Suatu bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki sumber daya manusia unggul. Sumber daya manusia yang unggul tentu dalam konteks ini bukan tenaga siap pakai yang memenuhi kebutuhan industri. Melainkan lebih dari itu, yakni sumber daya manusia yang mampu menjadi inspirator dan kreator dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial dan mampu membuka pekerjaan baru melalui usaha-usaha kreatif.

Disinilah perguruan tinggi berperan dalam upaya pembangunan sumber daya manusia yang unggul. Ruang-ruang perkuliahan di perguruan tinggi setidaknya disetting untuk mengasah bakat dan minat yang dimiliki masing-masing individu. Peran perguruan tinggi adalah menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat dengan menyiapkan para pemikir dan cendekiawan-cendekiawan, maupun praktisi nantinya.

Merujuk pada Tri Dharma perguruan tinggi yakni pengajar, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, tentu kita akan bertanya bagaimana perguruan tinggi menjalankan tri dharma tersebut. dimana perguruan tinggi saat ini dipacu untuk meningkatkan jumlah riset yang terindeks secara internasional tentu tugas perguruan tinggi tidak ringan karena riset yang berkualitas tentunya yang dapat bersaing secara global. Namun apakah sekedar riset saja, tentu tidak karena misi utama perguruan tinggi adalah menciptakan sumber daya manusia yang unggul. Perguruan tinggi harus kembali menjadi “marwah” menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan terdidik dari proses perkuliahan yang memang disesuaikan dengan kebutuhan global.

Wacana Kemenristek Dikti yang mengarahkan perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan industri bukan sosial dan humaniora, tentu hal ini perlu untuk dikritisi karena sejatinya perguruan tinggi tempat pendidikan dan pembelajaran yang multidisiplin ilmu. Artinya perguruan tinggi tidak sekedar mencetak tenaga siap kerja yang memenuhi kebutuhan industri namun juga mencetak pemikir, cendekiawan, dan praktisi di semua multidisiplin ilmu baik saintek, sosial, dan humaniora. Hal ini akan sejalan dengan pendapat Kerr (1982) yang menjelaskan bahwa bentuk perguruan tinggi adalah multiversitas dalam arti perguruan tinggi merupakan kumpulan masyarakat dari berbagai disiplin ilmu yang berkumpul menjadi satu dalam rangka pengembangan keilmuan.

Tentu perguruan tinggi tidak dapat dipaksa mencetak tenaga kerja siap pakai yang sesuai dengan kebutuhan industri yang saat ini ramai diperbincangkan tentang era revolusi industri 4.0. Sangat disayangkan jika pendidikan dan pembelajaran di perguruan tinggi hanya akan mengarahkan mahasiswa sebagai tenaga siap pakai yang adaptif dengan era revolusi industri 4.0 karena peran perguruan tinggi tentu bukan sekedar menghadapi kebutuhan revolusi industri 4.0 tetapi juga mengkaji dan melakukan penelitian yang mendalam tentang dampak adanya revolusi industri 4.0 dan bagaimana kondisi sumber daya manusia Indonesia menghadapi tantangan tersebut.

Inilah yang perlu diriset secara mendalam oleh perguruan tinggi melalui beberapa disiplin ilmu yang ada. Jangan sampai karena fokus di satu disiplin ilmu yang dianggap adaptif dengan kebutuhan industri di era revolusi industri 4.0 malah menimbulkan masalah baru di displin ilmu yang lain. Tentu ini menjadi sebuah tantangan bagi perguruan tinggi, disatu sisi perguruan tinggi harus adaptif dengan kebutuhan industri sedang disisi lain, perguruan tinggi harus mampu menjaga dan mengembangkan ilmu-ilmu yang mengkaji tentang masalah-masalah sosial dan kebudayaan.

Jika ilmu sosial dan humaniora di perguruan tinggi dirasa terlalu banyak dan mubadzir tentu perlu dikritisi bahwa adanya masalah tersebut secara sistem bukan hanya tanggungjawab perguruan tinggi namun juga bagaimana pemerintah menata pola pendidikan tinggi dan bagaimana peran pemerintah dalam merumuskan kebijakan-kebijakan pendidikan yang tepat mengenai masalah sosial dan humaniora, karena pada hakikatnya masalah sosial dan humaniora adalah masalah masyarakat yang terjadi secara dinamis dan tidak dapat diselesaikan dengan sekali tindakan setelah itu selesai.

Peran perguruan tinggi harus lebih dari itu karena peran perguruan tinggi telah termaktub dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 20 Ayat 3 bahwa peranan yang diharapkan dari perguruan tinggi adalah pembangunan bangsa melalui mendidik mahasiswa agar mampu meningkatkan daya potensinya melalui program akademik, profesi, menguasai ilmu pengetahuan, dan teknologi melalui kajian dan penelitian serta melakukan pemberdayaan masyarakat melalui pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena perguruan tinggi perannya bukan sekedar mencetak tenaga siap pakai sesuai kebutuhan industri namun mencetak sumber daya manusia yang unggul disemua bidang dan mampu bersaing secara global.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here