PERINGATI HARI ANAK DAN HARI GURU: GUBUK TULIS, DUDUK BACA, DAN OASE INSTITUTE ADAKAN OASE TALKS MEMBAHAS LEMBAGA PENDIDIKAN SEBAGAI RUANG AMAN BAGI ANAK

0
2370

Gubuk Tulis berkolaborasi dengan Duduk Baca dan Oase Institute mengadakan kegiatan Oase Talks pada 22 November 2025. Kegiatan  yang bertempat di Oase Cafe & literacy dihadiri 20 peserta dari latar belakang pendidikan yang berbeda. Komunitas Gubuk Tulis dikenal begitu berani dan progresif. Gubuk Tulis hadir sebagai ruang aman bagi para pegiat literasi untuk mengembangkan ide-ide kritisnya dengan menghadirkan gagasan-gagasan yang lebih terbuka terhadap diskusi. Komunitas ini biasanya juga mengundang sejumlah tokoh atau pembicara yang kredibel dan cukup terkenal untuk berdiskusi bersama.

Dalam diskusi kali ini hadir Alfian Fawaidil Wafa (Peneliti Oase Institut/Akademisi UM) dan Rinanda Aprilia Sari (Konselor Yayasan Koppatara) sebagai narasumber untuk membahas isu penting mengenai peran lembaga pendidikan sebagai ruang aman bagi anak.

Lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga menengah memiliki peran ganda, yakni sebagai tempat transfer ilmu dan sebagai arena pembentukan karakter. Mirisnya, banyak sekali kasus perundungan dan bentuk kekerasan di lingkungan sekolah, membuktikan sekolah gagal memberikan ruang belajar aman bagi murid.

“Ruang aman di Lembaga Pendidikan saat ini semakin sulit di temukan karena meningkatnya kasus kekerasan dan perundungan di sekolah. Berdasarkan KPAI 2024, bullying paling banyak terjadi di tingkat SD (25%), SMP (24%)), dan SMA (18%). Sebagai konselor di Yayasan Kopattara, saya melihat banyak anak mengalami kekerasan berulang yang bahkan sebagian korban akhirnya berubah menjadi pelaku karena adanya tekanan emosional yang panjang,” Jelas Rinanda. Ia juga menambahkan bahwasanya akar masalah dari bullying sering kali bermula dari rumah. Pola asuh otoriter membuat anak tidak bisa bersuara. Akibatnya, anak justru menunjukkan ekspresi kekuasaan di sekolah dengan menindas teman yang lebih lemah. Minimnya pengawasan di sekolah dan paparan media sosial memperparah seorang anak meniru perilaku kekuasaan tanpa memahami konsekuensinya.

Sekolah seharusnya menjadi tempat tumbuh rasa aman dan percaya diri bagi siswa. Ketika perundungan di biarkan, dampaknya tidak hanya terjadi pada psikologis siswa saja. Proses belajar mengajar mungkin akan terganggu karena lingkungan menjadi tidak kondusif. Hal ini sangat bertolak belakang dengan prinsip pendidikan yang mengutamakan ruang aman bagi siswa.

Dalam diskusi kali ini Alfian menekankan bahwa upaya pencegahan perundungan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kompetensi pendidik dalam menangani kasus kekerasan hingga pengusutan kebijakan sekolah yang tegas. Dengan ini, orang tua dan masyarakat juga bisa ikut terlibat dalam menangani permasalahan ini. Menurutnya, upaya pencegahan harus dimulai dari rumah dan diperkuat oleh sekolah melalui penyediaan ruang konseling, kotak aspirasi siswa hingga pendekatan non-judgmental terhadap pelaku maupun korban. Ia juga menegaskan bahwasannya guru, orang tua, dan komunitas harus bekerja sama memastika bahwa lembaga pendidikan benar-benar menjadi ruang belajar  yang aman bagi anak.

Dengan ini, mari kita pastikan bahwa pola asuh yang diterapkan kepada anak bisa benar-benar membimbing mereka ke arah yang benar. Pastikan anak merasa aman dan nyaman di rumah tanpa adanya pertengkaran atau masalah lainnya. Sikap dan perilaku anak tergantung bagaimana orang tua berperilaku karena sejatinya anak hanya meniru dari apa yang ia lihat dan ia dengar.  Mari bersama menjaga generasi penerus bangsa supaya kasus bullying bisa berkurang dan teratasi bersama dengan terus memberinya contoh yang baik serta bimbing anak dengan pengetahuan supaya mereka lebih tertata dan terhindar dari perbuatan buruk lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here