Orang-orang itu berbondong-bondong menuju Bukit Putri Tidur di pinggiran kota. Semuanya membawa tabung yang ada tulisannya O2 (oksigen) di punggungnya. Tidak hanya orang dewasa. Anak-anak pun melakukan hal yang sama dengan orang tuanya. Mereka sudah diajarkan untuk ikut mengumpulkan oksigen setiap hari minggu. Bersama orang tua mereka, saling gotong royong mengisi tabung itu demi memenuhi pasokan oksigen murni untuk bernapas satu minggu ke depan bagi keluarganya.

Fenomena aneh ini kutemui setelah seminggu bekerja di kawasan industri yang ada di Kota Dingin. Meski sebutan Kota Dingin masih melekat pada kota ini, tapi yang kurasakan justru satu hal yang berbeda. Aku harus melepas baju, hanya agar bisa tidur di malam hari. Aneh kan, kota dengan sebutan Kota Dingin malah mengharuskanku buka baju bukan justru memakai selimut yang tebal hanya untuk tidur. Sedangkan sepenuhnya disiang hari, aku akan menyalakan AC di kantor.

Meski aku sudah mengontrak rumah di kawasan pinggiran kota. Udara panas tetap kurasakan. Ditambah sesekali terasa sesak di dada. Sesak bukan karena asap rokokku sendiri tentunya.

“Udaranya sekarang agak panas Nak!” ucap pemilik kontrakan saat kusampaikan niatku mengontrak di kawasan perbukitan ini. Ternyata ucapannya itu terbukti. Kurasakan gerahnya udara yang bukan main, hingga keringat muncul dari seluruh pori tubuhku saat itu. Dan itu pun akhirnya juga terjadi saat tengah malam. Membuatku lebih sering terbangun karenanya.

Aku yang berasal dari pedalaman pulau Jawa. Tinggal di kawasan hutan yang masih rimbun. Terbiasa dengan suasana hutan. Udara sejuklah yang kurasakan setiap hari. Itu pula yang menjadi salah satu alasanku kenapa memilih mengontrak rumah di pinggiran kota, di kawasan perbukitan. Selain agar bisa merasakan suasana yang sama seperti di rumah, pemandangan alam menjadi salah satu tema favoritku dalam melukis. Sesederhana itu yang kuinginkan saat nanti jenuh dengan pekerjaan kantor. Atau untuk sekedar mengisi liburan di hari minggu.

Tapi, hari minggu pertamaku justru dikejutkan dengan lalu lalang orang bertabung menuju bukit.Kanvas yang sudah kusiapkan untuk melukis pun kutinggalkan. Kuamati mereka yang sedang menuju Bukit Putri Tidur lalu menghampirinya.

Desa yang menjadi tempatku tinggal menjadi satu-satunya akses masuk ke kawasan perbukitan. Dan mendadak menjadi tempat parkir mobil maupun motor-motor pengunjungbukit Putri Tidur. Itu semua akhirnya merusak anganku tentang nuansa perbukitan yang seharusnya sejuk dan memesona. Justru di saat seperti itulah udara perbukitan tidak jauh berbeda dengan udara di tengah kota, hampir sama.

***

“Pak mau ke mana?”

“Mau ke pabrik oksigen Mas”

“Untuk apa Pak?”

“Masnya ini pendatang baru ya? Semua orang di Kota Dingin pasti ke sini Mas!”

“Setiap Minggu Pak?”

“Iya Mas, maaf saya takut kehabisan jatah oksigen Mas, saya duluan ya!”

Seorang bapak itu meninggalkanku yang masih terpaku melihat fenomena aneh ini. Bapak yang kutanyai tadi ikut berjubel mengantre ke jalan setapak menuju bukit. Alih-alih kembali masuk rumah. aku justru ikut masuk ke antrean. Menjadi satu-satunya orang yang antre dengan punggung tanpa tabung.

Semua orang terlihat tegang. Meski udara lebih sejuk dibandingkan di tengah kota. Orang-orang yang ada dalam antrean sangat berkeringat. Belum lagi suara anak-anak yang menangis merasa sesak berdesakan. Dan tak sedikit yang justru bertengkar satu sama lain. Seperti seorang pemuda bertubuh tegap yang ada di depanku. Ia menyeret seorang bapak-bapak yang tadi kutanyai. Lalu melemparkan pukulan ke arah wajah bapak itu. dan terjadilah adu pukul tak terkendali.

“Aneh, semua orang tak menghiraukannya?”batinku dalam hati, sambil melangkahkan kaki keluar antrean menolong bapak yang terjatuh di depanku. Pelipisnya berdarah. Napasnya tersengal. Peluhnya bercucuran, hampir pingsan. Kusandarkan tubuh lemahnya ke sebuah pohon mangga. Dan kucoba menenangkannya sambil memijit ototkakinya. Kupandangi wajah letih itu, dan menatap mata nanarnya yang merasa kalah. Dengan tatapan menyesal ke arah pemuda berbadan tegap yang kembali ke antrean.

“Kenapa kamu menolongku Nak?”

“Bapakkan butuh bantuan”

“Tapi oksigen itu lebih penting untuk hidupmu Nak”

Tak tega memandang wajahnya, aku lebih memilih menganggukkan kepala. Daripada menjawab, apalagi mendebat kata-katanya. Meskipun dalam hati aku sendiri menyadari jika hidup memang membutuhkan oksigen untuk bernapas. Tanpa oksigen tidak ada manusia yang dapat hidup.

Kurasakan tubuh lemahnya. Lalu kulihat, perlahan matanya mulai sayu. Sepertinya bapak ini betul-betul kelelahan. Dan akhirnya dengan daya upayanya bertahan, menahan sakit. Matanya terpejam, pingsan di pangkuanku.

Kutemani dalam diam. Percuma aku bertiak meminta tolong pada orang-orang yang sedang antre mengisi tabung oksigennya masing-masing. Bahkan seorang anak yang masih polos pun kebaikannya harus dicegah oleh orang tuanya sendiri.

“Jangan menghampiri mereka Nak!, kamu nanti akan bernasib seperti kakek itu jika tetap melangkah ke sana!!!” suara parau seorang ibu melarang anaknya. Anaknya terlihat bingung, antara memilih menghampiriku atau justru tetap dalam antrean. Dan sebuah botol minuman pun akhirnya tetap di tangan anak itu. dengan kepala tertunduk akhirnya ia tetap berada di dalam antrean.

Antrean yang panjang itu sedikit demi sedikit mulai lengang. Sesekali kudengar orang-orang menggerutu. Takut tidak kebagian oksigen. Bahkan tak jarang orang-orang juga sesekali memaki bapak yang ada dipangkuanku. Meski pingsan ia dianggap bertanggung jawab dengan kegaduhan yang dilakukannya tadi. “Menghambat antrean.”Sebab banyak orang-orang yang mengambil kesempatan menyerobot antrean.

***

Akhirnya antrean  itu betul-betul bubar. Tak sampai habis di ujung antrean. Banyak orang justru kembali turun bukit dengan tangan hampa. Lagi-lagi mereka turun dengan gerutunya. Tak sedikit yang mengumpat, bahkan memaki-maki anak-anaknya sendiri. Sebab anak-anak itu tadi meninggalkan antreannya untuk sekedar mengejar kupu-kupu yang lewat.

Dengan tubuh tak berdaya aku membiarkan kepala orang tua yang pingsan itu di pangkuanku sangat lama. Hingga antrean benar-banar habis. Lalu para petugas yang tertawa turun dengan seragam warna birunya. Di punggungnya tertulis “Pabrik Oksigen”.

Aneh sekali, justru ingatanku tiba-tiba lepas jauh ke masa lalu. Saat semua guru biologiku mengatakan bahwa oksigen itu sebagai hasil dari fotosintesis tumbuhan. Tapi di sini berbeda batinku. Ada pabrik oksigen yang dengan gagahnya memperjual belikan oksigennya. Pula menyebabkan seorang menjadi korban yang masih pingsan di pangkuanku. Sepertinya juga pernah ada korban meninggal akibat perebutan oksigen dari pabrik oksigen di Bukit Putri Tidur itu. Tapi kebutuhan manusia akan oksigen memaksa semua penduduk Kota Dingin tetap berdesakan dalam antrean untuk mengisi tabung-tabungnya.

“Mas!” Panggilku pada mereka yang kuyakini adalah pegawai Pabrik Okisigen yang turun dengan senyum puasnya.

“Bukit Putri Tidur lah yang memberikan oksigen bagi kita semua, kenapa kalian memperjual belikan oksigen yang sebenarnya ia persembahkan secara gratis bagi anak cucu para pemulia hutan di masa lalu?”

Aku pun tercengang dengan kata-kataku sendiri. Tak terkecuali juga para pegawai berbaju biru itu. Mereka sama herannya. Kenapa aku terlihat marah dengan kondisi yang lumrah ini, dimana alam dengan potensinya adalah komoditas bagi siapa pun yang berkuasa.

Melihat dan merasakan langsung kejadian siang itu. Akhirnya aku hanya bisa berdoa, sambil memantapkan diri untuk kembali ke pedalaman pulau jawa. Meninggalkan Kota Dingin. Kembali untuk menjaga hutan di tempat lahirku yang masih alami. Yang kekayaan oksigennya adalah milik bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here