Tahun politik membuat negara yang dihuni oleh umat muslim terbesar, dan negara pemilik pulau terbanyak di dunia, sepertinya sedikit memanas dan membakar ranah sosial didalamnya, disebabkan adanya pesta demokrasi pemilu pemilihan presiden dan wakil presiden yang akan diselenggarakan pada beberapa bulan kedepan.Pada pemilu tahun ini terdapat dua pasangan calon yang masing-masing darinya memiliki dukungan yang cukup kuat dari rakyat dan beberapa tokoh besar, termasuk partai pendukung, terlebih dukungan dari beberapa ulama yang mereka anggap kontribusi dukungan dari mereka sangat diperlukan, dikarenakan ulama memiliki ummat atau masa.

Namun, sepertinya pemandangan pemilu tahun ini sangat berbeda jauh dengan pemilu sebelumnya, salah satunya, pemilu tahun ini nuansa agamnya sangat kental dan sensitif, dan antusias setiap masing-masing pendukung sangat tinggi, dan masing-masing mengklaim kalau pasangan capres dan cawapresnya yang mereka dukung adalah yang paling kompeten dalam memajukan Indonesia.
Indonesia.Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki banyak kelebihan dari banyak aspek, mulai dari pulau yang menjadi salah satu terbanyak di dunia, bahasa yang beragam, sampai jumlah penduduk yang juga terbilang banyak, hingga adat dan tradisi yang pusparagam dan sebagainya. Tentu Indonesia sangat beruntung, karena itu semua berada di bawah payung bhineka tunggal ika ( berbeda-beda tapi tetap satu ).
Bineka tunggal ika merupakan suatu konsep khaidah yang sangat tepat untuk menyatukan manusia, dan konsep itu sepertinya hanya dimiliki negara Indonesia, dan secara tidak sadar, itu adalah konsep yang termaktub di dalam Al-Qur’an. ”Aku (Allah SWT) ciptakan kalian dari laki-laki, dan perempuan, dan kami jadikan kalian berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia dihadapan Allah SWT adalah yang paling bertaqwa”(QS al-hujor 13.)
Memang, tahun politik membuat sebagian besar masyarakat Indonesia cukup lesu dalam menghadapi perbedaan terutama para tokoh agama. Dampak dari itu semua adalah :perpecahan, bahkan kriminal pun mulai merajalela, tali persahabatan dan persaudaraan mulai kendur. Semua itu terjadi akibat dari beda pilihan politik dan pandangan, sehingga keluar dari nilai-nilai kemanusian dan sifat santunya. Bahkan pernah diberitakan, di Madura ada sesorang yang tega membunuh salah satu pendukung calon presiden tertentu karena dia mencaci calon presiden yang didukung oleh pembunuh tersebut.
Sejatinya :berbeda keyakinan, pandangan, pikiran, politik dan pilihan, itu merupakan suatu hal yang lumrah dan wajar, bahkan bisa dikatagorikan wajib.
Berbeda itu wajib dan sebuah kelaziman. Sangat mustahil dalam kehidupan di tengah keragaman ini kosong dari perbedaan alias sama. Tidak mau berbeda, itu keluar dari fitrah kemanusiaan. Kita hidup itu punya dua pilihan, berbeda atau menerima perbedaan, dan jangan alergi dengan perbedaan yang dimiliki orang lain. Kerana berbeda itu adalah suatu hal yang lumrah dan masuk akal.
Jika kita perhatikan, ada beberapa ayat Al-Qur’an yang membicarakan perihal perbedaan. Dengan jelas dan tegas Allah dalam hal ini berfirman, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, sudah tentu Dia (Allah SWT) menjadikan ummat manusia yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS Hud 118 )

Sepertinya ayat ini sangat cocok untuk kondisi yang sedang terjadi di negeri Indonesia saat ini. Dan di ayat tersebut Allah ingin menegaskan bahwa Dia sangat bisa jika umat manusia dijadikan satu dalam segala aspek, namun Allah tidak ingin hal tersebut, yang Allah inginkan adalah, manusia berbeda-beda dalam banyak hal, baik itu memilih, berfikir dan lain sebagainya, namun tetap berada dalam koridor saling menghormati dan saling menerima dengan santun perbedaan tersebut, bukan sebaliknya.Dan Islam sangat membuka lebar-lebar bagi yang ingin berdiskusi, debat dan lain sebagainya, namun tetap dengan cara yang paling baik ”Dan berdebatlah dengan cara yang paling baik” (QS. An-Nahl 125)

“Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah 2 ). Ayat di atas menunjukkan bahwa apa yang diinginkan Allah dari manusia adalah saling menolong dalam kebaikan, bukan sebaliknya.

Memang masyarakat Indonesia memiliki dua alternatif untuk memilih, namun masing-masing memiliki hak dalam memilih, tanpa ada paksaan, dan itu mudah dan hal yang sangat sepele. Jangan sampai karena berbeda soal selera politik menjadikan masyarakat pecah, dan jangan pula mau dipecah, bahkan pantang untuk dipecah, karena persatuan itu mahal dan sulit, jangan korbankan persaudaraan dan agama kita demi politik. Menyatukan tidak mudah, menyatukan bagaikan membangun suatu rumah atau bangunan, dan memecahkan itu mudah, bagaikan merobohkan suatu bangunan. Jari-jemari menjadi pelajaran dan bahan renungan bagi kita semua dimana terdapat perbedaan dari beberapa aspek, namun satu sama lain saling melengkapi.

Bersatu itu agung dan memiliki nilai-nilai kesucian dan besar manfaatnya, dari persatuan membuahkan hasil berupa :pribadi-pribadi yang saling menolong, saling menghormati, dan banyak lagi dampak-dampak positif dari persatuan. Berbeda selera politik, itu harus, karena dengan berbeda, pesta demokrasi bisa terselenggara, tanpa berbeda dalam memilih presiden dan wakil presiden, itu bakal menghambat terselenggaranya pesta demokarsi.

cah / Di Pe cah ?

Tahun politik membuat negara yang dihuni oleh umat muslim terbesar, dan negara pemilik pulau terbanyak di dunia, sepertinya sedikit memanas dan membakar ranah sosial didalamnya, disebabkan adanya pesta demokrasi pemilu pemilihan presiden dan wakil presiden yang akan diselenggarakan pada beberapa bulan kedepan.Pada pemilu tahun ini terdapat dua pasangan calon yang masing-masing darinya memiliki dukungan yang cukup kuat dari rakyat dan beberapa tokoh besar, termasuk partai pendukung, terlebih dukungan dari beberapa ulama yang mereka anggap kontribusi dukungan dari mereka sangat diperlukan, dikarenakan ulama memiliki ummat atau masa.
Namun, sepertinya pemandangan pemilu tahun ini sangat berbeda jauh dengan pemilu sebelumnya, salah satunya, pemilu tahun ini nuansa agamnya sangat kental dan sensitif, dan antusias setiap masing-masing pendukung sangat tinggi, dan masing-masing mengklaim kalau pasangan capres dan cawapresnya yang mereka dukung adalah yang paling kompeten dalam memajukan Indonesia.
Indonesia.Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki banyak kelebihan dari banyak aspek, mulai dari pulau yang menjadi salah satu terbanyak di dunia, bahasa yang beragam, sampai jumlah penduduk yang juga terbilang banyak, hingga adat dan tradisi yang pusparagam dan sebagainya. Tentu Indonesia sangat beruntung, karena itu semua berada di bawah payung bhineka tunggal ika ( berbeda-beda tapi tetap satu ).
Bineka tunggal ika merupakan suatu konsep khaidah yang sangat tepat untuk menyatukan manusia, dan konsep itu sepertinya hanya dimiliki negara Indonesia, dan secara tidak sadar, itu adalah konsep yang termaktub di dalam Al-Qur’an. ”Aku (Allah SWT) ciptakan kalian dari laki-laki, dan perempuan, dan kami jadikan kalian berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia dihadapan Allah SWT adalah yang paling bertaqwa”(QS al-hujor 13.)
Memang, tahun politik membuat sebagian besar masyarakat Indonesia cukup lesu dalam menghadapi perbedaan terutama para tokoh agama. Dampak dari itu semua adalah :perpecahan, bahkan kriminal pun mulai merajalela, tali persahabatan dan persaudaraan mulai kendur. Semua itu terjadi akibat dari beda pilihan politik dan pandangan, sehingga keluar dari nilai-nilai kemanusian dan sifat santunya. Bahkan pernah diberitakan, di Madura ada sesorang yang tega membunuh salah satu pendukung calon presiden tertentu karena dia mencaci calon presiden yang didukung oleh pembunuh tersebut.
Sejatinya :berbeda keyakinan, pandangan, pikiran, politik dan pilihan, itu merupakan suatu hal yang lumrah dan wajar, bahkan bisa dikatagorikan wajib.
Berbeda itu wajib dan sebuah kelaziman. Sangat mustahil dalam kehidupan di tengah keragaman ini kosong dari perbedaan alias sama. Tidak mau berbeda, itu keluar dari fitrah kemanusiaan. Kita hidup itu punya dua pilihan, berbeda atau menerima perbedaan, dan jangan alergi dengan perbedaan yang dimiliki orang lain. Kerana berbeda itu adalah suatu hal yang lumrah dan masuk akal.
Jika kita perhatikan, ada beberapa ayat Al-Qur’an yang membicarakan perihal perbedaan. Dengan jelas dan tegas Allah dalam hal ini berfirman, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, sudah tentu Dia (Allah SWT) menjadikan ummat manusia yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS Hud 118 )

Sepertinya ayat ini sangat cocok untuk kondisi yang sedang terjadi di negeri Indonesia saat ini. Dan di ayat tersebut Allah ingin menegaskan bahwa Dia sangat bisa jika umat manusia dijadikan satu dalam segala aspek, namun Allah tidak ingin hal tersebut, yang Allah inginkan adalah, manusia berbeda-beda dalam banyak hal, baik itu memilih, berfikir dan lain sebagainya, namun tetap berada dalam koridor saling menghormati dan saling menerima dengan santun perbedaan tersebut, bukan sebaliknya.Dan Islam sangat membuka lebar-lebar bagi yang ingin berdiskusi, debat dan lain sebagainya, namun tetap dengan cara yang paling baik ”Dan berdebatlah dengan cara yang paling baik” (QS. An-Nahl 125)

“Dan tolong menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah 2 ). Ayat di atas menunjukkan bahwa apa yang diinginkan Allah dari manusia adalah saling menolong dalam kebaikan, bukan sebaliknya.

Memang masyarakat Indonesia memiliki dua alternatif untuk memilih, namun masing-masing memiliki hak dalam memilih, tanpa ada paksaan, dan itu mudah dan hal yang sangat sepele. Jangan sampai karena berbeda soal selera politik menjadikan masyarakat pecah, dan jangan pula mau dipecah, bahkan pantang untuk dipecah, karena persatuan itu mahal dan sulit, jangan korbankan persaudaraan dan agama kita demi politik. Menyatukan tidak mudah, menyatukan bagaikan membangun suatu rumah atau bangunan, dan memecahkan itu mudah, bagaikan merobohkan suatu bangunan. Jari-jemari menjadi pelajaran dan bahan renungan bagi kita semua dimana terdapat perbedaan dari beberapa aspek, namun satu sama lain saling melengkapi.

Bersatu itu agung dan memiliki nilai-nilai kesucian dan besar manfaatnya, dari persatuan membuahkan hasil berupa :pribadi-pribadi yang saling menolong, saling menghormati, dan banyak lagi dampak-dampak positif dari persatuan. Berbeda selera politik, itu harus, karena dengan berbeda, pesta demokrasi bisa terselenggara, tanpa berbeda dalam memilih presiden dan wakil presiden, itu bakal menghambat terselenggaranya pesta demokarsi.

 

Penulis: A. Kumail Ja’far

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here