Belum lama ini, ada dua kabar dari ranah hukum yang cukup mengejutkan khalayak dan jagad media social. Pertama kabar putusan hukum atas terdakwa kasus “penyidik KPK, Novel Baswedan”, yang dituntut dengan hukuman satu tahun saja penjara oleh jaksa penuntut, kabar yang kedua dan tak kalah mengejutkan juga yaitu mengenai seorang pemuda di kepulauan Sula yang dibawa ke kantor polisi setempat karena mem-posting candaan ala Gus Dur tentang tiga polisi jujur. Terkait  dengan kedua kejadian tersebut, terdapat satu titik kesamaan bila dilihat dari sisi maksud, yaitu “tidak sengaja”. Bila pada kasus Novel Baswedan, kata “mereka”, “terdakwa tidak sengaja menyiram air keras ke wajah korban”. Pemuda yang mem-posting lelucon Gus Dur mengenai tiga polisi jujur, boleh dibilang tak ada unsur kesengajaan juga, atau ya tak punya motif tertentu atas unggahannya tersebut.

Tak sekadar itu, kedua peristiwa di atas memiliki satu persamaan lagi yang bisa dibilang tak sengaja juga, yang mana terdakwa atas kasus Pak NB, merupakan seorang polisi  dan postingan pemuda asal Kepulauan Sula dengan mengutip lelucon Gus Dur, juga tentang polisi –boleh dibilang tak jauh-jauh dari yang namanya “Dunia Kepolisian”. Tidak sebatas itu, bahkan kedua kejadiaan di atas dapat dibilang “tak sengaja” mempunyai kesamaan pula dari sudut cara menanggapi peristiwa tersebut. Hanya berbeda pada tataran skala porsi yang diterima. Pada kasus Pak NB, suara-suara netizen menanggapi dan menilai hukuman satu tahun terdakwa terlalu kecil, sepele atau sederhana– mengingat kasus penyiraman pada korban merupakan kasus perkara “besar”.

Sebaliknya, netizen menganggap kasus atas postingan lelucon Gus Dur, sekadar hal sepele dan seharusnya itu tidak perlu terlalu dianggap serius oleh pihak terkait. Meskipun, kita masih penasaran dengan bertanya-tanya, mengira-ngira atau menebak-nebak kembali, walau pasti bisa salah sih!. Mengapa pemuda tersebut memilih mem-posting lelucon itu? Apakah sebab keresahan yang dia rasakan? Apa karena kegelisahan yang dialaminya? Ataukah ada peristiwa yang mengenang dalam pengalaman hidupnya?.

Akan lain hasilnya…, akan mendapat tanggapan dan ditanggapi berbeda bila yang melakukan postingan dengan lelucon Presiden Indonesia ke-4 tersebut, dilakukan oleh tokoh nasional, figure publik, komunitas atau orang yang mempunyai kedudukan.

Sepertinya kita berada di awang-awang berkabut sehingga agak sulit melihat sesuatu dengan jelas, disebabkan terhalang dan terselimuti di ranah awan kabut yang kian menebal. Meskipun ada “Payung Hukum” sebagai alat melindungi “mereka” dari “hujan dan panas terik” yang muncul. Walau tersedia “Palu Hukum” yang juga sebagai alat buat memukul, mencabut, menghancurkan, merapikan dan membentuk dari tindak dan serangan “musuh”. Kok begitu? Mengutip Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 sebagai berikut: “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.” Pun dalam Pasal 28F UUD 1945 :

“Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.”

Meskipun, telah ada pasal-pasal yang mengatur kebebasan mengeluarkan pendapat, sebagaimana telah disebutkan diatas. Tetapi “awan kabut’’ yang membuat bingung tidak jelas warna hitam atau putihnya, apalagi ditambah gradasi warna lain, semua tampak abu-abu. Mengapa demikian? Boleh jadi, kita merasa hanya menyampaikan pendapat, tetapi bagi kita yang lain itu suatu ejekan. Bisa saja mereka menganggap sekadar melontarkan saran, tetapi bagi mereka yang lain itu penghinaan. Si pembuat mungkin bermaksud mengkritik, tetapi orang lain bisa saja menangkap maksud itu sebagai penistaan Kami merasa hanya ingin menyuarakan aspirasi, kami yang lain merasa itu pencemaran nama baik. Bagi aku merasa hanya bersiul, tetapi bagi aku yang lain itu suara kentut.

Sulit rasanya untuk mengidentifikasi kata-kata, kalimat, tulisan atau ucapan. (Harus dimasukkan dalam jenis apa?) Apakah jenis saran, kritik, usul, pendapat, atau kelompok jenis fitnah, ejekan, penistaan, penodaan, atau kemungkinan lain pada….?

Sanggupkah diri saya pribadi mengetahui niat, motif atau maksud seseorang secara tepat dan bahkan dengan benar?. Jawaban dari diri saya tentu sangat sulit, walaupun andaikan saja saya jenius, berangkat menggunakan tolak ukur sebagai manusia. Sebab itulah ajaran Tuhan agar kita mengutamakan selalu prasangka baik bukan sebaliknya, yangmana ruang dan wilayah manusia berada pada keterbatasan ketidak-pastian. Dengan ilmu, nilai, dan cakrawala pemikiran yang dimiliki, kita harus mencoba berusaha semampu kita menerka, mengurai dan memaknai apa maksud dari sebuah fenomena, peristiwa, gejala, juga suatu situasi. Tanpa lalai untuk mencari dan mengambil hikmahnya. Tentu saja dengan kadar kemampuan masing-masing dalam kesadaraan, bahwa output-nya adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here