gubuktulis
216 POSTS
1 COMMENTS
Menjelang penghujung Juli 2026, nama Christopher Nolan sekali lagi menguasai lanskap percakapan publik. Kali ini bukan karena teka-teki waktu sebagaimana Tenet, bukan pula soal ledakan nuklir Oppenheimer, melainkan karena keberaniannya mengadaptasi The Odyssey, epon Yunani yang selama hampir tiga milenium menjadi salah satu fondasi sastra Barat. Film itu langsung menuai sambutan besar di jagad sinema, tetapi bersamaan dengan itu kritik bermunculan dari berbagai arah. Ada yang menyoal dialog yang terdengar terlalu kontemporer, ada yang menganggap aksen Amerika para pemeran merusak atmosfer Yunani Kuno. Sebagian lain mempertanyakan keputusan Warner Bros dan Universal yang menjadikan pengalaman IMAX sebagai pusat pemasaran film sehingga memunculkan kesan eksklusif dalam menikmati sebuah karya klasik. Bahkan Emily Wilson, seorang penerjemah The Odyssey yang banyak dipuji karena berhasil menghadirkan bahasa Homeros secara segar ikut mengkritik sejumlah pembacaan Nolan terhadap epos tersebut.
Riuh itu tentu menarik. Perdebatan yang muncul tidak semata-mata membahasa apakah film ini bagus atau sebaliknya, melainkan bagaimana sebuah mahakarya seharusnya dibaca kembali pada abad ke-21.
Bagi yang belum akrab dengan kisah Homeros, The Odyssey berangkat dari sebuah kemenangan yang ternyata tidak menyelesaikan apa pun. Perang Troya telah usai. Kuda Troya berhasil mengakhiri konflik panjang antara Yunani dan Troya, dan Odysseus pulang sebagai pahlawan. Akan tetapi, jalan menuju Ithaka justru berubah menjadi perjalanan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Laut menghadirkan badai, para dewa mempermainkan nasib manusia, Cyclops, Circe, Siren, hingga Calypso silih berganti menguji bukan hanya keberanian, melainkan kesetiaan, kecerdikan, dan kemampuan seseorang mengendalikan dirinya sendiri. Sementara itu, di Ithaka, Penelope bertahan menghadapi tekanan para pelamar yang meyakini suaminya telah lama mati. Walhasil, The Odyssey sesungguhnya bukan kisah tentang perang, melainkan tentang bagaimana manusia pulang setelah perang selesai.
Di tangan Nolan, perjalanan itu diterjemahkan menjadi pengalaman sinematik yang megah. Bentang laut, lanskap berbatu, kapal-kapal raksasa, dan komposisi visual khas Nolan membangun kesan bahwa perjalanan Odysseus bukan perpindahan geografis belaka, melainkan pergulatan eksistensial. Namun, kemegahan visual itulah yang justru melahirkan pembacaan berbeda. Beberapa ulasan media massa—termasuk kanal Ruang Obrol misalnya, mencatat bahwa kekuatan film ini justru hadir ketika Nolan menahan diri dari godaan spektakel. Beberapa adegan yang paling membekas bukanlah ledakan visual, akan tetapi pecakapan yang sunyi dan ruang kontemplasi yang memberi kesempatan kepada penonton memahami manusia di balik sosok pahlawan. Sebaliknya, sejumlah pengulas lain merasa pendekatan Nolan terlalu sibuk membangun skala epik sehingga kedalaman psikologis tidak selalu memperoleh ruang yang memadai.
Beberapa kritik yang paling banyak dibicarakan datang dari sisi yang tampaknya sederhana sekali, yakni ihwal dialog dan aksen. Sejumlah penonton menulai penggunaan aksen Amerika membuat dunia Yunani Kuno terasa asing bagi dirinya sendiri. Nolan menjawab bahwa film bukanlah rekonstruksi museum. Sinema selalu berbicara kepada penonton masa kini, bukan kepada masa lalu.
Pernyataan ini sesungguhnya membuka persoalan yang jauh lebih menarik daripada sekadar soal pelafalan bahasa. Adaptasi sastra tidak pernah identik dengan penyalinan teks. Linda Hutcheon dalam A Theory of Adaptation mengingatkan bahwa setiap adaptasi pada dasarnya adalah tindakan interpretasi. Ketika sebuah epos dipindahkan ke layar lebar, yang berpindah bukan hanya cerita, tetapi juga horizon pembacaan zamannya. Karena itu, perdebatan mengenai kesetiaan adaptasi sebenarnya tidak pernah menemukan titik akhir.
Pandangan itu semakin terasa ketika membaca kritik Emily Wilson. Sebagai penerjemah yang selama bertahun-tahun bergulat dengan teks Homeros, Wilson melihat bahwa The Odyssey bukan sekadar kisah kepahlawanan laki-laki. Ia adalah kisah tentang ambiguitas moral, kerentanan manusia, dan kecerdikan yang sering kali lebih menentukan daripada kekuatan fisik. Dalam beberapa wawancara, Wilson mengingatkan bahwa pembacaan modern kerap tergoda menjadikan Odysseus sebagai figur heroik yang terlalu tunggal, padahal puisi Homeros jauh lebih rumit daripada itu. Kritik tersebut tidak serta-merta membatalkan film Nolan, tetapi mengingatkan bahwa sebuah karya klasik selalu lebih luas daripada satu tafsir.
Menariknya, pembacaan berbeda juga muncul terhadap Penelope. Magdalene justru melihat bahwa tokoh ini menjadi salah satu pusat moral film. Selama dua puluh tahun bayangkan saja menunggu suaminya, Penelope tidak digambarkan sebagai sosok yang pasif. Ia mempertahankan Ithaka melalui kecerdikan politik dan keteguhan batin. Ia menunda keputusan dengan apen-apen menenun dan mengurai kain chiton, peplos, atau bahkan himation. Ia juga mengelola istana di tengah ketidakpastian (nightmare) serta menjaga legitimasi kekuasaan tanpa mengangkat pedang. Jelas maka, di sini kepemimpinan tampil dalam wajah dan citra yang tenang, jauh dari sorotan medan perang.
Beberapa kritik lain menyoroti bagaimana cara film ini dipasarkan. Menurut data CNN Indonesia, pengalaman menonton The Odyssey ini dianggap semakin elitis karena sangat bergantung pada layar IMAX. Kritik tersebut layak dipertimbangkan kiranya, terutama ketika akses terhadap teknologi mutakhir tidak merata. Namun, ada ironi yang menarik. Mahakarya yang ditulis sekitar abad ke-8 sebelum masehi kini justru membutuhkan teknologi proyeksi paling mutakhir agar kembali dibicarakan publik. Sejarah memperlihatkan bahwa medium selalu berubah, sedangkan teks klasik terus mencari cara agar tetap hidup.
Di sinilah saya merasa perdebatan mengenai Nolan sesungguhnya membawa kita kepada pertanyaan yang lebih besar. Mengapa sebuah karya yang usianya hampir tiga ribu tahun masih mampu memancing diskusi sedemikian luas? Jawabannya mungkin bukan karena Nolan, melainkan karena Homeros sendiri.
Hans-Georg Gadamer pernah mengatakan bahwa karya klasik tidak pernah berhenti berbicara karena setiap zaman datang dengan horizon penafsirannya masing-masing. Sebuah teks tidak hidup karena semua orang sepakat terhadap maknanya, melainkan karena ia terus melahirkan perbedaan pembacaan. Joseph Campbell membaca Odysseus sebagai bagian dari arketipe hero's journey. Martha Nussbaum melihat tragedi Yunani sebagai ruang untuk memahami rapuhnya kebajikan manusia ketika berhadapan dengan nasib. Paul Ricoeur bahkan memandang narasi sebagai cara manusia menyusun kembali pengalaman hidupnya menjadi sesuatu yang bermakna. Ketiganya tidak sedang membaca teks yang berbeda. Mereka hanya memasuki pintu yang berbeda menuju rumah yang sama.
Karena itulah, saya merasa sayang apabila The Odyssey ini berhenti sebagai bahan perdebatan tentang apakah Nolan berhasil atau gagal. Kritik tentu diperlukan. Tanpa kritik, karya besar akan kehilangan lawan bicaranya. Namun, kritik yang sehat sudah mustinya mendorong rasa ingin tahu yang jauh lebih baik. Jika setelah keluar dari bioskop seseorang terdorong mencari Homeros, membaca terjemahan Emily Wilson, membandingkannya dengan adaptasi lain, atau sekadar bertanya mengapa kisah ini bertahan selama ribuan tahun, maka film tersebut telah menjalankan salah satu fungsi kebudayaan yang paling penting, yakni menghidupkan kembali tradisi membaca.
Barangkali, itulah perjalanan yang paling menarik dari The Odyssey. Perjalanan Odesseus menuju Ithaka memang berakhir. Akan tetapi, perjalanan sebuah mahakarya tidak pernah benar-benar pulang. Ia terus berpindah dari puisi lisan ke manuskrip, dari manuskrip ke buku cetak, dari buku ke layar sinema, lalu kembali lagi ke rak-rak perpustakaan. Christopher Nolan hanyalah salah satu pershinggahan dalam perjalanan yang panjang itu. Yang semestinya lebih kita gandrungi bukan semata filmnya, melainkan keberanian untuk terus membaca karya-karya besar yang membuat peradaban tidak kehilangan ingatannya.
Penulis: Muhammad Ariby Zahron, mahasiswa Magister Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Memiliki minat pada kajian keislaman dan sastra profetis. Berdomisili di Gading Pesantren, Kota Malang. Kontak: 08982708671 | Instagram: @ariby_zahron.
Di tengah kecenderungan perfilman Indonesia yang mengandalkan formula-formula secara komersial, film FOUFO hadir dengan jalan yang berbeda. Bayu Skak selaku sutradara tampaknya tidak sedang berusaha menyesuaikan diri dengan selera pasar perfilman yang sudah mapan, melainkan menawarkan kemungkinan lain tentang bagaimana sebuah konsep artistik film dapat dibangun. Film yang rilis pada 9 Juli silam memadukan komedi, drama, dan science fiction...
BERITA
Kelompok 15 PKM FH UB Gelar Sosialisasi Pencegahan Bullying dan Kenakalan Remaja Sejak Dini di SDN 4 Kebobang
gubuktulis -
Dalam rangka mendukung rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Kelompok 15 PKM Fakultas Hukum Universitas Brawijaya menyelenggarakan “Sosialisasi Pencegahan Bullying dan Kenakalan Remaja Sejak Dini” bagi siswa kelas IV, V, dan VI SDN 4 Kebobang pada Selasa, 14 Juli 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran siswa mengenai pentingnya saling menghargai, mencegah perilaku bullying, serta membangun karakter positif sejak...
BERITA
MAHASISWA PKM FH UB KELOMPOK 15 GELAR REMBUK PERATURAN DUSUN TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN PENYALAHGUNAAN PERNIKAHAN SIRI
gubuktulis -
Mahasiswa Kelompok 15 PKM Fakultas Hukum Universitas Brawijaya menyelenggarakan kegiatan rembuk bersama masyarakat Dusun Lopawon untuk membahas draft Peraturan Dusun mengenai “Pencegahan dan Penanganan Penyalahgunaan Pernikahan Siri” yang telah disusun oleh mahasiswa. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh masukan, saran, serta penyempurnaan terhadap substansi maupun format dokumen sebelum ditetapkan sebagai kesepakatan bersama masyarakat.
Rembuk dilaksanakan dengan menyesuaikan agenda rutin masyarakat, yaitu...
BERITA
MASYARAKAT DUSUN LOPAWON SEPAKATI RANCANGAN AD/ART KELOMPOK HIPAM DAN TEMPLATE PERJANJIAN BAGI HASIL TANI MELALUI REMBUK BERSAMA
gubuktulis -
Kelompok 15 PKM Fakultas Hukum Universitas Brawijaya telah menyelenggarakan kegiatan “Rembuk Penyusunan AD/ART Kelompok HIPAM dan Template Perjanjian Bagi Hasil Pertanian” pada hari Sabtu, 11 Juli 2026 yang bertempat di Balai Dusun Lopawon, Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk mendiskusikan rancangan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Kelompok HIPAM serta template perjanjian bagi hasil...
BERITA
CEGAH JERATAN PINJOL ILEGAL, KELOMPOK 15 PKM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS BRAWIJAYA GELAR SOSIALISASI BIJAK DALAM MEMINJAM
gubuktulis -
Kelompok 15 PKM Fakultas Hukum Universitas Brawijaya menyelenggarakan kegiatan sosialisasi bertajuk “Bijak Meminjam Keluarga Tentram” yang dilaksanakan pada hari Kamis, 09 Juli 2026 di sela-sela kegiatan tahlilan perempuan RW 10 Dusun Lopawon, Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan pinjaman yang bijak sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap bahaya pinjaman ilegal.
Sasaran utama...
Kegiatan Ngabuburead Puisi: Membacakan Puisi Tiongkok Klasik & Terjemahannya yang diselenggarakan oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Serang di kawasan Masjid Pecinan Tinggi Banten menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat sipil mampu menghadirkan ruang dialog budaya yang hangat dan inklusif.
Menggabungkan tradisi membaca puisi klasik Tiongkok dengan suasana Ramadhan tak hanya memperkaya literasi budaya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keberagaman...
Nama Gus Dur selalu menemukan jalannya sendiri untuk kembali dibincangkan. Setiap kali haulnya tiba, orang-orang berkumpul dengan cara yang beragam, baik doa bersama, diskusi kecil tentang gagasan-gagasannya, hingga perjumpaan lintas agama. Bagi sebagian orang, beliau hadir sebagai tokoh politik yang pernah memimpin negara. Bagi yang lain, beliau lebih sering diingat sebagai seorang yang berulang kali mempermaklumatkan bahwa keberagaman adalah...
WARTA
Satu Dekade Gubuk Tulis “Reset Gubuk Tulis”: Tandai Era Baru Gerakan Literasi di Malang
gubuktulis -
MALANG – Komunitas literasi Gubuk Tulis merayakan hari lahir yang ke-10 dengan menggelar acara bertajuk "Reset Gubuk Tulis" pada Jumat (6/2/2026) malam. Bertempat di Oase Cafe and Literacy, acara ini menjadi momentum refleksi sekaligus deklarasi lahirnya kembali semangat kolaborasi literasi di Malang.
Ketua Pelaksana Harlah, Luluk Rohmatul Ulya, menyatakan bahwa usia satu dekade merupakan titik krusial bagi Gubuk Tulis untuk...
Neil deGrasse Tyson dikenal sebagai astrofisikawan yang pandai bercerita tentang alam semesta. Ia sering tampil di televisi, podcast, menulis buku populer, dan berbicara di berbagai forum untuk mengajak orang melihat langit dengan rasa ingin tahu. Sebagai direktur Hayden Planetarium di New York, Tyson menjadi wajah sains modern yang dekat dengan masyarakat. Gaya bicaranya sederhana dan penuh humor, sehingga orang...













