Jika ditanya apa cita-citaku. Aku akan menjawab dengan lantang, kelak aku ingin seperti ayah, menjadi petani. Seorang yang memiliki punggung legam karena terbakar panas matahari, dan memiliki tubuh kuat karena sering mencangkul dan mengangkat karung-karung padi. Hanya itu saja yang kutahu tentang ayah sebagai petani. Selebihnya aku melihat ayah sangat menyayangi kami sekeluarga dan selalu bahagia menjalani hari-harinya sebagai petani.
Seperti siang itu, seisi kelas seolah melihat sosok yang aneh ketika aku menyampaikan cita-citaku itu di depan kelas. Tak hanya teman-temanku, ibu guru pun kudapati seperti kaget mendengarnya. Sebab hanya aku yang dianggap memiliki cita-cita yang unik, aku mengira akan mendapatkan banyak pertanyaan dari teman-temanku.
“Kenapa kamu ingin menjadi petani seperti ayahmu, Bhumi?” tanya Jingga mengambil kesempatan pertama yang diberikan ibu guru.
“Aku hanya melihat ayah yang menyayangi kami sekeluarga juga tanaman-tanamannya. Aku melihat ayah sangat bahagia dengan itu. Sehingga aku berpikir aku juga bisa bahagia bisa seperti ayah.”
Setelah menjawab pertanyaan Jingga, aku kembali mengamati satu persatu temanku dan berharap tidak ada pertanyaan lagi. Bukan karena aku merasa takut untuk pertanyaan lain, tapi melihat sorot wajah teman-temanku, aku merasa seperti manusia aneh yang memiliki cita-cita aneh pula.
Benar saja, pertanyaan Jingga adalah satu-satunya pertanyaan yang diajukan padaku. Namun, ternyata ibu guru memberi pertanyaan tambahan padaku sebelum aku duduk.
Seperti biasanya, dengan nada lembut diikuti senyuman, ibu guru memberi pertanyaan singkat, persis pertanyaan yang juga pernah ditanyakan ayah padaku.
“Apa kamu tidak ingin bercita-cita lebih tinggi lagi?”
Mendengar pertanyaan itu, aku kembali memberikan pertanyaan pada ibu guru, seperti yang juga kulakukan pada ayah saat itu.
“Apakah ada tingkatan, atau semacam peringkat atas cita-cita seorang?”
Mendengar pertanyaanku, ibu guru kembali tersenyum dan kemudian berdiri menghampiriku. Sedangkan ingatanku justru melompat pada saat dulu ayah menjawab pertanyaanku itu.
***
“Ayah tahu, menjadi petani memang satu-satunya yang bisa ayah lakukan.” Kata ayah sedikit menahan air mata. Aku tak tahu kenapa ayah bersedih, dan aku hanya akan tahu jika aku bertanya padanya.
“Kenapa ayah bersedih?”
“Menjadi petani bukanlah suatu yang bisa dibanggakan nak!”
“Tapi aku bangga menjadi anak ayah.”
“Ayah justru akan bangga jika kamu bisa menjadi lebih dari ayah.”
“Menjadi yang lebih dari ayah itu bagaimana yah?”
“Misalnya kamu bisa bekerja lebih mudah dari ayah. Kamu bisa menggunakan kemampuanmu berpikir dalam mengerjakan pekerjaanmu. Tidak seperti ayah yang hanya menggunakan tenaga (otot) saja untuk bekerja.”
“Jadi, semakin pandai seorang, akan dianggap lebih tinggi dari orang lain yah?”
“Bukan semakin pandai, tapi semakin berilmu seorang, maka ia akan semakin tinggi derajatnya di antara manusia lainnya.”
“Jadi aku harus memiliki ilmu yang banyak. Makanya aku selalu saja mendapat teguran dari ayah kalau aku tampak bermalas-malasan belajar.”
“Iya, ayah hanya ingin kamu menjadi manusia berilmu. Bukan untuk menjadikan kamu merasa lebih dari orang lain, tapi ayah juga berharap kamu manjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.”
Aku merasa yang dikatakan ayah memang benar adanya. Aku tahu, tidak ada yang lebih membahagiakan, selain melihat orang yang disayanginya hidup bahagia. Intinya, aku menyadari ayah ingin aku hidup bahagia, hidup lebih mudah dari apa yang dialaminya sekarang.
Meskipun begitu, tetap saja, aku ingin menjadi petani seperti ayah. seorang yang memiliki rasa sayang yang tinggi kepada keluarga dan juga sawahnya.
***
Ibu guru sedikit menepuk pundakku, dan tentu karena itu pula, ingatanku tentang percakapan dengan ayah menjadi memudar bagai asap diterpa angin kencang. Lalu kuamati ibu guru tampak seperti ingin menyampaikan sesuatu yang penting untuk kami seisi kelas.
“Apa ada yang salah dengan cita-cita Bhumi?” tanya ibu guru pada kami semua.
Tentu kami hanya terdiam. Meskipun begitu, aku tahu pasti, bahwa orang tua teman-temanku juga mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan ayah padaku. Bahwa setiap orang tua menginginkan anaknya lebih berhasil dari orang tuanya. Dan tentu saja menjadi petani bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan.
Aku sendiri heran kenapa aku bisa mengatakan aku bercita-cita menjadi petani. Sebab sebetulnya, aku tahu kalau ayah saat ini sedang berjuang keras untuk membiayai sekolahku. Bahkan kakakku yang pertama saja harus bekerja di luar kota setelah SMA. Dan kakak keduaku harus menempuh SMA dengan ikut membantu ayah memelihara kambing sebagai tabungan kalau tak ada uang saat pembayaran sekolahnya.
Tapi aku selalu melihat ayah tampak bahagia menjalani hidup yang berat itu. Mungkin karena rasa bahagia yang dipancarkan ayah itulah aku dengan mudahnya yakin, aku bisa bahagia jika menjadi petani seperti ayah.
“Semua cita-cita yang baik adalah baik. Tidak ada kedudukan lebih tinggi satu sama lain sebetulnya. Sebab adanya perasaan lebih tinggi dari yang lain itu akan muncul jika kita tak punya bekal ilmu tinggi sekaligus kemuliaan budi pekerti.” Kata ibu guru kepada kami.
Tiba-tiba dari bangku paling belakang, Ikmal mengangkat tangan. Ia menyampaikan pendapat sekaligus pertanyaan dengan lantang.
“Jadi, yang harus kita utamakan adalah memiliki ilmu sebagai bekal dan budi pekerti sebagai penyeimbang?” tanya Ikmal pada ibu guru yang masih saja merangkul pundakku.
Dan ibu guru pun menjawab pertanyaan Ikmal dengan anggukan kepala sekaligus acungan jempol pada Ikmal sebagai tanda sepakat sekaligus rasa bangga padanya.
Sebelum pelajaran ditutup, ibu guru menyampaikan pesan pada kami semua. Bahwa besar harapannya, jika kami semua akan bisa melanjutkan ke SMP, bahkan bisa lanjut sampai perguruan tinggi.
***
Betapa kagetnya, saat pulang sekolah aku mendapati ayah didatangi orang berbaju bersih dan bersepatu. Lalu aku mencuri dengar bahwa ayah diminta untuk menyepakati sawahnya untuk dialih fungsikan menjadi pabrik semen, dan dijanjikan menjadi karyawan di pabrik tersebut.
Aku tak tahu, ayah sedih atau tidak dengan tawaran itu. Tapi aku melihat ayah kini berangkat lebih pagi dan lebih sering ke sawah. Seperti seorang yang sedang khawatir kehilangan sesuatu yang disayanginya.









