Isu penyingkiran ruang hidup rakyat akibat ekspansi modal dan proyek oligarki kembali menjadi topik dalam kegiatan Pembinaan Mental Kebangsaan yang digelar di Oase Cafe Literacy, Merjosari, Kota Malang pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Mengusung tema “Suara-Suara yang Merawat Republik: Menguji Kedaulatan Rakyat di atas Kuasa Modal”, diskusi ini membedah buku kumpulan reportase mendalam Project Multatuli berjudul Tersungkur dan Tetap Melawan, yang diterbitkan Marjin Kiri atas kerja sama dengan Project Multatuli.

Kegiatan ini lahir atas kolaborasi UPT Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (UM), Oase Institute, dan Penerbit Marjin Kiri. Inisiatif ini turut didukung oleh jejaring komunitas seperti Gerakan Gusdurian Muda Kota Malang, Gubuk Tulis, Perempuan Bergerak, dan Toko Buku Oase.

Kehadiran lintas organisasi ini mempertegas pentingnya membangun ruang perjumpaan yang inklusif untuk merawat nalar kritis masyarakat.

Pengantar diskusi disampaikan oleh Kepala UPT Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (UPT Lapasila UM), Dr. Akhirul Aminulloh. Ia menyampaikan pentingnya diskusi ini sebagai wujud pengabdian kampus terhadap masyarakat. “Dan semoga diskusi ini bisa menggema menjadi gerakan nyata untuk kedaulatan dan kemerdekaan rakyat,” tambahnya.

Anisa Rizki Sabrina, akademisi Ilmu Komunikasi FIS UM, menyoroti pentingnya peran media independen dalam menyuarakan narasi perlawanan warga lokal di tengah dominasi media arus utama yang rawan terkooptasi oleh kepentingan modal.

“Semua memiliki hak untuk bersuara. Yang menjadi pertanyaan, apakah semua semua suara memiliki kesempatan untuk didengar?” tambah Kiky, sapaan akrab Anisa.

Kiky menceritakan perihal sebuah kasus, bahwa Afan Kurniawan adalah seorang Ojek Online yang meninggal karena terlindas mobil Brimob. Akan tetapi pelaku penabrak hanya dihukum 7 tahun. Ini sebuah ketidakadilan terhadap nyawa yang hilang. Ada pun semasa hidupnya, Afan merupakan penggagas Hero Green.

“Kemudian banyak kekacauan yang terjadi pascaperistiwa tersebut. Banyak penjarahan ke rumah pejabat dan politisi. Hal tersebut justru ditanggapi presiden agar aparat bertindak lebih tegas,” tambahnya.

Latif Fianto, akademisi Ilmu Komunikasi Unitri, menguraikan dinamika komunikasi politik dan penetrasi kekuatan modal yang kian mengikis kedaulatan serta hak-hak dasar warga negara dalam mengelola ruang hidupnya.

Latif menceritakan bagaimana seseorang yang memiliki tanah yang tidak tahu luasnya berapa hektar, hanya dibeli oleh perusahaan sekitar 30 juta. Ada juga yang kebunnya tiba-tiba diratakan terlebih dahulu baru kemudian pemilik tanah diberikan ganti rugi tanpa diberikan sosialisasi.

Ketika tanah ini dirampas secara paksa kemudian diganti rugi dengan tidak sesuai harganya, itu tidak hanya sekedar pemerkosaan. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa sebenarnya mereka para korporasi/perusahan mau membunuh kita, cuma tidak bisa karena kita manusia, maka yang dibunuh kebun, dan kita dibikin melarat atau miskin. Pada akhrinya yang diciptakan ketakutan, kemiskinan. Kemudian kita akan mengemis pada negara dan perusahan. Kemudinabperusahaan datang seolah olah mereka pahlawan.

Moh. Yajid Fauzi dari Oase Institute menekankan perlunya konsolidasi gerakan sipil, menjaga memori kolektif perlawanan, serta merumuskan langkah konkrit warga dalam menghadapi ketimpangan struktur sosial yang masif.

Buku “Tersungkur dan Tetap Melawan” menghadirkan rekam jejak perjuangan masyarakat adat, petani, dan buruh yang ruang hidupnya terancam oleh proyek-proyek skala besar seperti Food Estate serta industri ekstraktif.

Catatan reportase dalam buku ini menggarisbawahi realitas bahwa meskipun masyarakat kerap berada dalam posisi tertekan hingga “tersungkur”, daya kritis dan daya lawan mereka tidak pernah padam untuk mempertahankan hak-hak dasarnya.

Acara berlangsung antusias. Lima puluh lebih mahasiswa, aktivis, dan masyarakat umum turut berdialog. Melalui forum ini, para peserta dan narasumber bermufakat bahwa merawat republik tidak cukup dilakukan lewat slogan formal, melainkan dengan menjaga kedaulatan rakyat agar tidak tunduk di bawah kontrol kuasa modal. Acara pun diakhiri dengan penggalangan dana untuk bencana di NTT sebagai bentuk kepedulian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here