudah menjawab ini, Nur?” tanyanya.

Tanganku menepuk-nepukkan pundaknya. Perlahan aku rasakan sesuatu membasahi pipiku, untuk pertama kalinya aku melihat Ramli yang betul-betul menyedihkan. Dia menangis, tangannya menggenggam erat kedua pipiku. Kota pesisir ini begitu hebatnya, begitu kuatnya menentukan hal yang boleh terjadi dan tidak boleh terjadi. Tapi aku tidak perlu menangisi kesimpulan sore hari ini, tidak untuk kepuasan kota ini. Kota yang sedikit lembab dan penuh keluhuran tatanan sosial. Siapa yang berani menentangnya? Zaman modern tidak akan mengubah apa-apa, tidak akan menggeser paradigma budaya sedikitpun dilekat kepercayaan orang-orang di kota ini. Air mata Ramli seketika membuatku mengerti maksud ibu, barangkali benar bahwa cinta bukan soal rawa dan ladang yang dimiliki sebuah rumah tangga, tapi sebuah cara berfikir dan kebijakan kepercayaan masing-masing. Cinta serumit itu, sebegitupun aku tidak ingin sampai hati memaknai cinta. Aku melepaskan pelukan Ramli, lalu dia mengeluarkan sehelai kain panjang dari tasnya. Kain itu tampak seperti jilbab, lalu dia pakaikan di atas kepalaku. Dia berikan kain itu padaku, kain yang katanya dia beli di Banyuwangi untuk hari pernikahan kelak. Tapi hari itu ternyata hari ini, bukan hari pernikahan.

“Kau tampak manis sekali, Nur. Biar kusimpan wajahmu seolah ini hari bahagia kita, ya? Mari kita selesai.” Ucapnya sebelum akhirnya kami saling berpaling dan laut menutup pintu berandanya membawa kami pulang.

***

“Pakai ini, Nur. Semalam angin Gending datang, hari ini pasti akan banyak anak-anak batuk pilek datang periksa.” Ujar ibu menyodorkan masker. Lalu aku memakai masker itu dengan mengingat sesuatu, angin yang begitu membuat rambutku kacau kemarin sore bukan sebuah kesengsaraan batal menikah, tapi karena sapuan angin gending. Ya, aku meyakinkan diriku berkali-kali.

“Semoga pagi ini bukan pagi yang rumit ya, Nur.” Ujar ibu lagi sambil memisahkan duri-duri ikan dari dagingnya.

“Amin,” jawabku pelan sambil makan ikan-ikan laut yang telah dipisahkan dari durinya itu.

“Kau tampak sedih, Nur. Semoga kesedihanmu tidak membuat hari ini sulit dihadapi,”

Aku tersenyum. Ibu mana yang tidak dapat melihat jiwa anaknya.

“Ya Bu, kami membatalkan pernikahan,” balasku lirih lalu meneguk air gelas yang tidak jauh dari tempatku duduk.

“Bayangkan, Nur. Setiap pagi kita jarang dapat memilih sarapan apa kecuali ikan-ikan laut yang selalu dibawa pasien untuk mengganti bayar obat. Jika ikan-ikan laut ini kita jual lagi maka harganya akan lebih mahal lagi ketimbang harga obat. Tapi bukan begitu cara hidup,  kita tidak miskin, Nur. Uang ibu memang tidak melimpah, tapi derajat ibu di tengah orang-orang sini tidak dapat dibayar dengan uang. Maka mereka membayarnya dengan dibya, dengan kebaikan, dengan rasa terima kasih mereka maka mereka membawa ikan-ikan ini. Tapi hidup seperti ini hanya berlaku di sini, di kota ini, Nur. Kau tidak dapat mebawa pola hidup begini ke luar kota. Kebaikan tidak selamanya bisa membayar apa-apa yang harus kau tebus,” jelasnya pelan. Aku menundukkan pandanganku,

“Aku tidak mengerti Bu, apakah benar Ramli hanya akan memberi ladang dan rawanya untuk mengartikan cinta. Untuk menebusku pada ibu. Aku tidak dapat membayangkan rumah tangga,”

“Ya. Jika benar begitu, hal itu bukanlah sesuatu yang buruk juga, Nur. Kau lihat sendiri seberapa gelang emas tersusun di pergelangan tangan mereka, begitu pula cara mereka membayar kerja keras mereka sendiri. Bukan salah, hanya saja kita bukan berasal dari sana, Nur,”

“Apakah itu akan membuat sulit hidup, Bu?”

“Sampai kapanpun hidup itu tidak memudahkan manusia, justru sebaliknya, hidup merupakan kesulitan-kesulitan yang berkelanjutan. Hanya saja kita belajar pandai memilih kesuliatn mana yang akan kita tempuh. Ibu menyarankan, kau segera melanjutkan praktik bidan di Surabaya, Malang atau Bandung atau manapun yang akan memberimu gaji, paling tidak kau pernah merasakan puasnya mendapat upah uang dari kerja kerasmu. Lalu bisa kau manfaatkan untuk banyak hal.”

Aku kembali diam dan menghela nafas panjang. Banyak sekali kejadian yang datang beberapa hari ini. Bagaimana jika umurku sampai puluhan tahun kedepan? Betapa melelahkan. Tapi untuk meninggalkan kota ini bukan keputusan mudah bagiku.

“Tidak Bu, tidak apa-apa aku makan ikan sepanjang hari. Biar kota ini menjadi bagian dari perjalanan, Nur. Ramli adalah kesulitan pertama, Bayaran Kebaikan dari pasien berupa Ikan adalah kesulitan kedua, Menghadapi kompetisi sosial dengan tinggi rendahnya gelang emas atau dengan predikat sarjana adalah kesulitan ketiga, biarkan kota ini melanjutkan kesulitan-kesulitan yang Nur harus hadapi.” Jawabku tegas lalu berdiri dan bergegas menuju Puskesman.

Ibu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu kami sama-sama berangkat menuju tempat praktik masing-masing. Hidup di kota ini akan terus berlanjut hingga kesulitan terakhir suatu hari nanti. Dan aku akan membiarkan diriku mengantarkan pulang matahari merah tenggelam di laut.

Penulis: W Sanavero

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here