Kesan pertama mendengar kata HOLIDAY di akhir tahun, tentu yang terbesit adalah pantai, jalan-jalan, belanja, tempat wisata, dan makan-makan. Atau ada tipe kedua libur panjang adalah waktu terbaik untuk merehatkan badan setelah satu semester sebelumnya di padatkan dengan banyak rutinitas, liburan adalah me time waktu dimana kita akan pulang ke kampung halaman berkumpul dengan keluarga di rumah dan men-skip sejenak segala tugas dan perkerjaan yang ada di luar sana. Banyak cara untuk menafsirkan liburan.

Namun sadarkah kita, jika secara harfiah kita dapat teliti memaknai kata HOLIDAY kita akan mendapati liburan kita lebih berfaedah dan tak berlalu begitu saja sama untuk setiap tahunnya.

Kata Holiday bisa kita pecah menjadi dua kata kunci yakni ‘holy‘ yang artinya suci dan ‘day‘ yang berarti hari. Jadi, dapat diartikan holy-day atau liburan adalah hari yang suci.

Eitts… mengartikan suci di sini bukan bersih dari segala jenis beban dan tanggung jawab tugas dan pekerjaan loo ya, tapi lebih bijak lagi adalah hari dimana kita dapat lebih mensucikan diri. Karena mungkin selama satu semester sebelum liburan kita terlalu terfokus pada dunia, dan tersibukkan dengan berbagai job dan tugas-tugas kuliah. Sehingga, waktu liburan dapat dijadikan ajang refleksi untuk memperbaiki kualitas spiritual kita. Mengisi liburan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Meningkatkan kualiatas dan kuantitas ibadah kita, karena waktu kosong kita selama liburan sangatlah luas.

Selain itu, menjadikan holy-day lebih berfaedah jika kemudian kita isi dengan menjadi bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan. Karena mensucikan diri tak hanya secara hubungan kepada Tuhan saja (Hablumminallah) akan tetapi juga dengan memperbaiki silaturrahim dengan sesama manusia (hablumminannas).

Kita dapat mengganti destinasi tempat wisata liburan kita dengan tempat wisata di daerah yang ada family kita di sana. Why not? Jika kemudian liburan digunakan juga sebagai ajang saling bersilaturrahim mempererat persaudaraan kita dengan keluarga, toh tak akan rugi, kita tetap bisa menikmati liburan di tempat wisata daerah tersebut, bukan?

Selain mempererat persaudaraan dengan manusia yang masih ada di muka bumi, kita juga dapat mengisi holy-day kita dengan mensucikan diri secara ruhaniah, dengan melakukan ziarah kepada waliyuallah maupun pahlawan-pahlawan bangsa.

Mengisi liburan dengan wisata religi semacam ziarah seperti ini akan memikiki dampak yang sangat positif. Karena selain kita akan senantiasa mengingat mati, kita juga akan mendapat barokah dari beliau-beliau yang kita ziarahi karena dari dekatnya mereka dengan Allah SWT.

Last but not least. Menjadi bagian dari para pecinta lingkungan (hablumminalalam) yang mengisi liburan dengan mensyukuri nikmat Tuhan juga tak bisa kita lupakan. Ini menjadi alternatif terakhir setelah semua pilihan mengisi holy-day kita di atas telah kita penuhi. Mungkin, dengan berpergian ke pantai atau air terjun dapat menjadi pilihan mensyukuri ciptaannya di penghunjung liburan.

Sebelum kadar Holiday, Holy-day, kita menipis mari kita prepare, liburan seperti ala yang akan kita nikmati. Apakah hanya pemuas dan ajang memperbanyak koleksi foto di galery saja? Atau justru menjadi liburan yang benar-benar mensucikan diri kita. Menjadikan kita pribadi yang lebih baik lagi pasca liburan. Karena jangan sampai kita kemudian baru menyadari stok hari libur kita telah habis dan saat kembalu pada rutinitas kita, justru terjangkit post holiday syndrome, yakni semacam kondisi tak rela liburan berkahir.

Tentu kita tak akan mau bukan? So, dari setelah membaca tulisan ini, perbaiki pola liburan kita. Agara senantiasa menjadi manusia yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan tentunya.

Penulis: Nuril
Penyuka sastra dan fisika tentunya, pegiat literasi di Gubuk Tulis dan fasilitator tim sains di Kampus Desa Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here