Paradigma perlindungan dan pengelolaan lingkungan menurut ajaran Agama Budha tercermin dari ayat suci ini: “Bagai seekor lebah yang tidak merusak kuntum bunga, baik warna maupun baunya, pergi setelah memperoleh madu, begitulah hendaknya orang bijaksana mengembara dari desa ke desa” (Dhp. 49). Dalam ekosistem, lebah tidak hanya mengambil keuntungan dari bunga, tetapi juga sekaligus membayarnya dengan membantu penyerbukan. Perilaku lebah memberi inspirasi, bagaimana seharusnya menggunakan sumber daya alam yang terbatas.

Menurut Biksu Thich Nhat Hanh seorang biksu Buddha Vietnam yang sekaligus menjadi penulis, penyair, dan aktivis HAM, kita bisa membedakan sesuatu yang hidup dari benda mati, tetapi menurut prinsipnya manusia akan saling bergantungan pada kehidupan yang mengandung unsur-unsur yang tidak hidup. Apabila manusia bercermin ke dalam diri sendiri, akan melihat bahwa manusia memerlukan dan memiliki mineral atau unsur anorganik lainnya. Atom selalu bergerak, elektron pun bergerak.

Manusia adalah bagian integral dari keseluruhan masyarakat dan alam semesta. Muncul dari alam, dipelihara oleh alam, dan kembali ke alam. Kehidupan lampau kita adalah tumbuh-tumbuhan, dan bahkan dalam kehidupan ini terus menjadi pepohonan. Manusia bagaikan pohon dan udara, belukar dan awan. Bila pepohonan tidak dapat hidup, manusia tidak dapat hidup pula. Manusia harus menjadi bagian dari alam semesta tersebut dan peduli terhadapnya. Memandang sehelai kertas, melihat hal-hal lain pula, awan, hutan, penebang kayu.

Dalam Agganna-sutta dijelaskan hubungan timbal-balik antara perilaku manusia dan evolusi perkembangan tumbuh-tumbuhan. Jenis padi (sali) yang pertama dikenal berupa butiran yang bersih tanpa sekam. Kemudian timbul dalam pikiran manusia, mengumpulkan padi yang cukup untuk makan siang dan makan malamsekaligus. Pikiran berikutnya yang timbul mudah diterka lebih baik lagi kalau dikumpulkan untuk dua hari, empat hari, delapan hari, dan seterusnya. Sejak itu manusia mulai menimbun padi. Padi yang telah dituai tidak tumbuh kembali. Maka, akibat keserakahannya, manusia harus menanam dan menunggu cukup lama hingga padi yang ditanamnya berbuah. Batang-batang padi mulai tumbuh berumpun. Lalu butir-butir padi pun berkulit sekam (D. III. 88-90).

Sikap individualisme dan berpikir seolah-olah “karma” adalah “nasib” tidak membuat hidup manusia menjadi lebih baik.  Perkembangan  kemajuan duniawi  tidak setimpal bayarannya dalam mengatasipermasalahan lingkungan. Lingkungan hidup menjadi tidak terpelihara, rusak, dan justrumengancam kehidupan manusia sendiri. Hal itu terjadi karena kehidupan non-materi atau kemajuan rohani tidak memperoleh porsi yang semestinya.

Falsafah hidup Buddhis menghendaki keseimbangan antara pemenuhan kepentingan materi dan spiritual. Keseimbangan hidup semacam itu, dalam Cakkavatti-sihanadasutta, sekalipun kepadatan penduduk bertambah karena tingkat kematian menurun atau harapan hidup manusia meningkat, manusia masih dapat cukup makan (D.Ill.75). Buddhadharma menghubungkan lingkungan alam dan hubungan manusia yang berguna untuk menciptakan suatu atmosfir kebahagiaan dalam kehidupan di atas bumi. Buddhisme menunjukkan cara pemecahan masalah krisis lingkungan. Sehubungan dengan pandangan ekologis Buddhis memperkuat sikap ramah kepada alam dan menelisik hubungan manusia, tumbuh-tumbuhan, dan binatang dari sudut keselarasan.

Tiga peristiwa utama menyangkut kehidupan Buddha, yakni kelahiran, mencapai penerangan sempurna, dan parinibbana (kematian), mengambil tempat di bawah pohon terbuka. Buddha menasehatkan kepada biarawan untuk mencari-cari tempat yang luas di tengah hutan dan kaki pohon untuk praktek meditasi. Udara menyegarkan, tenang, dalam suatu lingkungan alami dipertimbangkan sebagai sarana untuk pertumbuhan spiritual. Perhatian Buddha untuk hutan dan pohon dapat dilihat dalam Vanaropa Sutta (S.I.32), di mana konon penanaman kebun (aramaropa) dan hutan (vanaropa) adalah tindakan yang berjasa, menganugerahkan jasa siang malam sebagai penolong. Dengan sangat jelas Buddha mengapresiasi peran hutan, pohon, dan alam yang sangat bermanfaat bagi kehidupan.  Kata ‘Vana’ atau hutan dalam Dhammapada digunakan oleh Buddha sebagai perumpamaan kata-kata penuh arti diberlakukan bagi konteks dunia saat ini: tebanglah hutan (nafsu) sampai habis, jangan tinggalkan satu pohon pun. Dari hutan itulah tumbuh rasa takut (Dhp.283).

Dalam Vinaya Buddha menetapkan bahwa seorang bhikkhu yang menyebabkan kerusakan pada tanaman dinyatakan bersalah. Ajaran Buddha mengenai sikap tanpa kekerasan, tidak hanya berlaku terhadap semua makhluk hidup, tetapi juga terhadap tumbuh-tumbuhan dan alam. Buddha Gotama dan para siswa-nya tidak merusak bibit-bibit yang masih dapat tumbuh dan tidak akan merusak tumbuh-tumbuhan. Di musim hujan (Vassa) para bhikkhu tidak melakukan perjalanan jauhsehingga mereka tidak akan membunuh serangga dan melukai tanaman-tanaman selama dalam perjalanan.

Peradaban menghendaki hidup ini memanfaatkan sumber alam yang tersedia. Namun karena hidup manusia bukan benalu, maka ia seharusnya berusaha memulihkan sumber alam yang telah dipakainya.Orang yang pandai dan bijaksana akan berusaha meningkatkan kesejahteraan atau mencapai sukses yang sebesar-besamya hanya dengan menggunakan sumber daya yang  minimal, seperti ia meniupkan napasnya membuat api kecil menjadi besar(Ja.I.123). Buddhisme menekankan manusia untuk hidup selaras dengan lingkungan, yang berarti bahwa manusia adalah bagian dari alam dan hidup di alam. Oleh karena itu manusia ditekankan untuk tidak merusak alam dan berusaha menjaga kelestarian alam bersifat fisik, tetapi bersifat abstrak.

 

Penulis:  Billy Setiadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here