Berhubung masih bulan syawal, yuk sedikit mengulas tentang momentum hari raya tahun ini, meski tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Silaturahmi virtual menjadi hal yang sangat lumrah di tengah pandemi ini. Jadi tak heran jika sosial media kita di penuhi dengan chat ucapan selamat hari raya dan permintaan maaf secara online dari beberapa teman maupun kerabat. Namun, beberapa orang masih saja menggunakan kesempatan ini untuk menyinggung privasi yang sebenarnya tak perlu disinggung.

Seperti pertanyaan “kapan nikah ?” atau “kapan punya anak?”

Rasa-rasanya pertanyaan itu sudah menjadi agenda wajib tahunan setiap momentum hari raya, seperti sidang isbat penetapan1 syawal. Masalahnya, kalau sidang isbat kan kebutuhan, nah kalau pertanyaan ini apa juga kebutuhan dan penting untuk dilakukan? Tentu tidak kan.

“Kakakmu kapan menikah? salam dari saya seperti itu ya! kamu juga cepet nyusul udah waktunya juga”

”Kakakmu suruh cepet nikah, kasihan nanti kalau kerja terus laki-laki gak ada yang mau udah tua loh kakakmu”

Kurang lebih begitu beberapa replystory saya saat  membuat storywhatsappswafoto bersama kakak dan adik-adik saya.

Tidak hanya berhenti di saya, saudara saya pun dibanjiri pertanyaan serupa. Bukannya minta maaf atas segala perbuatan yang dilakukakan selama ini, malah sebaliknya. Melontarkan pertanyaan toxic tanpa pikir panjang, padahal bisa jadi pertanyaan itu melukai perasaan orang lain. Iya, mungkin saja niatnya hanya basa-basi atau bercanda. Tapi kan kita tidak taubagaimana perasaan orang lain. Toh, Siapa juga yang ndak pengen menikah? semuanya juga pengen toh.

Apalagi jika pertanyaan tersebut terkesan menghakimi dan mendiskreditkan seseorang, perihal urusan menikah dan anak misalnya.

Brother, Sister

Menikah itu bukan perkara yang mudah. Heran banget sama orang yang bilang “makanya jangan pilih-pilih, kalau ada yang minta terima aja dari pada enggak laku.” Lah menikah itu kan tidak hanya sebatas ke KUA ngurusin surat dan resepsi besar-besaran terus ngundang tetangga. Tapi yang terpenting adalah kehidupan setelahnya, yaitu membangun dan membina keutuhan keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah dan juga maslahah.

Ya kali, beli sayur di pasar aja milih,masa iya nyari pasangan hidup enggak.

Apalagi paling miris kalau ada orang yang nanya “kapan punya anak” ke sepasang suami istri. Serius nanya, dulu waktu pelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan pada kemana sih? gak ber perikemanusiaan sama sekali. Hehe peace

Tau gak kalau pertanyaan seperti ini sangat menyayat hati mereka terutama kaum perempuan. Seperti contoh kenalan saya. Dia sudah menikah selama 9 tahun namun belum dikaruniai momongan. Banyak tetangga yang tanya “kerja terus kapan punya anaknya?” “gak program kah?” meskipuncuma basa-basi, pliss warga +62 harus tau kalau itu bisa menyakiti hati orang lain. Mungkin kalau pasangan pengantin baru bisa memaklumi jika dihujani pernyataan seperti itu, tapi kalau pasangan yang sudah menikah 5-10 tahunan atau lebih pasti sedih dong. Sama halnya dengan menikah, semua pasangan pasti pengen punya momongan kan.

Mbak dan mas onlineku tersayang. Mulai sekarang yang dulunya masih suka tanya “kapan nikah” dan “kapan punya anak”, yuk hentikan. Kalau misal ada orang terdekat yang seperti itu, yuk kita ingatkan. Supaya tidak terus menerus menjadi toxic circle di momentum hari raya kita, pun hari-hari biasanya. Meski perihal perasaan seseorang tidak kita tahu, tapi bukankah menghindari madlorot jauh lebih baik. Daripada secara tidak sengaja kita menyinggung perasaan orang lain, mending kan saling menebar kebahagiaan. Jadi yuk dimulai dari diri kita sendiri, menjadi pribadi yang baik untuk semua manusia.

Editor: Nila Zuhriah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here