Revolusi Industri sedari mesin uap dahulu hingga mencapai puncaknya era 4.0 sekarang, tidak akan mampu bernyawa tanpa energi, canggih dan mutakhir, otomasi ala robotik, Internet of Things (IoT), kecerdasan artifisial (AI) atau cetak 3D . Sekedar memesan jasa ojek online saja melalui gadget yang tentu baterainya berdaya, atau ingin membeli buku-buku Jogja misalnya, cukup dengan sentuhan jemari pada keyboard laptop, sudah bisa akses ke kios-kios digital sambil mengisi daya di colokan listrik yang biasanya tersedia di kedai kopi wifiterdekat, lagi-lagi berkat Energi, meskipun tidak banyak bahan bakar yang akan dihabiskan untuk menyusuri kota Malioboro.

Kecerdasan kaum milenial pada energi yang menyalurkan hak cipta bermasalah, Greenpeace merilis lebih dari 50% energi energi kita dari bahan fosil berdasarkan batu bara, [1] di samping minyak bumi dan gas alam. Meningkatnya populasi manusia dan ditambah dengan kerakusan korporasi akan energi seperti industri semen atau tekstil, kita telah secara nyata meninggikan emisi-emisi karbon yang sangat lebih baik, dan lebih baik lagi untuk emisi gas rumah kaca, setelah alih fungsi kawasan lindung khusus hutan, diurutkan pertama.

Keberlanjutan yang mandul

Persoalan keseimbangan sosial-ekologi yang hilang, kita juga ikut berdosa hanya sekerikilupakan perusahaan besar yang menyebabkan banyak polutan mengepul di atmosfer. Maksud siklus alam yang kotor ini membuat jadwal musim kemarau berkepanjangan dan pergantian hujan asam, hingga mengurangi hasil pertanian, rakyat yang notabene lebih irit dalam penggunaan energi yang konvergensi akan ketamakan dunia.

Barangkali dosa kita agar tidak terus-menerus, mungkin dalam ruangan sehari-hari untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan lampu yang menerangi siang hari, mencabut charger yang tidak terpakai, berjalan ngopi boncengan atau bahkan dengan jalan kaki, intinya melakukan efesiensi energi dari sesuatu yang sederhana tanpa mengurangi kegiatan-kegiatan produktif. Demikian juga berbagai langkah panjang dalam ranah nasional dan global, karena revolusi industri sendiri mendorong kita lebih demokratis dalam berdemokrasi, selayaknya kita mengoreksi dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah.

Dalam road map Indonesia 4.0 sebetulnya merupakan alamat yang sudah Melahirkan berbeda dengan makalah salin-tempel pastinya, ada nilai progresifitas pada dimensi strandar-standar keberlanjutan ( sustainability ), [2] yang menjadi satu dari beberapa skala untuk optimalisasi garapan lintas sektoral. Kedepan akan dibangun ramah lingkungan dan ramah lingkungan, yang bertumpu pada energi terbarukan seperti udara, matahari, angin, gelombang laut, panas bumi dan biodesel, namun dua energi yang menggali lebih jauh rakus udara dan lahan.

Keberlanjutan yang kita semua dambakan hari-hari ini masih menjadi mitigasi yang signikan dari bencana ekologis seperti banjir, badai, longsor, kemarau dan kebakaran yang semakin menjadi-jadi. Bencana yang lebih tragis, pencabutan ini bekas tambang batu bara di Kalimantan Timur, menelan korban lagi yang ke 32, [3] di provinsi yang sama beberapa rumah penduduk dan jalan penghubung antar kunjungan tiba-tiba dari ke sana, karena berdekatan dengan kegiatan penambangan batu bara juga. [4] Aktifitas publik sumber daya alam saja sudah merusak vegetasi ekologi dan menumbalkan nyawa-nyawa tak berdosa di sekitarnya.

Dukun COP-24 di kota Katowice Polandia tahun 2018 ini, Indonesia juga mengalami degradasi satu peringkat dari tahun, 37 ke 38 dalam cuaca yang sama. [5] Prakasi membangun lingkungan yang sehat yang telah disepakati di kota Paris tiga tahun silam, untuk suhu 2 derajat celcius hingga 1,5 derajat celcius pada tahun 2030. Komitmen Keberlanjutan hanya akan menjadi instrumental belaka jika tanpa dibarengi tindakan-tindakan kongkrit yang taktis dan strategis.

Revolusi Sosial Ekologi 4.0

Konsepsi revolusi 4.0 harusnya juga disematkan pada lingkup lingkungan hidup agar tercipta sosial-ekologi dan budaya yang beradab dan berkelanjutan, maka saya menawarkan kolaborasi dari Fred Magdoff profesor bidang ekologi dan John Bellamy Foster profesor bidang sosiologi. [6]

 

Pertama yaitu, pemberlakuan pajak karbon (pajak karbon) untuk mendorong konservasi, yang kini tengah negara pada 2020 mendatang, [7] hal ini membebankan kepada pemodal yang kaya dan memiliki jejak emisi polutan terbanyak. Kedua , pengelolaan ekstraksi sumber daya alam yang rentan terhadap kerusakan berskala besar, seperti tambang batu bara, emas, minyak bumi yang tidak bisa dianalisis pengaruh lingkungan. Ketiga , melewatkan energi sekaligus menyediakan tenaga terbarukan dari udara, angin dan cahaya matahari, bukan pada energi geotermal atau biodesel yang berbasis sawit. Keempat, mendorong pertanian dan perkebunan organik yang berkelanjutan sekaligus mengurangi praktik penyemaikan pestisida dan pupuk kimia yang merusak kesuburan tanah. Kelima , menggagalkan privatisasi udara bersih oleh korporasi, karena udara menjadi hak bagi orang-orang dan distribusi demi kepentingan publik.

 

Revolusi Industri 4.0 sangat butuh dukungan energi yang bersih dan lestari. Maka sebagai bagian dari rakyat Indonesia kita sepatutnya berhemat seraya mengkampanyekan tentang energi dan industri yang ramah lingkungan dan ramah hak asasi manusia. Kemudian berjejaring dengan lainnya yang telah memahami isu ini untuk kerja-kerja progresif melakukan perubahan, demi menjaga kelestarian lingkungan hidup dan terciptanya toto tentrem kerto raharjo (keadaan yang tetap tentram) dalam bermasyarakat dan bernegara.

 

[1] Arif Fiyanto, http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/releases/PLTU-Batang-Ancam-Kedaulatan-Pangan-dan-Memperburuk-Perubahan-Iklim/, pada tanggal 13/12/2018 pukul 21.30

[2] Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Making Indonesia 4.0, hlm, 7.

[3] Tommy Apriando, http://www.mongabay.co.id/2018/11/29/nyawa-hilang-di-lubang-batubara-bertambah-aktivis-lingkungan-dapat-teror-dan-serangan/, pada tanggal 13/12/2018 pukul 22.00

[4] Muhlifun hidayat, https://www.tambang.co.id/jatam-anak-usaha-toba-bara-penyebab-rumah-amblas-di-kukar-19945/, pada tanggal 13/12/2018 pukul 22.30

[5] Kompas, 12 Desember 2018, hlm. 1.

[6] Fred Magdoff dan John Bellamy Foster, Lingkungan Hidup dan Kapitalisme, Ter. Pius Ginting, (Tanggerang: CV. Marjin Kiri, 2018), 148-153.

[7] Kumparan Bisnis, https://kumparan.com/@kumparanbisnis/kurangi-emisi-gas-rumah-kaca-pemerintah-bikin-pajak-karbon-di-2020-1542802471012202731 , pada tanggal 13/12/2018 pukul 23.00

 

Penulis: Ruri Fahrudin Hasyim ,

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, Sekretaris Umum FNKSDA Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here