Jika mendengar kata ulama, selalu terlintas di benak, bahwa seorang ulama hanya didominasi oleh laki-laki. Padahal ulama tidak serta merta kalangan laki-laki saja, melainkan banyak juga dari kalangan perempuan yang berkiprah dibidang keulamaan sejak lama. Kiprah ulama perempuan Nusantara telah menorehkan sejarah dengan kecerdasannya diberbagai bidang, salah satunya yakni dalam bidang pendidikan.

Seperti halnya Nyai Khairiyah, putri Kiai Hasyim Asyari dengan Nyai Nafiqoh binti Kiai Ilyas yang telah mendirikan madrasah Kuttubul Banat (sekolah untuk perempuan) di Haramain yang mana tidak hanya diakui oleh bangsa Arab tetapi juga diakui oleh dunia Islam. Melalui pendirian sekolah tersebut, beliau telah mengangkat harkat dan martabat perempuan Arab bahwa pendidikan itu penting diemban oleh seorang perempuan, yang sebelumnya perempuan Arab masih terbelakang dan terpasung dalam lingkar rumah tangga.

Pada zaman dahulu banyak perempuan yang hanya dijadikan kanca wingking oleh para lelaki, ia tidak diberi kebebasan dalam mengekspresikan kelebihan yang dimilikinya. Terdapat persepsi yang salah waktu itu, persepsi yang menganggap perempuan tidak bisa apa-apa, persepsi bahwa perempuan itu tidak mempunyai kemampuan seperti laki-laki, persepsi bahwa perempuan terikat. Membangun persepsi semacam itu berarti seolah telah menutup ruang gerak bagi perempuan.

Terlebih ketika perempuan telah menginjak usia pantas menikah, maka orang tua akan menikahkan anaknya, sehingga tidak ada lagi waktu untuk mendapatkan pengajaran. Mendirikan madrasah tersebut berarti sebagai bukti bahwa antara laki-laki dan perempuan mempunyai kesetaraan untuk mendapatkan pengajaran.Kesetaraan itupun tertuang dalam kalam-kalam ilahi, bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, pembeda diantara keduanya yakni berdasarkan kadar ketaqwaannya.

Berkaca pada kehidupan Nyai khairiyah bahwa sejak kecil, beliau telah mendapatkan ilmu dari ayahnya, bahkan beliau diperbolehkan mengikuti halaqoh yang diselenggarakan di aula pesantren meskipun mengikuti pengajaran yang disampaikan dibalik tirai. Semacam ini dapat diartikan bahwa seorang nyai Khoiriyah kecil telah mendapatkan hak menuntut ilmu sejak dini, meski ia seorang perempuan. Pendirian madrasah bagi kaum perempuan secara formal di Haramain bentuk inisiasi nyai Khoiriyah, karena dengan melihat kondisi perempuan Haramain yang sistem pendidikannya belum tertata dengan baik sehingga ketika dirasa telah ada perempuan yang sadar akan pentingnya sebuah pendidikan itu hanya sebagian saja, tidak secara keseluruhan seperti sistem pengajaran yang selama ini diberikan pada kaum laki-laki. Memang, dalam hal mencari ilmu tidak ada batasan baik laki-laki maupun perempuan.

Seperti halnya sabda nabi bahwa mencari ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini jelas, bahwa tidak ada marginalisasi terhadap perempuan dalam hal mencari ilmu. Kiprah nyai Khairiyah tersebut dapat dijadikan inspirasi bagi perempuan, khususnya para santri wati dalam menggapai cita-citanya. Setiap perempuan mempunyai kiprah dalam dunianya masing-masing, baik didunia sosial, pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya.

Selain Nyai Khairiyah Hasyim, ada pula seorang ulama perempuan dari Palembang yang juga menorehkan kiprahnya dalam dunia pendidikan di Haramain. Akan tetapi beliau lebih pada menjadi seorang pengajar disana, sebut saja Syaikhah Fatimah binti Abdushamad al-Falimbani.

Menjadi seorang pengajar di Haramain tidaklah mudah, apalagi bagi seorang perempuan waktu itu. Dengan kealiman dan kecerdasan, beliau mendedikasikan dirinya untuk mengajar Shahih Bukhari yang sanad keilmuannya diriwayatkan oleh Syaikh Nawawi al-Bantani, seorang imam dan pengajar di Masjidil Haram. Banyak murid-murid yang datang mencari ilmu pada beliau tidak hanya dari wilayah nusantara juga dari belahan dunia.

Kiprah perempuan nusantara telah menunjukkan bahwa seorang perempuan tidak seperti halnya yang dipersepsikan banyak orang yakni cenderung tidak bisa apa-apa dan tidak dapat diandalkan.

Berkaca dari kiprah Syaikhah Fatimah al-Falimbani, mengutip dari artikel NU Online, berdasarkan hasil riset dari Shafiyah Idris Fallata dengan tema peran perempuan dalam melestarikan kitab Shahih Bukhari-Muslim menyatakan bahwa satu dari tiga ulama yakni seorang perempuan berasal dari nusantara yang tak lain yaitu Syaikhah Fatimah bint Abd al-Shamad al-Falimbani. Kiprah yang telah ditorehkan beliau telah menjunjung kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Diciptakan menjadi seorang perempuan merupakan hal yang membanggakan secara pribadi, dengan segala kelebihan yang dimiliki tentu dapat menunjang bentuk dari kesetaraan. Meski jika dilihat dari sejarahnya para perempuan sering mendapatkan bentuk diskriminasi di segala bentuk, yang mana ia sendiri tidak mampu untuk menkonstruk budaya yang telah melegitimasi di masyarakat. Sehingga memerlukan upaya yang cukup keras untuk mendobrak budaya patriarki tersebut.

Berkaca lagi tentang kiprah ulama perempuan yang telah memperjuangkan kesetaraan yakni Syaikhah Rahmah El Yunusiyah seorang ulama perempuan revolusioner yang mendirikan madrasah diniyah bagi perempuan. Tetapi pendirian tidak di Haramain melainkan di Indonesia, sebagaimana yang dijelaskan Gus Ishom Kandzik dalam epilog buku nyai Khairiyah, pendirian madrasah diniyah hingga terdengar oleh Rektor Al-Azhar, Syaikh Abdurrahman Taj, karna di Mesir waktu itu belum ada madrasah diniyah secara sistematis yang didirikan bagi perempuan.

Membangun gerakan untuk kemajuan perempuan waktu itu sangatlah sulit dan penuh perjuangan, apalagi perjuangan melalui jalan pendirian madrasah untuk perempuan sama halnya dengan memperbaiki separuh masyarakat. Karna hakikatnya seorang perempuan haruslah berwawasan yang luas karna ia pemegang kebaikan dari suatu negeri.

Seperti halnya sabda Rasulullah, bahwa perempuan itu tiang negara, apabila perempuannya baik maka negara akan baik, begitupula jika perempuan itu rusak maka rusaklah juga negara. Arti baik disini dapat diartikan suatu kebaikan akan lebih sistematis ketika diajarkan, melalui madrasah atau luar madrasah. Kiprah ulama perempuan nusantara telah mengingatkan kita semua bahwa perempuan juga mempunyai hak yang sama dalam bidang apapun, bahkan Islam pun sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan.

Penulis :
Hawa Hidayatul Hikmiyah, magister hukum keluarga Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here