Sebelum membaca tulisan ini, pastikan Anda sudah meneguk air putih terlebih dahulu. Saya hanya tidak tega menyaksikan pembaca terceguk-ceguk membaca tulisan yang tidak berbobot ini. Saya terpaksa menuliskannya, siapa tahu ada manfaatnya, jika tidak bermanfaat, ambil saja hikmahnya, jika ada.
Akhir ini musim mahasiswa baru (maba) berdatangan di kampus virtual, kampusnya para mahasiswa era pandemi. Aromanya tetap sama dengan tahun sebelumnya. Maba hanya bisa mengenal kampusnya dari jauh, dan hanya bisa menatap dosennya dari layar gawai.
Semoga maba tahun ini atau tahun sebelumnya tetap menikmati menjadi mahasiswa. Karena sejatinya mahasiswa itu melampaui siswa, atau melampaui pelajar. Apa itu melampaui pelajar? Ya jelas, sebagaimana kata awalannya, maha, kalau maha tapi merasa kecil di hadapan dosen ya repot juga.
Mahasiswa adalah pelajar yang melampaui pemikiran anak-anak sekolahan. Jadi kalau ada mahasiswa yang masih seperti anak sekolahan, berarti dia terlalu ngebut berkarir di jenjang pendidikan. Kalau ada yang bertanya, “Loh kak, saya kan kuliah bukan bekerja?”, kan di KTPmu tertulis pekerjaan mahasiswa, yasudah berarti saya tidak salah kan kalau menyebut kuliahmu adalah karirmu.
Sudah lupakan itu semua, kita kembali ke siapa itu mahasiswa. Kalau dikatakan mahasiswa adalah pelajar yang melampaui level anak SD, SMP, atau SMA sederajat, maka jika ada mahasiswa yang seperti anak SD, SMP, atau SMA bagaimana? Lah itu lah PR besarnya. Kalau hal itu masih saja terjadi kenapa negara tidak membuat Sekolah Tanpa Melihat Jenjang (STMJ) atau Sekolah Sampai Liang Lahat (Selilit)?
Baik, dari sana kita mulai bisa beranjak mengenal fungsi mahasiswa. Kira-kira apa menurut kalian? Ya, benar, agen perubahan, agen kontrol sosial, agen moral, dan agen-agen lainnya, yang penting bukan agen LPG atau agen pulsa. Eits, boleh juga tuh jadi agen LPG atau pulsa dari pada tidak jadi agen sama sekali.
Dari situ, apa kalian sudah paham? Ya, jadi mahasiswa memang tidak semudah cocote senior, eh cocote kakak tingkat. Kata kakak yang duduk di situ gak boleh pakai istilah senior, senior dan junior itu tidak egaliter. Pakai saja istilah Bung, Nona, Sobat, Kanda, Rekan, Lur, Cak, Mas, Dik, opo Cok.
Wes emboh, seng nulis iki rodok ngelu. Intinya pakai panggilan sewajarnya aja, kalau lebih tua darimu bisa kamu panggil Mas, kalau lebih muda bisa kamu panggil Dik. Prinsipnya begitu.
Selanjutnya, kalau sudah jadi mahasiswa biasanya pada level lain banyak yang berkabung, eh bergabung pada beberapa organisasi, baik ekstra atau intra. Selanjutnya bersemarak untuk menjadi mahasiswa yang aktif berkegiatan, bermasyarakat, dan berdiskusi. Biasanya juga mereka itu disebut aktivis.
Aktivis itu pikirannya terbuka dengan segala ide, hatinya selalu resah dengan ketidakadilan yang ada, dan kakinya selalu kram kalau tidak demo, eh tidak gerak. Sepertinya begitu, mungkin kalau disesuakian konteks saat ini, aktivis itu melek media sosial dan berperan aktif memperjuangkan keadilan dengan media sosial, serta berperan juga dalam inovasi-inovasi teknologi.
Jika kembali sesuai judul tulisan yang ada, jadilah aktivis yang benar, ini saya juga menerka-nerka, aktivis yang benar itu seperti apa. Apakah yang rajin kuliah, yang rajin ngopi, yang rajin Mobile Legend, yang rajin demo, atau yang rajin baca buku? Kadang ada aktivis yang menjiwai semuanya, ya rajin kuliah, ngopi, ngegame, demo, dan rajin baca buku.
Memang jikalau berbicara kebenaran itu mengandung kerumitan bagi manusia yang hendak menafsirkannya. Mungkin, semudahnya jadi aktivis itu niatkan buat belajar lebih, berjuang keras, dan bermanfaat untuk semua. Caranya bagaimana? Pikiren dewe. Hihi.
Kalau sudah jadi mahasiswa dan merasa baik dan benar, terus terpandang (Ya jelas terpandang, kalau tidak terpandang maka kamu makhluk astral), tetaplah istiqomah. Karena biasnya kalau sudah jadi aktivis itu, ilustrasinya, “Oh, itu loh alumni X jadi Menteri Percupangan dan Per-anggrek-an, alumni Y jadi MPR Komisi Perdukunan dan Santet, atau alumni Z jadi gubernur di planet Namex.”
Karena ilustrasinya para pejabat itu, terkadang ada aktivis, atau mahasiswa sajalah. Ada mahasiswa yang berambisi selayaknya pejabat, berpikir layaknya pejabat, dan bergaya layaknya pejabat. Kalau sudah pejabat, usut punya usut, ikut serta menyengsarakan rakyat. Misalnya saja korupsi, atau yang rame saat ini, jadi maling uang rakyat.
Oleh karena itu, jika sudah menjadi mahasiswa, menjadi aktivis pula jadilah aktivis yang baik, benar, santun, berbudi luhur. Dan, yang tidak kalah penting kalau sudah jadi itu semua tetap lah menunduk, sebagaimana padi yang semakin berisi semakin menunduk. Apakah aktivis tidak boleh menjadi pejabat? Siapa bilang, boleh saja, asal tetap jaga akal sehat dan hati nurani.
Jika kelak menjadi pejabat, jangan lah menjadi pejabat yang menyusahkan rakyat. Seminimalnya, jadilah pejabat yang biasa-biasa saja, tanpa prestasi pun tak apa-apa. Pokok itu, jangan menyusahkan rakyat, sudah digaji puluhan juta masih saja dana bantuan covid dikorupsi, misalnya.
Gampangnya, sebagai pejabat, kalau tidak bisa berbuat baik jangan berbuat buruk. Kowa-kowo saja di kursi empuk itu saja sambil Instagram-an sampai terima gaji bulanan. Tapi, ya kalau nanti kamu jadi pejabat dan bermanfaat bagi rakyat dan negara, ya itu bagus dan luar biasa.






