Sepasang burung bangau melayang melambai meniti angin berputar-putar tinggi di angkasa. Mengepak-epak sayap. Mereka menari berjam-jam di angkasa. Suaranya melengking seperti mengucapkan kebahagiaan. Kedua unggas itu melayang menari  beratus-ratus kilometer memeriahkan kesenangannya.

Ribuan nyawa berkumpul di bawah sana memeriahkan acara pemilihan Kepala Desa. Ribuan pasang mata memandang papan pengumuman  yang terpasang di depan Balai Desa. “Satu Sah”, “dua sah“. Suara itu bergema menerobos setiap pojokan Desa. Mereka menanti  jago yang dipilih mendapatkan pion terbanyak.

Di bagian langit lain, seekor burung pipit sedang berusaha ikut mengepak –epak  sayapnya menghibur acara besar di desa itu. Selayaknya penari ronggeng yang menghilangkan suasana sunyi menjadi bergairah. Di belakangnya, seekor burung merpati mengejarnya dengan kepakan yang tak kalah indah pula.  Udara yang ditempuh kedua binatang ini menjadi mendesir sejuk. Teriak burung pipit terdengar ketika merpati mengejek untuk lebih ramai menghibur ribuan orang di bawah sana. Bulu halusnya beterbangan, kesenanagan terjadi di udara yang sejuk.

Angin tenggara kembali tertiup. Kesejukan pucuk-pucuk pohon pedesaan yang terselubung dari kota, daun bergoyang mendesis mengikuti ketegangan otak para mahluk yang berada di tempat pungutan suara itu. Gemersik rumpun bambu, gemersik bibir. Berderit baling-baling bambu berdiri teggak di pinggir jalan  yang terikat sehelai kain bertuliskan Pemilihan Kepala Desa Mbajang.

Udara sejuk kian beranjak menjadi panas, berjam-jam mengeringkan kepala warga yang menanti hasil pungutan itu. Pak Sukman ataukah pak Zaenal. Kedua kandidat sama-sama mengantongi nilai yang selalu bekejaran. Tempat itu ramai, tempat itu menjadi keteganagan, tempat itu menjadi ladang permusuhan.  Seseorang saling tercengang memandang papan pengumuman yang setiap menit, bahkan detik selalu berubah jumlah poinnya. Warga desa terbelah menjadi dua kubu, antara kubu pendukung  Pak Sukman dan kubu yang mendukug Pak Zaenal.  Pendukung dari kedua pihak saling bersaing untuk mendapatka angka yang lebih. Mereka melakukan segala cara agar mendapatkan anggota pendukung yang banyak dan memenagkan persaingan itu.

Sekitar satu minggu Desa Mbajang menjadi desa yang terpisah. Desa bagian Pak Sukman dan Pak Zaenal.  Mereka saling menutup mulut untuk saling berbicara, bahkan mereka  emoh untuk sekedar mengobrol ataupun bercanda seperti biasanya.

“Satu sah, dua sah. Tidak sah, satu sah, dua sah . .”Dan begitu seterusnya suara itu membuat para warga bermuka pucat dan mengeluarkan kringat dinginnya.  Dari belakang seseorang remaja berteriak

“Hidup Pak  Zaenal . . .”

“Hiduuuuuup “ Warga pendukung Pak Zaenal lainnya pun ikut berteriak.

Ketegangan  menjadi sebuah keramaian, teriakan yang melengking keras menabrak pengeras suara dan seketika bersama angin suaranya meluas sampai memenuhi pojokan Desa Mbajang. Balai Desa tempat berlangsungnya acara besar itu berubah menjadi sarang lebah. Gaun yang rapi layaknya pemimpin yang sangat berwibawa terpakai di tubuh Pak Zaenal dan Pak Sukman. Beberapa pendukung masing-masing kandidat berkerumpul di belakang pungutan suara tepatnya dimana Pak Zaenal dan Pak Sukman terduduk. Mereka antri berjabat tangan. Suasana tempat itu terlihat begitu tegang, tak ada senyum diantara pendukung dari masing-masing kelompok. Mata mereka menggambarkan penentuan poin adalah harga diri dari masing-masing pendukung.

“Satu sah…Satu sah…Satu sah” Suara itu membuat pendukung pak Zaenal semakin tersenyum, nomor satu adalah nomor Pak Zaenal, sedangkan nomor dua nomor Pak Sukman. Suara itu terus saja keluar hingga beberapa menit, dan membuat poin Pak Zaenal unggul dua puluh poin dari poin Pak Sukman.

“Pasti pak Zaenal yang bakal menang” Ucap salah satu warga.

“Tunggu dulu, poin masih berjalan separo, Pasti pak Sukman mampu mengejar poinnya” Jawab salah satu warga, yang berada pada posisi Pak Sukman.

“Tapi, itu poin yang cukup berat untuk dikejar”

“Memang, tapi lihat saja botoh  banyak mendukung Pak Sukman, lagian Zainal beragama Kristen. Mana mungkin warga desa kita memilih dia. Tenang saja” Ucap salah satu pendukung Pak Sukman yakin kalau jagoannya bakal menang.

Tetapi budaya suap-menyuap yang sudah terkenal di desa Mbajang itu dapat terlihat dari proses perjalanan pemilihan kepala desa. Siapa yang berani memberi uang pesangon terbanyak. Maka, masalah agama, ras, dan keyakinan lainnya dapat dibeli, sebab warga akan memilih yang uangnya banyak.

Hingga sampai budaya judipun berjalan seimbang. Tidak heran kalau saja para warga melakukan segala cara untuk memenagkan pilihan mereka. Apa lagi orang lain, keluargapun tidak jadi halangan untuk digunakan sebagai cara memperbanyak pendukung mereka. Ada juga warga yang harus rela bermusuhan antar keluarga, karena salah satu dari keluarganya tak mau diajak mendukung pilihannya. Hingga saat, proses pemilihan dibalai desa, warga terpisah menjadi dua kelompok. Sebelah utara balai desa berkumpul para pendukung Pak Zaenal, sedangkan sebelah selatan berkumpul para pendukung Pak Sukman.

Poin masih tetap saja unggul Pak Zaenal.

“Wah gawat, pasti ada kesalahan dari panitia suara  itu tidak mungkin Pak Sukman tertinggal.” Ucap panik salah satu kaki tangan Pak Sukman, ia bingung melihat poin Pak Sukman masih tertinggal.

“Iya, padahal di RT.06 RW.10 sudah saya drop dengan uang satu milyar”. Jawab Ucol teman pendukung Pak Sukman.

“Lakukan sesuatu, jangan diam saja , bisa-bisa rumah saya terjual kalau Pak Sukman kalah”. Cetus botoh yang ikut panik dengan ketertinggalan poin Pak Sukman.

“Hidup Pak Zainal…..”, “Hiduuuuuup”. Dari arah utara suara pendukung Pak Zainal bersorak gembira, mereka sengaja memamerkan kemenagannya sementara kepada kelompok selatan pendukung Pak Sukman.

“Kuarang ajar mereka, lihat saja pasti kita akan bersorak lagi”.

***

Waktu terus saja berputar, poin sementara Pak Zaenal memegang keunggulannya. Hingga suara bedug berbunyi, menandakan waktu telah berjalan setengah hari. Namun, poin belum berubah, tetap saja Pak Zainal memimpin keunggulan dan kelompok Pak Sukman juga tetap pada kebingungannya.

“Col, kamu datang ke mbah Kermo minta pertolongan padanya agar membuat hujan yang lebat dan angin yang kencang agar kertas pemilihan itu beterbangan dan membuat gagal acara hari ini”. Orang kepercayaan Pak Sukman itu memerintah bawahanya untuk melakukan rencana yang licik. Selain main suap-menyuap, daerah pelosok desa Mbajang itu masih sangat kental dengan dunia perdukunan. Politik licik telah menjadi cara khas yang ditempuh.

“Kamu yakin melakukan itu?”. Tanya Ucol meyakinkan

“Dari pada saya harus menahan malu”.

“Tapi, cara itu sangat beresiko”.

“Sudah, tak usah kau berbelit, biar resiko saya tangguang yang penting kamu lakukan perintah saya”.

Memang Ucol telah bertekuk lutut padanya, tanpa menambah bicara ia pun segera pergi menemui Mbah Kermo. Sungguh dunia benar-benar telah melampui lapis kehancuran, tidak ada jalan yang tidak bisa dilewati di dunia ini. Seandainya orang mau berfikir tentang jalan yang telah ia lalui mungkin ia tak hanya sekedar lewat, tapi berfikir pula jalan yang membawanya kemana. Tapi, sepertinya itu telah mati dari fikiran manusia sekarang.

***

Tak membutuhkan waktu lama Ucol telah sampai di rumah Mbah Kermo. Tanpa basa basi ia mendodoki pintu rumah tua yang terbuat dari lempengan pohon ringin itu. Tak hanya nama dan perdukunanya yang terkenal dari diri mbah Kermo. Tampat tinggalnyapun terletak di dalam hutan yang belantara, ia tak mempunyai tetangga terdekat, pelataran rumahnya terpenuhi dedaunan kering  yang menyatu dengan lumut. Tepat di depan rumah Mbah Kermo berdiri pohon ringin yang sangat besar dan rimbun, konon ringin itu adalah pohon tempat tinggal leluhur desa Mbajang. Kaki pohon ringin penuh dengan sesaji dan beberapa dupa yang masih tertancap di tanah, lengkap dengan bau asap yang menakutkan. Akhirnya Mbah Kermo keluar membukakan pintu.

“Tidak usah tegang seperti itu, aku sudah tau tujuanmu datang ke sini”. Ucap Mbah Kermo kepada Ucol yang terlihat begitu ngos-ngosan. Sebelum Ucol menenceritakan semuanya ternyata Mbah Kermo sudah lebih dulu mengetahuinya.

“Memangnya Mbah tau dari mana?”. Tegas Ucol tak percaya

“Itu tak peting, kamu kesini menyuruh aku untuk menggagalkan acara pemilihan kepala desa itu kan?”. Jawab Mbah Kermo benar.

Ucol terbengong, tak percaya kalau Mbah Kermo memang sudah benar-benar sudah mengtahuinya terlebih dahulu sebelum ia ceritakan.

“Sudah tak usah kau fikirkan, masuk….” Ajak Mbah Kermo

“Kamu duduk di situ dan diam saja”. Lanjut perintah Mbah Kermo

Entah apa yang bakal terjadi, Ucol memang tak mengiginkan keburukan bakal menimpanya dan para penduduk desa Mbajang. Namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya seorang pesuruh tak punya kuasa untuk bercakap melarang ritual itu. Kalau saja ia berani melarang tak jadi alasan jika Mbah Kermo bakal memberikan pelajaran padanya. Mungkin darahnya memang darah sederhana. Tak lama setelah suara bedung terdiam angin seperti telah diundang. Daun-daun kering terdengar berjatuhan dan menyangkut di atap rumah Mbah Kermo. Sungguh, mala petaka apa yang bakal terjadi setelah ritual pembakaran kemenyan dan ritual lainnya.

Udara seketika benar-benar telah berubah. Hujan sepertinya bakal turun. Ucol terlihat sangat ketakutan, ia hanya terdiam memandang Mbah Kermo menebarkan bunga di atas gentong yang berisi air, memutar-mutar kemenyan yang sudah dibakar diatasnya, ditiupnya udara dari mulutnya ke dalam gentong sambil bibirnya mengucapkan mantra-mantra, yang entah tak dimengerti oleh Ucol.

Di balai desa para pendukung Pak Zaenal masih tetap ramai memeriahkan keunggulannya, sedangkan kelompok Pak Sukman masih terdiam kebingungan karena ketinggalan poin.

“Hidup Pak Zaenal” teriak salah satu dari kelompok pendukung Pak Zaenal

“Hidup,,,,,hidup,,,” Balas warga yang lainnya

Seketika udara barat berhembus bersama bau tanah yang basah dan terasa kesejukannya. Beberapa burung bangau melayang-melayang di angkasa, awan terlihat mengepul menjadi kehitaman.

“Lihat, sepertinya rencana saya akan segera berhasil”. Ucap orang kepercayaan Pak Sukman itu kepada salah satu warga.

“Rencana apa?”

“Sudah nantikan apa yang bakal terjadi”.

“Apa mungkin keadaan akan berbalik?”

“Sudah jangan banyak bicara saksikan saja”. Jawab pedas orang kepercayaan Pak Sukman.

Dari rumah Mbah Kermo Ucol semakin merasa kepanikan, ia merasakan dosa yang sangat besar. Sedangkan Mbah Kermo tetap saja melakukan ritualnya sudah banyak ia membakar kemenyan, hingga seluruh ruangan terpenuhi bau kemenyan. Hingga waktu yang diharapkan dari ritual itu bakal terjadi, terdengar rintik hujan menetes di atas daun-daun kering yang berada di pelataran rumah dan di atas genting rumah Mbah Kermo. Seketika ritik hujan itu semakin menetes  sangat besar dan deras.

“Mbah hujan ….” Ucapnya dengan nada tegang

“Saya sudah tau.” Jawabnya sambil tangan sibuk memutar-memutar  kemenyan di atas gentong yang berisi air.

“Sudah Mbah, jangan buat yang berlebihan.” Ucol merasa sangat takut, ia merasakan keburukan bakal terjadi dari ritual yang dilakukan itu. Hingga ia memberanikan untuk mengingatkan kepada Mbah Ucol untuk tidak melakukan yang berlebihan.

“Sudah kau diam saja”.

“Tapi”

Terdengar teriakan-teriakan yang sangat ramai dari Balai Desa, Ucol kaget mendegar suara itu. Ia segera keluar, dan benar adanya suara itu berasal dari Balai Desa Mbajang. Di luar, hujan turun dengan sangat deras beserta angin bertiup kencang, teriakan itu bercampur dengan dentuman tetes air di atas dedaunan kering yang berserakan di pelataran rumah, seketika akan terbang disaat angin besar bersama hujan menerjangnya.

“Mbah itu suara apa?” Tanya Ucol kepada Mbah Kero.

“Lihat saja sendiri”.

Ucol segera berlari tanpa takut hujan beserta angin yang mengguyurnya, ia menuju balai Desa Mbajang. Tubuh kecilnya terombang-ambing tak kuat menahan  angin yang menerjangnya bersama hujan. Namun, ia tetap brusaha berlari dengan cepat. Terikan-teriaka itu semakin terdengar dengan jelas.

“Pemilihan curang……”.

“Bantai……”.

“Bunuh dia..”.

“Serbu”

“Tolong, aku tidak ikut-ikut”.

“Ampun-ampuni saya, saya minta maaf, saya akan ikut kelompokmu.”

Sialan,,,,Brengsek,,,Keparat lo”.

“Kamu bukan kelompokku, kamu sudah mencemari negeri ini. Hajar!!”

Beberapa menit kemudian Ucol telah sampai dibalai desa, seketika keadaan membuat matanya tak mampu berkedip, detak jantungnya sesaat berhenti dan tubuhnya mematung setelah melihat apa yang terjadi. Papan penghitung suara tergantung di pucuk pohon jati, dan surat suara berserakan bersama air yang menggenang. Dasar politik.

*Penulis: Nanang ES 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here