Sudah menjadi hal wajar ketika seorang perantau layaknya mahasiswa atau bahkan yang bekerja di luar kota kelahiran, ketika bertemu dengan teman satu daerah di kota perantauan seakan menjadi keajaiban Tuhan. Bertemu teman satu daerah di kota rantau laksana memiliki saudara yang dekat dengan jarak, dapat berbagi kisah pengalaman karena satu pemikiran, dapat meminta bantuan karena sudah dianggap seperti saudara sedarah dan lain hal.

Mahasiswa seperti Rika misalnya, memutuskan merantau di kota yang terkenal dengan suhunya yang sering di titik 16 derajat celcius. Awal ketika masuk kampus, Rika serasa orang asing yang benar-benar tidak mengenal siapapun kanan-kiri depan-belakang. Tapi setelah beberapa hari mengikuti orientasi mahasiswa baru, Rika menemukan sekumpulan mahasiswa yang berasal dari daerah tempat Rika berasal. Disitu serasa kota ini telah menganggap Rika ada. Bergabunglah Rika dengan mereka. FORDA, sebutan bagi wadah tempat berkumpulnya mahasiswa satu daerah asal yang berkumpul di perantauan.

Di dalam FORDA, Rika dan temannya berkenalan cukup baik. Rika mengakui bahwa kebaikan teman-teman FORDA memang luar biasa. Mengalahkan segala jenis forum kemahasiswaan yang ada. Rasa persaudaraan bisa Rika rasakan teramat kental. Sikap saling tolong-menolong tumbuh subur di dalamnya. Lambat laun Rika dan mereka berkenalan dengan baik, akrab layaknya saudara. Rika merasa seperti adik kandung mereka yang berjarak beberapa semester di atas Rika. Rika merasa memiliki adik ketika mahasiswa baru hadir. Rika dan teman satu angkatan bisa dibilang sudah seperti saudara kembar yang tanpa malu berbagi cerita apapun. Karena keakraban Rika dan temannya yang melebihi dari makna “akrab”, Rika dan teman-teman FORDA sudah biasa bercanda, tertawa terbahak-bahak ketika berkumpul bersama. Biasa bersama-sama ketika liburan, saling curhat dan banyak hal-hal yang Rika lakukan bersama mereka tanpa memandang dia laki-laki ataupun perempuan.

Sampai akhirnya Rika berkenalan dengan salah satu teman laki-laki di FORDA. Awalnya Rika dan temannya berteman santai. Ngopi bareng, makan bareng. Rika sendiri menganggapnya yaa dia saudaraku. Saudara perantauan. Dari asal daerah yang sama lalu kemudian bertemu di kota perantauan. Lambat laun dirasa pertemanan itu membuat Rika risih. Asal peluk di depan umum, godaan-godaan yang muncul dalam bentuk verbal. Terkadang Rika secara gamblang mengatakan Rika risih, Rika merasa dilecehkan setelah diperlakukan seperti itu. Tetapi dengan santai mereka menjawab “Kamu ini lebay memang. Kita ini kan saudara. Biasa aja lah.”

Sempat Rika berfikir. Apa ini namanya saudara? Seenaknya melakukan apa aja yang membuat mereka senang sementara satunya merasa dilecehkan? Di lain sisi, Rika termasuk orang yang suka mengamati sekitar. Dan selama Rika berada di FORDA, bahkan berkenalan lintas FORDA, tidak hanya Rika saja yang merasa risih dengan hal-hal yang mereka (read: teman laki-laki) biasa lakukan itu. Banyak teman-teman perempuan FORDA yang sebenarnya juga merasa risih. Dan beberapa mereka juga berani menyatakan bahwa mereka risih. Tapi tragisnya selalu jawaban yang mereka terima sama “kamu ini lebay.”

Lambat laun Rika merasakan FORDA bukan lagi forum komunikasi, forum kekerabatan antar teman satu daerah yang berada di perantauan. Tapi FORDA seakan berubah maknanya menjadi forum tempat pelecehan terhadap perempuan. Laki-laki secara santai menggoda perempuan, bahkan didukung oleh teman laki-laki lainnya. Saat si perempuan melakukan pembelaan, melakukan perlindungan terhadap dirinya, dengan santai laki-laki mendiskreditkan bahwa itu hal lemah dan berlebihan.

Suatu malam, ketika Rika dan teman-teman FORDA ngopi bareng, salah satu teman FORDA mulai merayu Rika seperti hari-hari lalu. Hal itu sebenarnya sering terjadi. Bahkan bisa dibilang selalu terjadi. Hari-hari lalu via verbal, seperti rayuan, candaan yang menjatuhkan dan lagi-lagi mereka anggap itu hanya gurauan maka bumi seisinya memaklumkan. Sampai pada akhirnya dia mendekati Rika, dimulai dengan candaan verbal yang menjatuhkan sampai ia memaksa duduk di sebelah Rika dan mengatakan “Aku suka kalau menggoda kamu.” Ya, pernyataan itu didengar oleh teman-teman lainnya. Pernyataan yang ia banggakan itu sebenarnya adalah pernyaatan yang termasuk dalam pelecehan via verbal. Tak hanya itu, ia juga melakukan pelecehan fisik. Ia mencolek pinggul Rika. Jelas Rika merasa dilecehkan. Rika tidak suka dan tidak terima dengan perlakuan yang selalu dibanggakan oleh teman-temannya dan selalu dianggap sebagai gurauan itu. Seketika Rika pergi tanpa pamit dari mereka. Hanya mengatakan “Aku tidak suka diperlakukan seperti itu. Tolong banyak belajar toleransi ya.” Entah omongan Rika di dengar atau tidak. Rika muak dan seketika langsung memisahkan diri dari mereka.

Hal-hal semacam itu sepengamatan sebenarnya sering terjadi. Teman-teman FORDA laki-laki seenaknya melakukan hal yang mereka ingin ke teman-teman FORDA perempuan. Mulai dari rayuan-rayuan, tangan yang tiba-tiba melingkar entah itu di bahu atau di bagian fisik lainnya, tapi entah kenapa dengan mudah ketidak-nyamanan perempuan dikalahkan dengan alasan bahwa itu hanyalah bercandaan lumrah untuk saudara perantauan. Apakah definisi wajar dalam FORDA adalah melakukan hal apapun meski salah satunya dibuat tidak nyaman bahkan merasa dilecehkan? Jika iya begitu, nama yang benar bukan lagi FORDA atau forum komunikasi daerah, melainkan forum komunikasi untuk sebuah pelecehan. FORDA yang Rika tahu adalah sebagai saudara perantauan, bukan teman atas tundukan. Tetapi itu hanya definisi ketika Rika masih berstatus sebagai mahasiswa baru. Dan sekarang tidak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here