Gus Dur dan Gandhi, Pejuang Kemanusiaan yang Gen-Z Harus Tahu

0
790

“Semua orang berpikir untuk mengubah dunia, tetapi tidak seorang pun berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.” Leo Tolstoy.

Tolstoy merupakan sastrawan yang banyak memengaruhi tokoh perdamaian dunia, di antaranya Abdurrahman Wahid dan Mohandas Karamchand Gandhi, alias Gus Dur dan Gandhi. Tak heran, penulis War and Peace dan Anna Karenina pun banyak dipuja oleh semua khalayak. Bahkan Virginia Woolf menilai bahwa Tolstoy adalah novelis terhebat di antara novelis lainnya.

Selain lihai meramu cerita fiksi realistik Tolstoy menyisipkan pesan berarti bagi bangsanya dan dunia. Tolstoy juga mempromosikan ide tentang perlawanan tanpa kekerasan. Tolstoy dikagumi karena ide dan karya-karyanya.

Ide luhur Tolstoy tentang perdamaian itu lah yang menginspirasi Gus Dur dan Gandhi. Kedua bapak perdamaian dunia itu memiliki banyak kemiripan, pun jika dikaitkan dengan Tolstoy. Ketiganya menyuarakan solidaritas dan cinta kasih kepada umat manusia.

Saya menilai bahwa ketiga sosok itu memiliki beberapa kemiripan. Pertama yang dapat saya amati ialah, ketiganya adalah anak bangsawan. Tolstoy adalah anak bangsawan Rusia kuno, Gandhi anak menteri di India, Gus Dur anak menteri di Indonesia. Lalu, apa yang membuat mereka repot-repot mempedulikan nasib manusia atau orang-orang tertindas? Apakah mereka kepanjangan dari nabi-nabi terdahulu?

Bisa jadi demikian. Mungkin Tolstoy terinspirasi dari ajaran Yesus, Gus Dur mengamalkan ajaran Muhammad, dan Gandhi mengamalkan ajaran para dewa. Semua serba mungkin bukan.

Saya teringat ceramahnya Jalaluddin Rahmat beberapa tahun lalu. Kang Jalal sapaan akrabnya pernah menceritakan bahwa tipologi nabi itu ada dua, mereka dari keluarga kaya atau miskin. Kalau nabi dari kalangan orang kaya itu contohnya Siddhattha Gotama, Gotama turun dari singgasana raja untuk menemani dan memperjuangkan keadilan bagi rakyat tertindas.

Akan tetapi sangatlah jauh kalau kita hendak membincang Gotama. Gus Dur dan Gandhi inilah sosok yang lebih dekat dengan kita. Meskipun masih banyak Gus Dur atau Gandhi-gandhi lainnya yang masih hidup dan memperjuangkan hal yang serupa.

Gus Dur Sang Penakluk, Gandhi yang Berjiwa Besar 

Nama kecilnya Abdurrahman ad-Dakhil, hamba yang pengasih dan menaklukkan. Gus Dur kecil dijuluki sang penakluk, mungkin harapannya mampu mengilhami Umar bin Khattab bahkan Nabi Muhammas Saw, yang menaklukkan beragam angkara murka baik yang terlihat atau tak terlihat. Gus Dur kecil pun menjadi penakluk berbagai ilmu pengetahun. Meskipun Gus Dur hidup di pesantren yang terus belajar agama atau kitab kuning, tapi tak menghalanginya untuk meneguk oase pengetahuan yang lain, seperti diceritakan dalam Biografi Gus Dur, Greg Barton, di mana Gus Dur kecil juga membaca Das Kapital karya Karl Marx dan buku-buku umum lainnya.

Beranjak dewasa, Gus Dur lebih dikenal sebagai Abdurrahman Wahid, tercantum nama ayahnya pada namanya, yakni Wahid. Abdurrahman Wahid besar pun tetaplah haus ilmu pengetahuan, semakin dahaga, hingga menjadikannya sebagai pembelajar tangguh. Lalu, membawanya ke belantara realitas Indonesia dan dunia.

Gus Dur tokoh yang komplit, ibarat toko dia adalah toko serba ada (toserba). Gus Dur adalah kiai atau agamawan yang memperjuangkan hak asasi manusia, hak-hak siapa saja yang tertindas. Gus Dur dikenal pula sebagai solidarity maker dan konsolidator. Sejak menjadi aktivis, ketua PBNU, dan kiai, Gus Dur sudah menggalang kekuatan solidaritas untuk kerukunan umat beragama, kebebasan beragama, perjuangan demokrasi, dan kemanusiaan yang lebih besar.

Setelah melampaui tempaan yang dahsyat, Gus Dur pun menjadi presiden. Saat menjadi presiden, Gus Dur adalah Gus Dur, dia memiliki pendirian yang kuat. Dia selalu setia pada prinsip yang dia pegang. Beberapa kebijakannya di antaranya meresmikan agama Konghucu, memberikan kebebasan kepada tionghoa, menghapus undang-undang yang mendeskriditkan anak turun PKI, menghapus departemen penerangan, menghapus dwifungsi ABRI, dan lainnya.

Tidak hanya itu, dalam politik, Gus Dur pun merangkul semuanya. Koalisi politik bagi Gus Dur hanya sebatas saat Pemilu, bukan untuk mempertahankan kekuasaan. Kalau koalisinya masih sevisi ya dilanjutkan. Gus Dur adalah politisi tanpa kompromi, karena berpegang pada prinsip yang kuat, di antaranya prinsip keadilan dan pembebasan.

Sedangkan, pada diri Gandhi pun demikian. Pengagum Tolstoy satu ini hidup pada keluarga Hindu yang taat. Gandhi ingin memperjuangkan kemerdekaan India dan menghapus segregasi Hindu dan Islam, India dan Pakistan. Segregasi keduanya banyak menumpahkan darah.

Dengan jiwa besarnya itu Gandhi tak ubahnya Gus Dur, keduanya adalah pembelajar. Gandhi sempat kecewa dengan agamanya, hingga dia melanggar kaidah agama. Penyesalan Gandhi pada agamanya, membuatnya lebih rajin memahami agamanya, dengan membaca Bagavadgita dan mengamalkannya.

Berbusana dhoti, pakaian tradisional India yang sederhana, Gandhi dengan jiwa besarnya memperjuangkan kemerdekaan India. Cita-cita kemerdekaan itu pun tercapai, meski beberapa bulan sebelum kemerdekaan Gandhi terbunuh, atas teror dari salah satu umat Hindu fanatik.

Sebagaimana Tolstoy, Gus Dur dan Gandhi berjuang dan melawan tanpa kekerasan. Kalau kita ingat, Gus Dur dimakzulkan dari kepresidenan tanpa terbukti bersalah hingga saat ini dengan tanpa ada darah. Gandhi pun demikian, dengan dhoti sederhana, Gandhi melawan tiran atau penjajah (Inggris) dengan tanpa kekerasan.

Gus Dur dan Gandhi adalah konsolidator ulung bagi bangsa dan dunia. Dari Gus Dur dan Gandhi kita harus banyak belajar bagaimana cara melawan. Perlawanan itu diperlukan untuk memperjuangkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Kalau pinjam istilahnya Pram, “Kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Perlawanan itu menjadi efektif dengan kebaikan dan penuh hormat.


 

Al Muiz Liddinillah : Peneliti di Oase Institute. Editor Buku di Penerbit Kota Tua. GUSDURian. Pendiri Komunitas Literasi Gubuk Tulis.Duta Damai Jawa Timur. Tinggal di Malang. IG: https://www.instagram.com/almuizld/

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here