Kapal yang kutumpangi hampir tiba ke Pelabuhan Bakauheni. Di benakku sudah melembayung senyum Rara yang menghangatkan hati. Apalagi membayangkan melihat lesung pipinya, membuat dadaku jadi bergetar hebat. Entah, ini kangen atau sekadar hasrat lelaki yang paling purba. “Tunggu aku, Ra. Sebentar lagi aku sampai dan memenuhi janjiku,” ucapku dalam batin.

Angin bertiup cukup kencang menyambut di Lampung, tanah perantauanku mengadu nasib sekaligus kutemukan; cinta sejati. Angin dengan aroma tak asing, meski menyimpan kepahitan. Kepahitan yang membuatku berpisah dari Lampung – sementara waktu.

Bertahun-tahun bekerja dan meniti karier di minimarket, hingga mengantarkan aku sebagai kepala toko, kandas. Ada sebuah peristiwa aku terpaksa memanipulasi data stok barang, namun ketahuan oleh tim audit. Kemudian aku dipanggil atasan. Untung, atasanku cukup baik, ia memberikan dua pilihan: PHK atau mengundurkan diri. Aku memilih mundur baik-baik, mengajukan permohonan resmi.

Bagaimana tidak kumanipulasi? Setiap bulan selalu ada pengutil barang; sabun, pasta gigi, jajanan, minuman. Dan darisetiap barang yang hilang karyawan toko harus mengganti lewatpemotongan gaji. Mana ada perusahaan mau rugi? Kalaupun memperketat toko, menguntit setiap pelanggan, memantau setiap pergerakan, bisa-bisa tak ada yang mau datang. Bayangkan jika berada di posisiku sebagai kepala toko!

**

Rara sebal padaku yang nekat memanipulasi data. Seharusnya ganti rugi itu tetap menjadi tanggung jawab pribadi-pribadi. “Kamu harus profesional, Mas,” sergah Rara.

Kami saat itu duduk santai di pantai Tanjung Tua, menikmati deru angin sepoi dan debur ombak. Pantai yang masih perawan, belum banyak tersentuh tangan-tanganpengembang. Seperti namanya, Tanjung Tua, cocoklah untuk merancang dan mempersiapkan hari tua. Bersama Rara.

“Aku tidak tega melihat karyawanku, terus-menerus menganggung biaya kerugian toko bukan mereka yang mengutil. Tak sedikit karyawan memilih mengundurkan diri karena gaji selalu dipotong. Mau protes atau mogok? Pasti berujung pemecatan. Nah, saat itu ada salah seorang karyawan yang sangat butuh uang untuk membayar persalinan istrinya. Aku membayangkan kalau aku jadi dia dan kamu akan melahirkan anak kita. Bagaimana mungkin aku tega, Ra?”

“Baiklah, jika kamu tak tegas, tetapi bagaimana dengan nasibmu? Kamu juga butuh pekerjaan untuk membiayai kebutuhanmu, makan, kos, dan….”

“Menikah?”

Rara diam. Kulihat ia menunduk dan sorot matanya meredup. Namun ia masih terlihat manis. Hatiku terasa meleleh, tak tega memandang raut kesedihan yang terpacak di wajahnya yang jelita.

“Ra, kamu percaya padaku?” tanyaku sambil memegang dagu Rara dan mengangkatnya pelan.

Mata Rara berkaca-kaca. Lalu aku memandang kedua matanya lekat-lekat. Ia pun menunduk kembali. Dan aku tak kuasa, tak tahan, mengangkatnya lagi. Bagaimana mungkin akuhanya bergeming melihat air matanya menetes.

“Rara, kamu kenal siapa aku kan?”

Rara mengangguk.

“Kamu tahu bagaimana aku kan?”

Sekali lagi ia mengangguk.

“Kamu tak perlu mencemaskan aku, Ra. Aku paham yang kamu khawatirkan, tentang orang tuamu kan? Mereka menuntut seorang menantu yang telah mapan, berpenghasilan tetap. Tetapi apakah orang tuamu juga tak menginginkan menantu yang bertanggung jawab? Ra, rezeki sudah ada yang mengatur. Tugas manusia hanya berusaha dan berdoa. Hasil? Serahkan pada yang Maha Kuasa. Apakah kamu ingat aku tak pernah menyangka bakal lolos seleksi kepala toko? Padahal hasil tesku pas-pasan. Bukankah jabatan kepala toko amanah-Nya? Bukankah menolong sesama manusia adalah perintah-Nya?”

“Tetapi apakah dengan cara memanipulasi, Mas?” tanya Rara dengan suara sesenggukan sambil menunduk. “Lantas, apakah dengan memanipulasi bisa menolong mereka? Apakah gaji mereka tetap tak terpotong setelah kamu ketahuan? Menolong orang lain dengan cara jahat seperti mencuci pakaian tetapi menggunakan air kencing. Mas, tak perlu menyangkutpautkan apalagi membawa-bawa Tuhan dalam tindakan kejahatan. Setan saja tak pernah, Mas, tak sudi.”

Perkataan Rara seperti parang yang menusuk tepat di jantung. Makjebbb! Lidahku kelu, terkonci, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Dalam batin aku membenarkan perkataannya, tak bisa membantah, mengelak pun tidak. “Tuhan, sungguh indah ciptaan-Mu. Tak hanya cantik parasnya, pun hatinya,” batinku.

Terdengar debur ombak dan gesekan daun tertiup angin. Suaranya mengalun, melatari percakapan kami.

“Langkahmu setelah ini bagaimana, Mas?”

“Aku ingin pulang ke Solo. Sudah lama aku tak bertemu dengan Ibu. Di rumah hanya adik yang menjaga Ibu. Selama ini aku hanya bercakap-cakap lewat telepon, kadang vidkol. Rasanya, tetap tak mampu menggantikan pertemuan, bertatap muka, secara langsung. Bolehlah teknologi makin maju, namun yang namanya rindu terus saja purba. Pun rasanya tetap tak cukup memberikan kiriman rutin pada Ibu, sebab uang seberapa banyaknya takkan menggantikan sentuhan — pelukan.”

“Berapa lama kamu di sana?” tanya Rara dengan mata sembap.

Aku mengusap air matanya yang basah di kedua pipinya, seperti tangisan pedagang-pedagang yang menyaksikan pasar dan los mereka terbakar. Rara bergeming, pasrah, sementara aku mengusap air matanya yang bak sisa genangan banjir yang meluluhlantahkan perkampungan rakyat kecil di pinggir kota.

“Aku belum bisa memastikan, segera aku akan kembali,” ujarku.

Perkataanku itu memungkasi sekelebat kenangan pada pertemuan pada hari yang telah senja. Pun aku masih ingat, dengan biaya pencairan BPJS Ketenagakerjaan dan sisa gaji aku pulang ke Solo. Ingat pula bagaimana Rara melepasku di Bakauheni. Ia masih saja menangis, khawatir aku lama berada di Solo – apalagi tenggelam dan hilang dalam pelukan perempuan lain. Kadang aku merasa, cintanya padaku lebih besar daripada cintaku padanya. Ah, entah….

Mungkin ada benarnya kata orang-orang, perempuan mendahulukan perasaan, punya daya kepekaan lebih. Kekhawatiran Rara terbukti; niat awal berada di Solo hanya seminggu, tiba-tiba seluruh negeri dilanda pageblug, kemudian menyusul pemerintah menerapkan pembatasan sosial. Alkisah,seluruh warga kota tak bisa ke mana-mana, mendekam di rumah sambil bergidik dan menggigil – barangkali virus merangsek masuk lewat lubang kunci. Ragaku boleh terkurung di rumah, aku masih bisa bercakap-cakap dengan Rara lewat telepon. Namun itu tak cukup, tak memuaskan, benakku mengembara menyusuri pantai Tanjung Tua, Bakauheni, dan seluruh Lampung. Mencari, di mana Rara?

Hingga tiba saatnya pemberlakuan “kebiasaan baru”, moda transportasi umum pelan-pelan beroperasi. Tentang Rara aku sudah menceritakan pada Ibu. Setelah aku menjelaskan sosok Rara pada Ibu, sejurus ia setuju. Hanya, Ibu meminta aku harus bisa bertanggung jawab. Amanah. Maka, aku meminta persetujuan Ibu untuk melamar Rara. “Ibu setuju, Nak. Ibu ikut senang kalau anak Ibu senang. Anak Ibu bahagia,” kata Ibu sambil mengelus-elus kepalaku.

Dengan hati mantap aku melangkah, berangkat.

**

Bakauheni sudah di depan mata, tiba-tiba ponselku bergetar. Aku angkat, ternyata Ibu yang menelepon.

“Assalamualaikum, Bu?”

“Walaikumsalam, Nak,” kata Ibu.

“Iya, Bu?”

“Nak, ini ada undangan… ni… han…nya,” kata Ibu samar-samar karena deru angin kencang.

“Nihan siapa, Bu?”

“Halo?”

“Iya, Bu,” kataku sembari bersicepat masuk ke dalam dek. Di sana tak bising deru tiupan  angin.

“Dengar suara Ibu, Nak?”

“Iya, Bu. Jernih sekarang.”

“Ini ada undangan pernikahan buat kamu, Nak. Semalam sudah kutaruh di atas lemarimu, tak kamu ambil. Ketinggalan.”

Sejurus pikiranku  mengawang  ke mana-mana, mengingat-ingat kapan ada undangan masuk. Batin sudah diburu rasa penasaran, kutanyakan langsung pada Ibu.

“Pernikahan siapa, Bu?”

“Sebentar Ibu pakai kacamata dulu, Nak,” kata Ibu dan beberapa saat kemudian meneruskan, “dari De… wi….” ucap Ibu lamat-lamat.

“Dewi siapa ya, Bu?”

“Dewi Subadra, Nak.”

Seketika aku merasa tertimpa bom yang meluluhlantahkan seluruh tubuh dan menceraiberaikan bagian-bagiannya ke mana-mana. Dada terasa sesak. Kapal seolah terbelah dan tenggelam ke dasar, ke palung laut. Lenyap termakan ikan-ikan pemangsa.Apakah benar seperti ini yang Burisrawa rasakan tatkala cintanya kandas, karam pula harapannya yang membubung? Haruskah aku menculik, seperti Burisrawa lakukan pada Dewi Subadra? Bila perlu menghabisi sosok lelaki yang menjadi Arjuna dalam duduk perkara ini?

Mulutku terasa kopong, hatiku bolong, hilang semua pebendaharaan kata. Apakah ini rasanya tertusuk-tusuk, terkoyak-koyak, tapi tak berdarah?

“Oh, Nak, Nak, ini juga ada sepucuk surat. Mau Ibu bacakan untukmu?”

Aku masih diam.

“Nak, kamu tidak apa-apa?”

“Aku baik, Bu. Amat baik. Ini sudah sampai Bakauheni.”

“Alhamdulillah!”

—

Penulis: Much. Taufiqillah Al Mufti (Cerpenis dan Buruh, tinggal di Semarang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here