Pagi ini, gitar tua yang kau beri nama Martin itu tergantung malas di dinding dan memandangmu penuh harap. Tak seperti biasanya, ketika matahari sudah mulai beranjak dari singgasananya seperti ini, kau belum menyentuhnya sama sekali.
Biasanya kau sudah mengelusnya, mengelap beberapa sisinya dan tak lupa kau nyanyikan satu atau dua buah lagu bersamanya. Tapi pagi ini tidak, kau yang semalam suntuk sibuk dengannya, pagi ini justru mengabaikannya dan sibuk pada hal lain. Kau terlihat tergesa. Pagi ini tampak berbeda, kau putar lirih suara merdumu menyenandungkan nada-nada semalam yang berhasil kau cipta bersama Martin.
Bukan nada indah dari musisi kawakan yang sudah terkenal. Bukan pula sebuah lirik mendayu dari seorang musisi hebat. Pagi ini benar-benar berbeda, nada-nada itu kau cipta sendiri bersama Martin. Sedangkan lirik lagunya kau curi dari sepotong puisi dari seorang pria yang mencintaimu. Yang diam-diam mengirimimu puisi setiap pagi. Iya, kau selalu membaca puisi-puisi yang muncul di pesan instagram milikmu. Tapi kau tak pernah membalasnya sama sekali. Tapi suatu hari yang tak pernah kau duga, isi pesannya bukan lagi puisi, tapi pinta untuk saling bertemu, empat mata.
Kau bahkan bingung, kenapa kau mesti membacanya. Menjadi lebih membingungkanmu, kau tiba-tiba mencipta nada dari bait-bait puisi itu. Dan pagi ini kau tampak bahagia dengan keberhasilanmu menyelesaikan nada itu.
***
Teringat betul dibenakmu, kau memulai pelajaran bermusik itu dengan sebuah lagu yang berjudul Semua Tentang Kita milik Paterpan. Tentu lagu itu pilihan dari Martin yang mencoba berlaku romantis di depan kakakmu lewat kepolosanmu.
Kau tak memahami itu, yang kau tahu, kau akan sangat bahagia jika Martin datang ke rumahmu. Jika satu minggu saja ia melewatkan untuk ke rumahmu, kau akan sibuk menduga dan menanyai kakakmu kenapa calon kakak iparmu itu tak bertandang ke rumah.
“Hari ini Martin ada acara di kampusnya.”
“Yahhh…”
“Nanti kakak kasih tahu ya, biar besok ke sini. Kamu sudah kangen dengan gitarnya ya?”
Kakakmu tahu betul kalau kau menunggu Martin hanya karena gitarnya. Dan hari yang sangat menyedihkan, yang tak pernah kau duga itu tiba-tiba terjadi. Kakakmu putus dengan Martin. Kata kakakmu, orang tua Martin telah menjodohkannya pada seorang gadis anak dari teman ayahnya.
Untuk mengenangnya, kau akhirnya menamai gitar hadiah dari ayahmu di hari ulang tahunmu ke tiga belas itu dengan nama Martin. Tepat di malam itu juga kau nyanyikan lagu Semua Tentang Kita di depan kakakmu, ayahmu, juga ibumu. Kisah sedihnya, kau justru melihat kakakmu meneteskan air mata karenamu.
***
Hari ini, kau ada janji dengan seorang yang aneh. Setiap hari mengirimimu puisi, tak peduli kalau pun kau tak pernah membalas pesannya itu. Kau sendiri baru menyadari jika pesan di instagrammu penuh dengan puisi dari awal tahun lalu.
Karena rasa penasaranmu itu, kau baca puisi-puisi itu. tertanggal 21 Januari 2018 seorang yang aneh itu mulai mengirim puisi pertamanya untukmu. Sampai hari ini kau kira-kira sendiri, ternyata sudah memasuki tahun ke tiga ia mengirimu puisi. Tanpa jeda satu hari pun ia mengirim puisi di jam yang sama setiap pagi. Kau pun hafal dan tanggal 21 Januari 2020 ini kau terkejut, karena ia tak mengirim puisi lagi, melainkan mengirimkan sebuah undangan lewat pos yang dikirim ke rumahmu.
Kau kaget melihat isinya, sebuah buku sekumpulan puisi yang berjudul Rindu. Ditambah satu kepingan kaset. Buku memang satu hal yang kau suka, tapi musik lebih menarik bagimu. Tanpa pikir panjang kau ambil kepingan kaset itu. Tanpa kau duga, ada seorang yang bernada sumbang dengan petikan gitar sedikit berantakan menyanyikan sebuah lagu.
Lalu kau lihat sepotong kertas bertuliskan alamat tempat pertemuanmu dengannya. Jl. Wilis No. 26 Kota Hujan. Hari minggu pukul 09.00 WIB.
***
Awalnya kau murung atas puisi-puisinya itu, lama-kelamaan kau mau membacanya dan anehnya kau pun menikmatinya. Tak pernah kau sangka jika ternyata ia juga mengikutimu dengan beberapa videomu bernyanyi. Buktinya, meski dia tak sejago kau saat bermain musik, ia mencoba menghadiahimu dengan sebuah kepingan kaset berisi nada-nada sumbang yang membuatmu tersenyum karena kelucuannya.
Puisi pertamanya ternyata telah memikat hatimu. Membuatmu tersentuh dengan bait-baitnya. Beberapa kali, bahkan setiap kali kau membaca puisi pertamanya itu kau pasti menitikkan air mata. Kau sendiri tak pernah tahu kenapa kau menangis, yang jelas kau mencoba meyakinkan dirimu sendiri, jika kau menangis atas desiran rasa yang tak mudah kau terjemahkan.
Puisi itu tak sepenuhnya tentang cinta dan atau hubungan rasa rindu antara dua insan manusia. Lebih detail lagi puisi itu ibarat anakmu dan anaknya. Yang lahir dari sebuah hubungan rasa yang selama ini belum juga saling bertemu. Tentang alam pun demikian, seolah puisi ini begitu lengkap bagimu. Ada tentang alam, lingkunganmu tinggal, juga semua hal tentang hubungan manusia.
Kau tak menyebutnya itu sebagai alasanmu membuatkan nada untuk puisi pertamanya untukmu itu. yang kau tahu ada rasa nyaman yang mestinya kau tularkan pada orang-orang yang sering mendengarkan kau bernyanyi. Orang-orang itu menurutmu akan menjadi saksi dari nada yang akan memberikan dampak tak terkira pada kehidupan itu sendiri.
Kurang lebih begitulah caramu meyakinkan dirimu sendiri.
Kau lihat jam dinding di kamarmu sudah pukul 09.00 WIB, kau sengaja telat untuk datang menemui seseorang yang belum kau kenal namanya itu. Tapi sudah kau kenal kepribadiannya lewat puisinya. Kau berharap dia telah datang lebih awal darimu. Dia akan duduk di sebuah bangku, dan dari belakang kau akan menepuk pundaknya lalu menyapanya penuh kehangatan. Lalu sebelum semuanya begitu hening dalam kekakuan yang tak jelas. Kau akan mengatakannya.
“Maukah kau mendengar lagu dari puisi pertamamu yang pernah kau kirim untukku tiga tahun yang lalu?”
Nganjuk, 2020
Muhaimin DS , lahir di Nganjuk (Kota Angin)
Seorang penikmat cerita dan penyuka perjalanan. Menulis cerpen, puisi dan catatan ringan tentang kesejukan hidup.









