Setelah revolusi industri memaklumatkan “dunia satu dimensi” ala Marcuse melalui mesin, listrik, komputer dan belakangan internet, praktis dunia tiruan dan hiperealitas ala Baudrillard terus melakukan rekonstruksi, meniru, bahkan meniru dalam tiruan, membentuk dunia imajiner yang sungguh-sungguh kita anggap nyata, mulai dari fesyen, kuliner, hiburan dan bahkan politik. Secara gampang, kita menganggap dunia maya (hiperealitas) itu benar-benar nyata (real).
Milenial, generasi Z dan Alfa yang native internet, karib dengan telepon genggam, tak lepas-lepas suai jemala dan sekian ragam purwarupa di tengah big bang informasi, ledakan dahsyat media sosial dan supernova internet segala hal (IoT) kini mengikuti aliran mistik baru bernama Manunggaling Kaula Wi-Fi, bahkan sekolah-sekolah di bawah Kementerian Pendidikan sudah berganti slogan menjadi Tut Wi-Fi Handayani, terutama setelah badai korona menghantam dunia.
Apa yang terjadi? Mengapa dunia tiruan mengalahkan dan memang kita anggap dunia nyata? Mengapa memiliki banyak follower dan subscriber yang sebenarnya hiperealitas lebih diidam-idamkan dan kita anggap realitas? Inilah kerja-kerja riset, etos penelitian, kecimpung observasi.
Sementara itu, beberapa dekade sebelum supernova televisi dan internet, lazim kita tahu bahwa perubahan dan peradanan dunia dimulai dari teks, dari karya para leluhur, para ilmuwan. Tak tanggung-tanggung, Tuhan dan iman sekalipun hadir dan memperkenalkan diri kepada umat manusia sebagai teks.
Salah satu bukti bahwa satu karya (baik fiksi maupun ilmiah) sangat berdampak luar biasa bagi perubahan sosial adalah novel Uncle Tom’s Cabin atau Gubuk Paman Tom karya Harrit B. Stowe yang terbit di Amerika dan Eropa pada tahun 1852. Buku inilah yang dianggap memantik pecahnya Perang Dunia II, ya, perang dunia terjadi gara-gara buku, gara-gara teks!
Diceritakan awalnya Paman Tom, seorang budak kulit hitam dari Lousiana yang dimiliki oleh keluarga Arthur Selby di Negara bagian Kentucky yang lalu dijual kepada Augustine St. Claire dan akhirnya dilego kepada Simon Legree. Keluarga inilah yang memperlakukan Tom dengan keji dan kejam, hingga berujung pada kematian yang mengenaskan.
Uncle Tom’s Cabin ditulis dengan gaya sentimental dan melodramatik khas abad 19, tentu saja mengaduk-aduk emosi pembaca. Segera setelah diterbitkan, novel ini menyebabkan kegemparan di seluruh Amerika Serikat, dan mendapatkan hujan kritik dan demonstrasi dari Amerika bagian Selatan. Pengaruh buku ini begitu besar sehingga ketika bertemu dengan Harriet Beecher pada awal perang saudara Amerika, presiden Abraham Lincoln berkata padanya, “Jadi, inilah nyonya kecil yang membuat perang besar ini.” Novel ini laris, terjual hingga lebih dari 1 juta kopi. Inilah kerja-kerja riset, etos penelitian, kecimpung observasi.
Satu lagi buku yang besar pengaruhnya bagi dunia pendidikan internasional adalah Totto-Chan, buku anak-anak yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi yang terbit pada 1981 dan menjadi bestseller di Jepang. Novel ini membeberkan nilai pendidikan yang Kuroyanagi terima di Tomoe Gakuen, SD Negeri di Tokyo yang didirikan oleh pendidik hebat bernama Sosaku Kobayashi selama Perang Dunia II.
Alkisah, ibu dari Totto-chan mengetahui kabar bahwa putrinya dikeluarkan dari Sekolah Negeri itu lantaran terlalu kritis dan banyak bertanya. Ibu Totto-chan menyadari bahwa Totto-chan membutuhkan sekolah yang tidak membatasi kebebasan berekspresi dan berkreasi. Sang Ibu lantas mengajak Totto-chan untuk bertemu Kepala Sekolah di sekolah yang baru, pak Kobayashi. Betul, pak Kobayashi dengan tekun mendengar keluhannya selama 4 jam, “Mulai besok, kamu murid di sekolah ini, Nak!”
Buku ini menggambarkan peristiwa-peristiwa yang dialami Totto-chan selama belajar, persinggungan dengan teman-teman kelasnya, pelajaran-pelajaran yang dicernanya, serta atmosfer pendidikan yang mencerahkan dan memanusiakan manusia. Buku ini lantas, ditutup dengan peristiwa di mana Tomoe Gakuen terkena bom dari pesawat dan sekolah ini tidak pernah dibangun kembali. Peristiwa inilah yang mengakhiri tahun-tahun Totto-chan sebagai murid di Tomoe Gakuen. Buku yang sampai tahun 1980 ini terjual lebih dari 5 juta kopi ini telah diterjemahkan ke puluhan bahasa dunia. Inilah kerja-kerja riset, etos penelitian, kecimpung observasi.
Nah, di zaman gila medsos, mabuk agama dan kesurupan politik seperti sekarang ini, bahkan teks-teks anyir berlendir semacam hoaks dan ujaran kebencianpun bisa menggerakkan massa untuk memenangkan pemilu (Ke Pen di Prancis, Lutzbachman di Jerman, Great Wilders di Belanda, Jail Bolsonaro di Brazil, bahkna Trump) serta berbagai perang saudara, juga penggulingan rezim di Timur Tengah dan kawasan Teluk satu dekade terakhir.
Apapun yang terjadi, perjuangan tertinggi manusia adalah memenangkan akal sehatnya dari kesia-siaan pola pikir yang kerdil dan pola sikap nan jumud. Tidak perlu bakat untuk bekerja keras, sebab semua kemenangan berasal dari berani memulai. Ya, belajar sembari berjalan. Manakala Anda berhenti belajar, Anda berhenti memimpin, dan apabila Anda berhenti memimpin, Anda berhenti manjadi manusia. Agar tetap waras, membaca dan mendiskusikan teks (buku/kitab) harus dijadikan gaya hidup generasi milenial. Sesuatu yang telah sejak enam abad lalu hingga kini menjadi gaya hidup santri. Apa sebab?
Karena literasi bukan sekadar mambaca-menulis, ia juga upaya menganalisa bentuk teks, manafsir, merenangi lautan makna serta membangun pola pikir dan pola sikap, agar tetap seimbang di tengah laju peradaban. Inilah kerja-kerja riset, etos penelitian, kecimpung observasi.
Nyaris selalu, teratur dan kacaunya hidup manusia bermula dari program otomatis yang kita biasakan. Pendek kata, manusia adalah apa yang dibiasakannya. Itulah prilaku alam bawah sadar. Dan, manusia membentuk program itu sekian lama untuk kemudian mematenkannya menjadi karakter.
Orang yang tidak merubah pola pikir dan pola sikapnya, sejatinya ia tidak merubah apapun dalam hidupnya. Apa sebab? Hasil yang teratur dibuat oleh tata kelola manajerial, sementara itu perubahan yang efektif dicapai oleh kepemimpinan yang efektif pula. Pendek kata, perubahan pada “hasil” hanya mungkin terjadi dari perubahan “cara”. Tetapi, kemajuan yang efektif butuh pemantik, ia tidak mungkin berangkat dan membentuk dirinya sendiri.
Tidak ada bambu yang bisa melubangi dirinya sendiri untuk menjadi seruling, tidak ada bambu yang menyusun merekat diri mereka sendiri untuk menjadi rakit. Begitu pula manusia. Inilah kerja-kerja riset, etos penelitian, kecimpung observasi.
Jika ingin maju, ia harus membentuk A-TEAM (attitude team) yang mendukung dirinya untuk maju, lingkungan, teman, keluarga dan buku-buku yang membentuk kepribadian kita. Tak harus menunggu orang lain dan apalagi pemerintah untuk mengambil inisiasi dan gagasan cemerlang demi kejayaan Bangsa Negara, tak perlu ragu mengambil langkah-langkah besar, karena jurang yang dalam tak bisa kita lalui dengan langkah kecil.
Nah, terbuat dari apakah makhluk bernama kemajuan itu, sehingga setiap individu ingin menggapainya, bahkan tak jarang dengan menghalalkan segala cara? Merasa tidak puas adalah modal utama dan langkah pertama untuk sebuah kemajuan. Kabar baiknya, inilah watak dasariah manusia. Tidak ada seorang pun yang tidak menginginkan kemajuan dan kejayaan dalam hidupnya, dalam segala bidang. Inilah kerja-kerja riset, etos penelitian, kecimpung observasi. Sekali lagi, mari kita rebut perubahan bersama.
______
Penulis: Ach. Dhofir Zuhry- Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah, Pendiri Sekolah Tinggi Filsafat Al-Farabi, penulis buku-buku best seller, di antaranya: Tersesat di Jalan yang Benar, Filsafat untuk Pemalas, Peradaban Sarung, Nabi Muhammad bukan Orang Arab? dan Kondom Gergaji






