Persebaya Surabaya dan Bonek telah menjadi simbol identitas dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial-budaya masyarakat Surabaya. Meski sempat terstigma oleh stereotip negatif terkait kekerasan dan perilaku anarkis, komunitas pendukung setia ini terus mengalami evolusi menuju citra yang jauh lebih positif. Kini, Bonek tidak hanya dikenal atas loyalitasnya dalam mendukung Persebaya di lapangan, tetapi juga melalui aksi nyata seperti kepedulian sosial, solidaritas antarsesama, dan penerapan etika berolahraga yang lebih baik.

Identitas suporter bersifat dinamis dan terus berkembang seiring perubahan sosial di lingkungannya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh evolusi komunitas Bonek seperti Bonek Simo Area dan Bonek Campus. Komunitas ini telah bertransformasi dari sekadar kelompok pendukung klub sepak bola di stadion menjadi wadah untuk memperluas jaringan sosial dan membangun solidaritas. Hubungan antara Bonek dan masyarakat Surabaya pun menjelma menjadi kolaborasi yang nyata di berbagai bidang, mulai dari kegiatan kemanusiaan, lingkungan, pendidikan, hingga kesehatan publik yang ditunjukkan melalui aksi Kick-Off Against Stigma untuk penderita kusta bersama Universitas Airlangga.

Fenomena perkembangan positif ini menemukan landasan etis yang sangat kuat apabila ditinjau dari perspektif Al-Qur’an. Berdasarkan QS. Al-Hujurat ayat 13, keberagaman kelompok dan identitas sosial diciptakan agar manusia saling mengenal (li ta‘ārafū). Kecintaan terhadap klub dan kota idealnya menjadi sarana membangun hubungan sosial yang luas tanpa terjebak dalam sikap eksklusif, rasa lebih unggul, atau permusuhan terhadap kelompok suporter lain.

Selain itu, nilai solidaritas komunitas ini sejalan dengan konsep ta‘āwun dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2, yaitu perintah untuk saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Kebersamaan dan kekompakan Bonek memiliki nilai sosial yang tinggi ketika dimanfaatkan untuk membantu sesama, menjaga ketertiban, dan berkontribusi bagi masyarakat. Sebaliknya, solidaritas tersebut akan kehilangan nilai etisnya apabila justru digunakan untuk membenarkan tindakan kekerasan, anarkisme, maupun permusuhan.

Peran komunitas Bonek dalam menjaga keharmonisan Kota Surabaya terlihat jelas dari sinergi mereka bersama kepolisian untuk menciptakan situasi yang kondusif. Langkah ini diperkuat melalui aksi simpatik seperti pembagian bunga mawar kepada warga luar kota sebagai simbol perdamaian. Melalui pendekatan ini, identitas sebagai suporter Persebaya berhasil digeser dari ranah rivalitas menuju persaudaraan yang mendorong terciptanya kedamaian antarkelompok.

Kehadiran sosial Bonek juga mengakar hingga tingkat perkampungan melalui pembentukan Posko Bonek Peduli. Wadah ini menjadi ruang interaksi untuk merespons berbagai persoalan kemanusiaan secara cepat. Kedewasaan suporter turut tercermin saat merayakan pencapaian klub, di mana euforia kemenangan diarahkan pada aksi menjaga ketertiban dan fasilitas umum. Hal ini membuktikan bahwa rasa bangga terhadap klub dapat berjalan sejajar dengan tanggung jawab sebagai warga kota.

Ekspresi kecintaan tersebut turut memperkaya estetika dan kebudayaan visual kota melalui pembuatan mural kreatif bertema Persebaya di berbagai ruang publik. Selain mempercantik lingkungan, seni mural ini memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap kotanya. Terakhir, komitmen Bonek dalam pembinaan generasi muda diwujudkan melalui edukasi olahraga yang menanamkan disiplin dan sportivitas, serta aksi kepedulian sosial seperti penyaluran bantuan kepada anak yatim.

Perspektif Al-Qur’an memberikan landasan etis yang kuat dalam memandu transformasi budaya suporter agar tetap mengedepankan nilai humanis. Surah Al-Hujurat ayat 10 dan 11 mengingatkan bahwa persaudaraan dan perdamaian harus mengungguli rivalitas olahraga, serta melarang tindakan mencela atau merendahkan kelompok lain. Kedewasaan suporter bukan berarti memadamkan semangat fanatisme terhadap klub, melainkan mengontrolnya agar tidak menjelma menjadi kebencian dan permusuhan.

Landasan moral tersebut disempurnakan oleh prinsip ta‘āruf (QS. Al-Hujurat: 13) yang menjembatani hubungan di tengah keberagaman, serta ta‘āwun (QS. Al-Ma’idah: 2) yang mengarahkan solidaritas pada kebajikan. Integrasi nilai-nilai ini membuktikan bahwa dukungan terhadap Persebaya dapat berjalan seiring dengan penghormatan kepada pihak lain, menciptakan iklim suporter yang positif dan inklusif.

Pada akhirnya, sinergi antara Persebaya, Bonek, dan masyarakat Surabaya menunjukkan bahwa sepak bola memiliki makna yang melampaui batas lapangan. Identitas suporter telah berkembang menjadi kekuatan sosial yang nyata dalam bidang kemanusiaan, keamanan, pendidikan, dan lingkungan. Kecintaan terhadap simbol klub pun bertransformasi menjadi energi positif untuk membangun tata kehidupan kota yang lebih damai, peduli, dan beradab.

 

Penulis: Muhammad Khafid Muktadir (Mahasiswa Magister Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here