Aku menghela nafas pelan. Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Suara jarumnya yang bergeser seolah terdengar lebih keras dari biasanya. Aku masih tak percaya, selepas latihan tadi, ada pesan masuk di gadget-ku, berita duka.

“Innalillahi wa inna ilaihi raajii’uun, telah meninggal dunia, ibu dari siswa kita yang bernama Fajar. Semoga amal ibadah almarhumah, diterima di sisi-Nya. Aamiin.”

Tak menyangka, perempuan yang secara usia mirip denganku itu kini telah tiada. Sosok ibu yang hebat. Sudah sepekan ini, beliau dirawat di rumah sakit berjuang melawan kankernya. Beliau salah satu wali murid yang sering berkomunikasi denganku. Putranya berada di kelasku. Anak laki-laki menjelang usia remaja tersebut kini duduk di bangku kelas 5 SD. Fajar, namanya, anak aktif nan ceria yang selalu berprestasi di kelas. Bahkan, dia dijuluki bintang lapangan karena prestasinya di bidang olahraga.

Siang itu, masih teringat jelas bagaimana raut muka anak lelaki itu saat aku bersama beberapa guru menuju rumahnya untuk takziyah. Wajahnya menunduk, diam. Fajar yang biasanya selalu tersenyum saat melihatku, hanya menatap datar kehadiran bapak ibu guru yang berbondong ke rumahnya. Ia menyambut kami dengan pandangannya kosong. Saat kami berbincang dan menyampaikan ungkapan bela sungkawa, kulihat sesekali ia meremas jemari tangannya.

“Fajar anak kami satu-satunya. Ia sangat dekat dengan ibunya. Putra kami ini selalu menemani ibunya bahkan saat ajal menjelang,” kata lelaki yang berusia 40 tahun tersebut.

Ya, Fajar memang anak yang dekat dengan ibunya. Saat awal ibunya sakit dulu, ia tak seaktif sebelumnya. Di kelas lebih banyak diam dan menyendiri. Dua pekan yang lalu, Pak Hudan, guru olahraga di sekolah, meminta Fajar mewakili para siswa untuk mengikuti lomba lari tingkat kecamatan. Memang tidak diragukan prestasi Fajar di bidang olahraga, terutama lari. Ia pernah berkelakar, “lari adalah olahraga paling menyenangkan saat kita ada masalah.”

“Nak, kuat ya, Nak. Umma pasti bangga memiliki anak hebat dan saleh sepertimu. Bantu ayah jaga adiknya ya,” begitu pesanku saat akan meninggalkan rumah dengan aksen ukiran modern. Rumah yang terlihat sangat asri. Di depan ada kebun kecil yang berukuran 2×2 meter. Aneka jenis bunga dan tanaman menambah rindang suasana. Namun aku yakin sekarang rumah ini tak lagi sama. Rumah itu kini akan sunyi dari suara tawa seorang ibu.

Aku menutup laptopku. Tugas sebagai guru kelas dan tambahan menjadi koordinator lomba membuatku lebih banyak berinteraksi dengan layar pipih ini di malam hari. Namun, sebenarnya malam ini aku selingi dengan membuka chat whatsapp dan beberapa file foto yang dikirim ibu Fajar beberapa hari yang lalu. Beliau sempat mengirim dua foto lain yang menunjukkan prestasi ananda.

“Anak ini sudah menjadi duta lari sejak lama. Dua kali menjadi juara tingkat kecamatan. Bahkan, pernah juga ia menjadi juara 2 di lomba lari Tingkat Kota, titip jagoanku, ya Bu,” begitu isi pesan tersebut.

Saat itu, ibu Fajar tengah dirawat di rumah sakit. Kondisinya semakin menurun dalam sepekan terakhir. Aku tak menyangka, perempuan muda yang aktif di sekolah sebagai wakil dari orang tua siswa tersebut, tengah berjuang melawan penyakit kanker di satu tahun terakhir. Parasnya ayu, kulitnya kuning langsat. Tiap kali tersenyum, ada lesung pipi yang terlihat, menambah aura kecantikannya. Senyum lesung pipi itulah yang juga dimiliki Fajar.

“Ah… Fajar, yang kuat ya, Nak.”

***

Tiga hari setelah kepergian ibunda, aku mengizinkan Fajar untuk libur dari aktivitas latihan. Biasanya, Pak Hudan akan menjemput Fajar seusai doa pembiasaan pagi untuk berlatih di lapangan bola dekat sekolah. Aku memberi jeda waktu bagi Fajar untuk menuntaskan kesedihannya. Hari ini adalah hari keempat. Seharusnya, ia sudah masuk sekolah untuk persiapan lomba esok hari. Namun sampai hampir jam 7, ia tak terlihat. Hatiku mulai cemas dan bertanya-tanya, “Nanti, coba kuhubungi ayahnya untuk menanyakan kabar Fajar,” begitu batinku. Setelah menyalami guru piket di gerbang sekolah, aku membalikkan badan bersegera menuju kelas. Di Tengah perlajalanku ke kelas, samar kudengar langkah kaki, berlari mendekat.

“Bu Ikke…,” teriaknya kecil.

Kulihat Fajar berlari mengejarku. Ia langsung menyalamiku.

“Maaf ya Bu, aku terlambat,“ begitu ujarnya sambil berusaha mengatur napas. Aku tersenyum melihat Fajar. Kutepuk pundaknya lalu memberi isyarat agar ia segera menuju kelas.

***

Bel tanda jam pembiasaan pagi usai. Pak Hudan, seperti biasa, menyambangi kelasku. Memanggil jagoanku untuk bersiap menuju lapangan bersama calon atlet lomba lainnya. Tak lupa, Fajar mengganti sepatunya. Sejak sekolah menunjuknya sebagai delegasi atlet bersama beberapa siswa pada cabang olahraga lainnya, para dewan guru memberi izin semua atlet memakai baju olahraga untuk berangkat ke sekolah, termasuk Fajar. Dalam sepekan, ia berlatih sebanyak lima hari untuk mempersiapkan lomba. Sekolah kami menerapkan aturan full day, artinya, anak-anak belajar sampai sore hari. Jam 4 persis bel pelajaran berakhir. Tak ada kegiatan tambahan. Ekstrakurikuler kami adakan setiap Jumat seusai salat Jumat berjemaah. Beberapa kegiatan tambahan lain ada pada Sabtu.

Aku melambaikan tangan ke Pak Hudan, sambil mengangguk memberi tanda untuk membawa Fajar Bersama beberapa siswa lain menuju lapangan. Setelah Fajar berpamitan, aku melanjutkan pembelajaran di kelas.

“Bu Ikke, bisa nyusul ke lapangan sekarang? Fajar berkelahi?!” tekan Pak Hudan.

“Ya Allah… baik, Pak, saya menuju ke sana,” sahutku penuh cemas.

Aku berlari menuju parkiran, kebetulan hari ini aku hanya mengajar dua jam pelajaran. Selebihnya, kubawa laptopku menuju perpustakaan untuk menyelesaikan tugas administrasi guru. Aku memasukkan kunci motor, kupacu setengah ngebut. Meski tak jauh dari sekolah, namun untuk menuju lapangan perlu waktu yang lumayan jika berjalan kaki.

Kulihat, kerumunan siswa, Pak Hudan masih berusaha untuk menjauhkan dua siswa. Benar saja, kulihat Fajar dengan muka yang masih merah padam. Napasnya memburu tak beraturan, pandangannya tajam, mengarah pada seorang anak, Bima, siswa yang terkenal usil di sekolah. Kuparkir motor di dekat sana. Aku mendekat, memegang tangan Fajar dan menariknya untuk menjauh. Pak Hudan melepas pegangannya dari Fajar. Sekilas kulihat punggung tangan Fajar lebam, mengeluarkan darah.

“Ya Allah, Nak. Ada apa? Kenapa tanganmu??”

Fajar hanya diam, sorot matanya masih menunjukkan amarah. Baru kali ini kulihat ia begitu marah. Tangannya masih mengepal. Pandangannya tak lepas dari Bima. Siswa kami itu memang sering kali membuat masalah. Ia tak begitu tekun dalam pelajaran, namun prestasi sepak bolanya kami acungi jempol. Sejak awal latihan, Bima memang sering membuat masalah. Entah mengeluarkan celetukan kasar, menggoda siswa yang sedang berlatih, bahkan tak jarang ia bertikai dengan atlet lain karena hal sepele.

Sejenak, setelah menepi dan duduk di kursi stadium lapangan, kuamati kembali wajah Fajar. Aku mengeluarkan sapu tangan dari kantong seragam. Kubalut luka di tangan Fajar. Aku tak lagi bertanya alasan ia marah. Pak Hudan menjelaskan singkat. Saat latihan tadi, Fajar melepas sepatunya sebentar. Bima yang tengah berisitirahat di dekat sana, mengambil sepatu itu, melepas talinya, lalu melempar ke tengah lapangan. Mungkin saat itu, Fajar masih dalam kondisi bersedih, karena tidak seperti biasa, kali ini ia menunjukkan amarahnya. Seketika itu, ia berlari menuju Bima. Menerjang, memukulinya berkali-kali. Pak Hudan yang tengah mengamati atlet lain berlatih, seketika menghambur ke arah mereka berdua. Tubuhnya yang tinggi besar seharusnya mampu memisah dua anak tersebut, namun kemarahan Fajar yang meledak-ledak, seolah memberinya tenaga ekstra. Pak Hudan kewalahan, beberapa siswa diminta membantu untuk memisah.

Fajar masih terdiam, ia memegang erat kedua sepatunya. Kulihat sepatu itu tak rusak, hanya saja sedikit kotor dan simpul talinya terlepas.

“Nak, ibu bantu mengikat talinya ya,” begitu tawarku pelan. Fajar tak bergeming, pandangannya kabur, butiran bening membasahi pipinya. Ia masih memegang kedua sepatu itu, bahkan lebih erat. Setelah memberinya sebotol air mineral, aku mengajaknya kembali ke sekolah menaiki motor. Sepanjang perjalanan, Fajar terdiam, ia masih memeluk kedua sepatunya. Saat sampai sekolah, kubawa ia menuju masjid untuk membersihkan kakinya di kran terdekat. Aku membiarkannya menenangkan diri sejenak. Ia tak langsung menuju kran, namun duduk termenung di serambi masjid.

Halaman masjid yang bergandeng dengan lapangan ini, memang begitu luas. Dulu, saat masid direnovasi, Fajar memberikan lukisan kaligrafi terbaiknya untuk dipanjang disana. Lafadz basmalah terukir indah. Aku masih ingat, ia mewakili kelas mengikuti lomba kaligrafi dalam rangka pondok Ramadan di sekolah. Fajar mendapat juara satu. Tentunya ini membuatku semakin kagum pada anak lelaki manis tersebut. Ternyata, siswa berlesung pipi ini juga pandai dalam seni keislaman. Kulihat Fajar masih duduk terdiam. Aku berbalik menuju perpustakaan. Sepertinya ia masih marah atas perbuatan Bima yang melempar sepatunya tadi, begitu batinku. Besok adalah hari lomba diadakan. Aku tak mau merusak suasana hatinya dengan banyak bertanya.

***

Aku merapikan meja di ruang guru. Sudah hampir jam 5 sore, ruangan berukuran 8×12 cm ini tampak begitu lengang. Sesekali petugas kebersihan berlalu untuk membersihkan ruangan. Saat akan beranjak ke parkiran, kulihat ruang kelas yang kebetulan berada di dekat area parkir kendaraan guru. Sekelebat ada sosok yang masih berada disana. Aku menuju kelas dengan hati yang bertanya. siapa yang belum pulang? Ada tugas apa?

Kubuka pintu kelas lebih lebar, kuamati lagi. Ternyata Fajar. Ia duduk diam. Sepatu diletakkan diatas meja dengan tali yang terlepas dan kotor.

“Nak…. Tak pulang? Besok lomba, kau harus sehat dan bugar,” begitu saranku.

Fajar masih diam. Aku meraih tali sepatunya, mencoba untuk mengikat dan membuat simpul. Disaat itu, air mata Fajar tumpah. Sambil terisak ia bercerita.

“Tali sepatu ini, dipasang ibu sebelum tiada. Beliau menyimpul dengan wirid doa, sebagaimana kebiasaan beliau saat aku akan berlomba. Kini aku tidak bisa lagi ikut lomba, Bu. Penyemangatku tidak ada. Bahkan untuk simpul tali sepatu yang dibuat juga sudah hilang.”

Fajar terus terisak. Aku terkesiap mendengar ceritanya. Kuamati lagi sepatu itu. Ahh… rupanya bukan karena sepatu yang dilempar. Ia marah karena satu-satunya kenangan penyemangatnya berlaga telah rusak.

“Fajar… Ibu turut berduka cita atas kepergian ibumu. Tapi, saat beliau tidak lagi mendampingimu di dunia, doa dan kasih sayangnya masih melekat. Kamu harus kuat, Nak. Ibu masih ada lewat doa-doa baik yang kau lafalkan. Nak, kamu bisa melalui ujian ini. Belajar menerima takdir Allah, apapun itu. Allah memberikan ujian ini karena kamu kuat, Nak,” pesanku lembut.

Segera kuambil gadget dan men-scroll obrolan terakhirku dengan almarhumah. Masih kupandangi foto Fajar kecil yang tersenyum manis memegang piala. Kulihat simpul sepatunya, terikat layaknya sepatu bertali pada umumnya. Bedanya, ada simpul membentuk pita kecil dibagian ujung.

“Kalau diizinkan, Ibu bantu membuat simpul sepatunya ya, Nak. Kelak, Fajar harus mulai belajar mengikat tali sepatu sendiri,” begitu hiburku.

Setelah mengikat tali sepatunya, aku memegang bahunya, memberi semangat. Fajar mulai menyeka air matanya. Ia memakai sepatu yang sejak tadi diletakkan diatas meja. Setelah berpamitan, Fajar mengucapkan terima kasih. Aku terdiam, mengamati sosoknya sampai menghilang dari pandangan.

***

Pukul 06.00 motorku sudah memasuki kawasan perlombaan. Setelah memarkir motor, kusapu pandanganku kepenjuru lapangan. Memindai setiap kerumunan yang ada, tentunya mencari sekelompok tim berbaju hijau, khas baju olahraga dari sekolahku. Kulihat Pak Hudan melambai. Seperti biasa, sambil tersenyum ramah beliau menyapaku.

“Bu guru ini pasti sedang mencari jagoannya, bukan?” guraunya padaku. Sebelum aku merespon, ia menunjuk seorang anak yang tengah duduk dibawah pohon beringin yang berada di sudut lapangan. Tanpa berbasa-basi, kuhampiri anak tersebut.

“Fajar…,” panggilku bersemangat. Ia tersenyum melihatku. Meski tak sesumringah biasanya, namun bagiku, melihat lesung pipinya muncul kembali, sudah cukup. Setelah berbincang sebentar, aku mengantar Fajar menuju tim bersama Pak Hudan.

Perlombaan tuntas di sore hari. Fajar kami menjadi juara 1 lomba lari Tingkat kecamatan. Sambil tersenyum memegang piala, Fajar menghampiriku. “Ibu, ayo kita foto,” begitu ajaknya.

Aku tersenyum disamping Fajar.

Setelah puas berfoto, aku menatapnya. Nak, mulai sekarang berjanjilah untuk membuat ibu terus bangga padamu. Jadilah seperti Fajar, Mentari pagi yang sinarnya lembut, indah berkilauan.”

Fajar mengangguk pelan. Senyumnya samar diiringi buliran bening yang membasahi pipinya. Hari merangkak menuju puncaknya. Namun, mentari seolah mengantuk, malu-malu bersembunyi dibalik awan, tanpa terik yang menyengat.

“Juara bukan hanya milik mereka yang berdiri di podium, tetapi juga bagi hati legawa untuk menerima semua takdir Allah. Itulah kemenangan sejati”

PENULIS:

Ikke Nilova El Hasany

Guru Bahasa Arab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here