“Siapakah perempuan? Barisan kedua yang menyimpan aroma melati kelas satu. Semesta alam terpesona ingin meraihnya, memiliki dan mencium wanginya. Mengapa kelas dua? Siapakah yang menentukan kelas-kelas? *** laki-laki adalah kelas pertama? Sementara rabiah al adawiyah laksana roket melesatangi peringkat dan kelas. Sebenarnya kelas berapakah Hitler? George W. Bush? Mana lebih tinggi rangkingnya, Ariel sharon atau fatima mernissi? Apakah selain abu jahal, fir’aun, musailamah al kadzab, Adam Wizehobart tersedia juga Maryam al Bathul, Balqis, aisyah, khodijah dan fatimah az-zahra? (El Khalieqy geni jora: 60).

Itulah salah satu kutipan dalam novel geni jora karya abidah el khalieqy, sosok yang sampai saat ini masih konsisten dalam karya-karya besar yang bertemakan UU jender dan feminisme. Dengan berlatarkan pesantren pendidikan setiap novel karya abidah selalu khas dimana teori ke-genderan di komparatifkan dalam persepekti agama. Akan saya bahas hal yang akan bahas berhubungan dengan Kritik Sastra Feminisme (KSF) yang ada dalam novel geni jora ini. Dalam sejarahnya, Kritik Sastra Feminis telah dibayangkan pada masa akhir abad 19, namun baru dikenal luas dengan bangkitnya gerakan kemerdekaan pada tahun 60-an.Perspektif feminisme dalam pengkajian karya sastra, cerita pendek dan novel biasa, memiliki wawasan yang berhubungan dengan upaya kreatif untuk menghapuskan dikotomi dan perbedaan, perasaan, serta kekerasan antara laki-laki dan perempuan. PBB bentuk perjuangan perempuan dapat direalisasikan sebagai bagian dari masyarakat di tengah masyarakat.

Selain itu, KSF juga disebut sebagai “membongkar arti dan sifat” yang bersifat androsentris, Seperti dalam novel genera yang menyiratkan ekspresi dan konsistensi pengarang untuk mengutuhkan kepribadian, kecerdasan, dan keyakinan tokoh perempuan di dalamnya. Pengutuhan itu bukan sesuatu yang terbaca dari latar sosial tokohnya, Kejora, tetapi juga emansipasi pemikiran dan keberanian untuk melawan dominasi dan kondisi terhadap sistem patriarkis. Penggambaran posisi dan sikap orang-orang tersebut juga mencerminkan upaya-upaya untuk menggapai dan mencari solusi terhadap masalah gender.

Hal yang bisa dilihat dari ungkapan “Tak ada yang sia-sia dari pemberontakan, dan tidak ada yang langgeng dari ketidak-adilan. Ia selalu melahirkan dengan berbagai jenis modelnya, dan menurutku, menggerus ketidak adilan adalah dengan cermin yang dipajang di muka sang antagonis. Di kurun Maha disiplin ini, kata maaf tidak lagi memiliki kekuatan untuk menggerakan revolusi ”. Penggambaran tersebut akan lebih tampak jika dianalitis melalui kritik sastra dalam persepktif feminis. Selain itu juga dalam novel “geni jora” (2004) ini melukiskan keteguhan seorang santriwati ideal, berfikiran moderat, cerdas dan kerap kali mendebat para ustadznya terutama untuk hal-hal yang dirasa pikiran dan perasaannya.

Dengan terus terang Kejora menyatakan bahwa perempuan pun berhak untuk menyatakan pendapatnya, untuk berinisiatif Menerima dan menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan tubuh dan jiwanya, termasuk dalam kondisi cinta. Hal ini bisa dilihat dari kutipan “Namun dalam sudut pandangku. Aku merasa, diriku mengalir dari takdir yang diperuntukan bagiku. Sebagai perempuan, demikianlah kehadiranku. Merdeka. Mencoba beradaptasi dengan sopan santun dan bergerak sebagaman mahluk-mahluk lain bergerak. Jika laki-laki pandai menipu, perempuan tak kalah lihainya dalam menipu, jika laki-laki senang berburu tak ada salahnya perempuan menyumbangkan hal yang sama ”(geni jora, 2004: 9).Tokoh Kejora tampil membawa kecerdasan yang luarbiasa, tidak hanya kecerdasan fisik tetapi juga spiritual, sebagai syarat untuknya melaju. Kejadian adalah manifestasi perempuan sejati yang kita idealkan bersama. Mukminat. cerdas dan tangguh. Memiliki posisi bergaining. Dan itu semua adalah membalik pada nilai-nilai spiritual. Sikap dan semangat tidak hanya fisik yang rentan dan artifisial. Perempuan yang berani bersuara, mengatakan ‘tidak’ sesuai fakta dan kebenaran, yang memiliki cara berfikir merdeka, tidak terkungkung oleh tasir agama maupun budaya.Dengan menggunakan bahan-bahan kontemporer dan Timur Tengah, Abidah El Halieky menampilkan tokoh-tokoh Kejora sebagai bentuk perlawanan terhadap tata nilai patriark. Namun apapun pola tingkahnya, kejora masih memiliki logika dalam konteks rasio dan spiritual yang cukup lekat pada dirinya. Nada sinis dengan gaya bahasa yang berbeda dengan hiperbola, justru karena tema yang diusungnya. Seperti komentar Budi darma pada sampul buku GJ, kendati menggebu-gebu, Abidah El Halieky tidak terjatuh dalam fiksi radikal, sebagaiamana nasib Taslima Tasreen, perempuan pengarang Bangladesh yang di fatwa mati karena karya-karyanya dianggap melecehkan islam.

Stereotipe peran perempuan, selanjutnya termanifestasikan dalam bahasa yang ada dalam bahasa Indonesia yang senantiasa mengiringi dinamika kehidupan laki-laki dan perempuan. Faruk merupakan stereotip yang merupakan bentuk yang selalu menampakan dirinya dalam bentuk kamuflase yang digambarkan pada kepala. Sebagai alat untuk mereproduksi stereotipe, proses yang menekankan yang melakukan “aksi gender” dalam beragam latar belakang antara laki-laki dan perempuan (1997: 33-34). Oleh adil, sastra pun kena imbasnya. Novel sebagai salah satu bergenre sastra, menurut Aristiarini (1998), yang cenderung konflik yang bias gender, sebuah konstruk sosial dan kodifikasi berbagai jenis kelamin yang berhubungan dengan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan.Sastra, pada TANGGANG, menjadi kamuflase kekuasaan yang dominan dan bahkan menjelma menjadi kekuatan terselubung yang mereproduksi bias gender. Dalam banyak karya sastra, sistem nilai yang berlaku untuk wanita seperti sentimentalitas, perasaan dan spiritual masih di anggap marginal dan tersubdinasi. Perempuan hampir selalu diilustrasikan sebagai karakter yang perlu dilindungi dan sangat diperhatikan (faruk, 1997: 35).

Satu teori tentang setiap bahasa yang digunakan untuk melihat perbedaan gender dan isu-isu perempuan. Karena itu memungkinkan analisis secara khusus untuk mengkaji proses dalam sastra. Pengkajian yang terkait dengan masalah itu dapat ditemukan melalui konteks feminis. Karena kata-kata kunci yang berhubungan dengan isu-isu yang akan berhubungan dengan masalah-masalah gender, gender yang dikembangkan kaum feminis, kajian jender dalam karya-karya sastra mengarahkan perspektif pada beberapa tujuan, yang dapat Anda lakukan sebagai cara yang kreatif untuk m dalam menulis dan menceritakan pengalamannya sendiri dari konvensi, aturan, konsep, dan premis Budaya patriarkis.

Berkat usaha kaum feminis dalam mengkaji karya sastra, eksistensi perempuan dan karyanya mulai dicatat dengan adil. Hal yang sama juga terjadi dalam perkembangan sejarah sastra Indonesia, meskipun banyak hal yang berhubungan dengan hal-hal lain, namun peningkatan kuantitas dan fakta-fakta untuk perempuan sudah sangat menggembirakan. Beberapa kajian dan kritik terhadap karya-karya perempuan pengarang Indonesia mulai meningkat. Kajian-studi itu sangat membantu menyusun ulang sejarah kesustraan dalam konteks dengan keberadaaan perempuan, dan dewasa ini karya sastra yang di tulis oleh perempuan meningkat. Oleh karena itu pengkajian terhadap karya sastra yang di tulis oleh perempuan perlu dikembangkan ke berbagai disiplin ilmu yang mendukungnya.Nyatakan karya sastra perempuan dapat dikaji dan dibaca ulang melalui konteks jender sadar. Salah satu pengkajian dalam konteks tersebut dapat dikembangkan melalui Kritik Sastra Feminisme.

Secara umum, KSF memiliki dua fokus utama dalam penerapannya, yaitu pertama, mengkaji teori-teori yang telah lama dan dipelajari dari generasi ke generasi dengan tinjuan feminis. Kedua, mengkaji tokoh dan pengalaman yang tersirat dalam karya sastra, khususnya pada karya-karya sastra yang ditulis oleh perempuan. Dengan sendirinya KSF merupakan bagian dari cara membaca, menilai, dan merangkai makna karya sastra yang sesuai dengan pandangan feminisme. Lingkup feminisme dapat dikenali melalui aliran-aliran dalam gerakan tersebut, yaitu; feminisme radikal, feminisme liberal, dan feminisme sosial. Masing-masing aliran itu meiliki arah pergerakan dan fokus perjuangan yang berbeda-beda. Namun sekar esensial memiliki umpan yang sama.Benda perempuan harus dibebaskan dari kungkungan tradisi dan budaya patriarkis.

Bicara dari pandangan itu, keputusan ini juga diungkap untuk melihat berapa pun novel geni jora yang mendesain tokoh-tokoh perempuan terhadap kultur patriarki. Dengan kata lain, novel ini juga mengandung tujuan untuk memperkenalkan perspekti feminisme islam, hal itu dapat dilihat dari pemberontakan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang dapat mengubah ruang untuk dirinya baik di rumah maupun di pondok, dan cara bagaimana menghubungkannya dengan orang lain, dan juga bagaimana pendapatnya di atas poligami. Perlawanan untuk kultur patriarki akan diarahkan pada aspek agama, sosial dan budaya. Dengan begitu, wacana gender berusaha menalar ulang kesadaran manusiawi, yaitu ketimpangan peran laki-laki dan perempuan dalam budaya, baik dari segi prilaku, mentalitas,

 

 

Penulis: Wartini (Mahasiswa di Untirta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here