Tulisan ini bukanlah menyinggung atau mengkritik pada siapapun. Tulisan ini ditulis oleh penulis berdasarkan argumen penulis tentang pendidikan yang terjadi di Indonesia dan realita di sekolah tetapi (mungkin) semuanya tidak seperti argument penulis. Pendidikan pada hakikatnya adalah sebagai upaya memanusiakan manusia jika dikaitkan dengan pendapat Ki Hajar Dewantara tentang filsafat pendidikan yaitu cipta, karsa, dan karya maka dapat disimpulkan secara sederhana makna dari sebuah pendidikan adalah merubah pola pikir manusia sesuai dengan perkembangannya artinya melalui pendidikan manusia dibantu untuk berfikir sebagaimana mestinya mempersiapkan manusia menjadi manusia yang peka terhadap lingkungan sekitar dan mampu berfikir logis. Karsa, pendidikan sebagai sarana manusia untuk “mengasah” hati untuk memiliki kepekaan sosial dan kontrol diri manusia itu sendiri mengingat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling bergantung satu sama lain. Selain itu pendidikan juga sebagai upaya manusia untuk memiliki motivasi berkembang membangun jati diri sebagai manusia yaitu makhluk yang paling sempurna ciptaan Allah.

Karya, pendidikan adalah fasilitas bagi manusia terkait bagaimana manusia itu mau dan mampu bertindak lalu menciptakan hal yang bermanfaat bagi manusia lain sesuai dengan bakat dan minat manusia. Minat sebagai dasar kemauan manusia untuk memilih bidang yang ia senangi maka manusia harus telaten mengembangkan disiplin bidang yang ia pilih agar ia mampu menciptakan hal yang bermanfaat bagi manusia lain sedangkan bakat adalah kemampuan yang dimiliki manusia sejak lahir baik berdasarkan genetis maupun lingkungan dan bakat membutuhkan manusia lain yaitu guru untuk mengasah dan mengarahkan bakat tiap individu yang berbeda-beda. Lalu bagaimana pendidikan di negara kita? Lihat saja apa yang menjadi tolok ukur manusia dikatakan sukses adalah angka. Darimana angka itu ada tentu saja dari proses belajar. Angka atau nilai sering kali menjadi hakim bagi manusia dikatakan pintar atau bodoh. Namun didalam proses belajar angka menjadi tolok ukur kemampuan tapi kemampuan manusia dengan manusia lain tentu berbeda. Manusia yang pintar matematika dikatakan pintar matematika sedangkan manusia yang tidak memiliki minat pada ilmu matematika dikatakan bodoh. Apakah demikian pendidikan kita harusnya tidak karena setiap manusia itu unik yang tadi telah disinggung oleh penulis yaitu minat dan bakat.

Pendidikan kita harus mengonsep bahwa nilai bukanlah soal angka saja namun bagaimana pendidikan itu mampu menciptakan nilai kehidupan bagi manusia. Artinya melalui pendidikan manusia memiliki nilai yang kuat tentang aturan-aturan sosial di masyarakat. Kuat secara konsep berfikir, memiliki kemauan dan kemampuan untuk melakukan hal yang positif di masyarakat, dan bertindak dan berkarya sesuai dengan nilai yang berlaku di masyarakat. Pendidikan bukan hanya menciptakan manusia yang kuat secara intelektual tapi rendah moral. Pendidikan hendaknya menciptakan insan manusia yang kuat secara intelektual, moral, mental, dan spiritual. Salah satu caranya adalah menciptakan pendidikan dengan dasar kurikulum yang kuat yaitu kurikulum yang berbasis pada nilai-nilai luhur budaya bangsa yang diintegrasikan dalam mata pelajaran tanpa embel-embel bahwa nilai secara angka adalah ukuran mutlak kepandaian seorang manusia. Proses pembelajaran harus benar-benar terjadi dua arah artinya guru membimbing di sekolah dan murid belajar pada lingkungan sekitar jangan hanya sumber belajar berpusat pada guru. Guru sebagai orang terdidik jangan sampai menganakan tirikan mereka yang dianggap bodoh pada dasarnya tidak ada manusia yang bodoh hanya minat dan bakat setiap manusia berbeda-beda dan itu perlu diasah. Angka sebagai bentuk dari nilai maka itu adalah hasil dari sebuah proses jika proses pembelajaran berjalan dengan benar maka hasil tidak akan memungkiri usaha.

Jika sudah berjalan sebagaimana mestinya akan terciptalah manusia yang berfikiran inovatif dan logis, tangguh, jujur, dan memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam pembangunan bangsa. Manusia sebagai pebelajar haruslah memiliki hak yang sama menikmati akses pendidikan jangan sampai hak manusia menikmati pendidikan hilang karena aturan-aturan hitam diatas putih. Berikan akses mereka untuk bersekolah dengan mudah lalu pembelajaran yang berbasis manusia dan itu menjadi tanggung jawab pemangku kebijakan. Secara sederhana pendidikan itu sepanjang hayat jika berorientasi pada nilai maka pendidikan harus mampu menciptakan manusia yang bernilai baik secara pemikiran, keinginan, dan tindakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here