Weekend lalu saya menyempatkan diri berkunjung ke tanah kelahiran. Kebetulan saya adalah anak rantau yang sok sibuk dan mendapat kesempatan libur sehari lalu kemudian saya ambil untuk pulang. Kebiasaan keluarga saya yakni ketika sore mendekati maghrib, kami duduk bersama di ruang tamu lalu kemudian berbagi cerita. Awalnya saya yang membuka forum. Saya bercerita bahwa beberapa hari lalu saya pergi ke sebuah toko busana dan ingin membeli celana jeans. Lalu ibu saya menyauti dengan cerita pengalaman yang ia alami beberapa hari lalu. “Kemarin itu ya, ibu ke bank nah terus ibu ngeliat ada yang ngantri. Dia pake celana setengah paha. Duh langsung jadi sorotan orang-orang yang ada di bank. Semua pada ngeliatin. Sampai neneknya itu aja ya keliatan banget wajahnya malu karena penampilan cucunya itu.”

Sontak yang saya fikirkan apa sih yang sebenarnya ada di pikiran orang-orang yang melihat gadis itu? Apa salahnya jika ia memakai pakaian seperti itu? Bukankan seseorang berhak menentukan sendiri apa yang ingin dia pakai? Lalu kemudian aku teringat topik yang sedang marak dibicarakan oleh teman-temanku. Perihal Salmafina yang melepas hijabnya. Banyak yang memandang negatif hal itu. Bahkan cacian datang tak ada jedanya.

Lucu menurut saya ketika “mereka” menghujat mati-matian Salmafina. Bahkan berani menkafirkannya. Aku fikir, memangnya kafir atau tidak seseorang itu tergantung ketetapan orang lain ya, bukan ketetapan Tuhannya?

Keputusan Salmafina tentang hijabnya tak lain karena ikrarnya yang mengatakan bahwa dirinya kini adalah feminist by choice. Hal ini membuat orang-orang yang tidak paham apa itu feminist menjadi berfikir bahwa feminist merupakan aliran yang tidak baik bagi pemuda. Ditambah opini yang sebelumnya sudah marak terdengar bahwa feminist adalah produk yahudi, pengikutnya adalah kafir dan opini-opini negatif lainnya. Lalu kemudian terkait keputusan Salmafina tersebut, para feminis dianggap sebagai kelompok liberal karena turut membenarkan keputusan lepas hijab tersebut.

Padahal banyak sekali seseorang yang merasa dirinya terkekang hanya karena takut omongan orang. Seorang anak tokoh agama katanya, yang sebenarnya ia tidak nyaman dengan dress panjang, mau tidak mau setiap keluar rumah harus selalu memakai dress panjang itu. Karena khawatir ke-tokoh agama-annya itu tidak diakui orang sekitarnya. Ini contoh segelintir kecil perihal pakaian yang kemudian menjadi patokan bagaimana tingkat keimanan atau hubungan kedekatan dirinya dengan Tuhannya.

Jika seorang perempuan memutuskan untuk terus memakai hijabnya dalam kondisi apapun karena mereka merasa nyaman atau bahkan memiliki alasan yang jelas, it’s okey menurut saya. Itu hak mereka. Tetapi jika perempuan-perempuan yang kekeuh terhadap hijabnya malah menkafir-kafirkan saudara sesama manusianya yang memutuskan untuk melepas hijab, satu pertanyaan saya, apakah Tuhan merasa dirugikan saat ada seorang hamba yang memutuskan untuk melepas hijabnya? Nah, sama halnya seperti Salmafina ini. Duhai kaum yang menkafir-kafirkan Salmafina, apakah Tuhan merasa dirugikan ketika Salmafina memutuskan untuk melepas hijabnya? Lalu apakah dikau dengan tatanan busana seperti itu sudah jelas memegang tiket surga?

Dont make my clothing the standard of faith. No matter what clothes you wear, you are amazing. Tuhanku adalah Tuhanku, Tuhanmu adalah tuhanmu. Bagaimana bentuk keimananku adalah urusanku dengan Tuhanku, bukan dari mulut licinmu. Embrace it!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here