ketika aku pergi ke kota, ku lihat mega-mega

siluet gedung-gedung membelakangi

segenap cahaya senja yang kuning

keemas-emasan itu

ku hitung; satu, dua, tiga,…

ah, betapa banyak!

berpuluh puluh ruang kaca balok bening

baris-berbaris rata-rata amat tinggi

Ayah, kau tahu sedang apa aku waktu itu?

ku bayangkan, inikah hasil kerjamu?

mengolah tanah-tanah sawah

hingga hari benam menuju malam

dan mereka yang lelap di sana

tak pernah hendak paham

sebenarnya dari manakah

bersuap-suap nasi yang dimakan

telah dihasilkan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here