Michale Crichton, seorang penulis novel scintific fiction yang sudah dikenal. Dia juga dikenal sebagai sutradara dan produser untuk film-film genre techno-thriller. Novel Jurasic Park dan  dan The Lost World adalah beberapa novelnya yang diangkat menjadi film dan sukses besar.

Sementara itu, sebelum novel Timeline ini, saya sudah menikmati 2 novelnya yang lain; Congo (1980) dan Sphere (1987). Kedua novel tersebut secara singkat bisa digambarkan sebagai novel thriller yang mengangkat teman tentang manusia ketika harus berhadapan dengan dampak penggunaan tehnologi.

Pada novelnya kali ini, melalui tokoh Gordon, Crichton memberikan tawaran pemahaman tentang apa yang selama ini dipahami sebagai WAKTU. Menurut Crichton:

“Konsep perjalanan waktu itu sendiri sudah tidak masuk akal, karena waktu tidak mengalir…….Pada kenyataannya, waktu tidak berlalu; kita yang berlalu. Waktu adalah waktu. Karena itu, masa lalu dan masa depan bukanlah dua tempat yang terpisah, seperti New York dan Paris. Dan karena masa lalu bukanlah lokasi, kau tidak berpegian ke sana.” (halaman 97)

Wow!

Dan seperti di novel-novelnya yang lain, Crichton, berhasil menuangkan elemen-elemen ilmiah dalam novel ini. Pembaca diajak untuk membangun pemahaman dari paparannya yang sederhana tentang sesuatu yang (sebenarnya) cukup rumit. Konsep kuatum misalnya, adalah konsep yang dikenal dalam dunia fisika (sehingga dikenal ada cabang ilmu Fisika Kuantum)

Bahkan, ada dialog yang cukup panjang antar beberapa tokoh di novel ini tentang bagaimana menjelaskan kemungkinan memindahkan mahluk hidup ke ruang dan waktu yang pernah ada. Gordon, Marek, salah seorang tokoh yang digambarkan sebagai ahli sejarah abada pertengahan, mendebat pendapat Gordon tentang ruang dan waktu yang bisa dipindahkan. Gordon bisa dengan sederhana menjelasakan dengan analogi sederhana: Mesin Faks dan proses pengiriman faksimil! (halaman 99)

Tanpa menggurui, Crichton menempatkan beberapa tokoh dalam novelnya menjadi representasi pembaca sebagai masyarakat awam, sementara tokoh lain menjadi corong Crichton menawarkan sudut pandang baru atas fenomena alam. Crichton mampu membawa pembaca untuk berimajinasi secara cerdas.

Novel ini juga sarat dengan informasi sejarah, dengan berbagai cabang keilmuannya. Bercerita tentang  sebuah perusahaan penelitian New Mexico, ITC, sebuah perusahaan riset yang besar, menugaskan sekelompok mahasiswa pasca sarjana untuk membangun kembali puing-puing kastil di Perancis sesuai dengan kondisi di abad 14. Ketika sang Profesor, pimpinan proyek tersebut, menghilang dan pihak ITC mengklaim bahwa Sang Profesor terdampar di Perancis pada abad ke-14, para mahasiswa tersebut terpaksa diberitahu rahasia ITC tentang mesin waktu yang sudah mereka miliki.

Melalui bagian ini, Crichton dengan lihai membuat pembaca tersihir dengan plot yang ia bangun dari awal. Yang bermula dari berbagai sudut pandang, bermuara pada satu pemahaman; mereka berurusan dengan mesin waktu.

Para mahasiswa ini (4 orang) diminta menjemput Profesor mereka. Melalui reaksi yang ditampilkan para mahasiswa ini, Crichton menuliskan informasi-informasi techno-scintific lewat dialog-dialog tajam antar tokoh yang memiliki latar belakang disiplin ilmu yang berbeda. Dialog yang dilandasi oleh latar belakang keahlian yang berbeda-beda, memberikan peluang pada pembaca untuk berkelana bolak-balik dari masa sekarang ke masa lampau, dan sebaliknya. Paparan dialog menjadi makain bernas dengan dimasukkannya berbagai elemen ilmiah dari sudut pandang Sejarawan maupun Fisikawan.

Masalah semakin gila ketika para mahasiswa ini  berhasil berada di Perancis Abad 14, masa ketika Perancis  akan diserbu oleh Inggris. Bisa dibayangkan, 4 orang mahasiswa, salah seorang diantaranya adalah ahli sejarah abad pertengahan, terdampar di ruang dan waktu abad 14. Kegagapan pun muncul. Berbagai hal yang selama ini hanya mereka ketahui melalui membaca, harus dihadapi sebagai fakta sosial yang terjadi di sekitar mereka, Dan tentu saja, mereka pun terlibat

Apakah mereka akan terlibat dalam perang yang telah mereka pelajari di atas kertas itu?

Kalau benar mereka terlibat apakah mereka akan membuat sejarah menjadi berbeda?

Atau mereka termasuk bagian dari sejarah tersebut?

Dan bagaimana dengan hukum paradoks waktu yang terkenal itu?

Berkat hal-hal yang telah mereka pelajari selama ini mereka berusaha mati-matian agar bisa bertahan hidup di masa penuh gejolak itu.

Saat masuk ke abad 14 ini, Crichton pun memperdalam karakter tokoh-tokohnya, yang semula hanya diperkenalkan sepotong-sepotong tentang latar belakang dan bidang keahliannya, maka Crichton memberi tambahan  eksplanatif karakter masing-masing tokoh.

Chris, si mahasiswa Ilmu Sejarah yang skeptis, jadi sosok karakter badut selama terdampar di abad 14 itu. Hal itu terjadi karena tooh Chris ini masih tergagap ruang dan waktu era sekarang dengan ruang dan waktu abad 14.

Marek yang memang sudah terlihat keeksentrikannya dengan hal-hal abad pertengahannya, makin dibuat mempesona dan lebih edan, seakan-akan ia ditakdirkan untuk berada di abad 14 ini! Melalui tokoh Marek ini, Crichton mencoba memberikan tawaran tentang bagaimana sosok manusia merasa lebih unggul hanya karena merasa memiliki informasi dan ketrammpilan yang baru ada di beberapa abad ke depan.

Dan Doniger, direktur ITC, yang dari awal memang sudah ditampilkan sebagai figure yang kejam, antagonis, berkuasa dan cerdas, makin menjadi-jadi dan kalap, yang pada akhirnya mengalami nasib paling tidak enak .

Crichton mengajak pembaca menghitung mundur untuk dua hal yang berbeda. Pertama untuk perang yang sudah diketahui bakal terjadi, dan kedua untuk limit waktu mereka berada di abad ke 14.

Melalui novel satu ini, kita dibuat seperti mempelajari sejarah, berkenalan dengan Raja Oliver, raja agung yang menguasai wilayah Eropa di abad 14. Juga, kita dibawa merasakan nuansa Perancis Abad Pertengahan.

Yang menarik adalah ketika unsur teknologi modern terlibat dalam pergolakan perang yang terjadi di abad 14 itu.

Penasaran?

Baca aja novel ini

PENULIS: WASIS SASMITO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here