Dalam organisasi, biasanya perempuan cenderung mendapat cibiran bahwa antara pengorganisasian laki-laki lebih teratur dan terarah dibanding dengan pengorganisasian perempuan. Bahkan sebagian orang mempunyai persepsi bahwa kegiatan pergerakan tidak pantas bagi perempuan.

Apakah nantinya pergerakan perempuan akan mempengaruhi keperempuanannya?

Apakah dengan perempuan berorganisasi akan memperkeruh suasana rumah tangganya?

Juga ada yang beranggapan bahwa pergerakan atau pengorganisasian itu hanya untuk laki-laki sebagai tugasnya?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, perlu adanya pengungkapan realitas pergerakan perempuan dalam organisasi. Jika dilihat dalam sejarah pergerakan perempuan Indonesia telah dilakukan oleh RA. Kartini yang mampu menerobos dan memperjuangkan hak-haknya, jauh sebelum Kartini juga ada Dewi Sartika yang mana ia telah mendirikan sekolah untuk perempuan di Bandung, hal ini membuktikan bahwa perempuan telah mampu mengorganisir dengan teratur.

Akan tetapi ketika ditelisik dari segi gerakan perempuan Indonesia dimulai pada abad 20 yang bersamaan dengan pendirian organisasi modern yang didirikan oleh kaum bumi putera. Pengorganisasian perempuan justru lebih teratur dan mandiri, karna pada hakikatnya dalam suatu organisasi yang didominasi oleh laki-laki, pasti didalamnya ada perempuan yang mampu diandalkan. Dan ketika dalam suatu organisasi perempuan, akan sangat sedikit atau bahkan tidak terlihat batang hidung laki-laki didalamya.

Organisasi perempuan di Indonesia telah jauh melangkah dengan menyelenggarakan kongres perempuan di Yogjakarta pada tahun 1928, tema yang menjadi pembahasan yakni tidak kalah dengan laki-laki yakni penguatan perjuangan yang cukup besar yakni turut dalam memerdekakan Indonesia. Dengan hal semacam itu perempuan juga masih semangat dalam memperjuangkan hak yang bersifat khusus yakni masalah perkawinan, dan hak untuk dipilih sebagai langkah awal perjuangan pergerakan perempuan.

Pengorganisasian perempuan cenderung teratur, hal ini sejalan dengan kata Shalah Qazan dalam bukunya membangun pergerakan menuju pembebasan perempuan bahwa gerakan dalam suatu organisasi hanya dilakukan oleh laki-laki saja, maka akan menjadi upaya yang pincang atau berat sebelah, karena ibaratnya seperti orang meniup balon yang bocor, orang itu akan lelah dan balon pun tidak menggelembung.

Suatu organisasi akan sulit berkembang jika tanpa partisipasi perempuan. Dengan partisipasi perempuan, sebagian besar jalan mencapai tujuan akan terpenuhi.
Kebenaran akan keteraturan pengorganisasian perempuan telah terbukti dengan adanya peran perempuan dalam memanagement organisasi sejak lama, hingga sekarang perempuan memiliki eksistensi. Pergerakan perempuan yang teratur akan memperkuat kepribadian dan membentuk menjadi pemimpin yang mampu mengatur keluarga, masyarakat dan negara.

Banyak contoh perempuan saat ini menjadi kepala dalam suatu daerah, hal ini karena terbentuknya pola fikir yang ia rancang saat mengikuti organisasi. Hakikatnya kita akan dilatih dalam satu wadah, yang nantinya akan terbiasa ketika mengatur wadah yang lain.

Bagaimana orang mengatakan bahwa organisasi perempuan cenderung tidak teratur, akantetapi dalam suatu organisasi perempuan dapat melahirkan pemimpin perempuan yang bijaksana. Dengan keteraturan pengorganisasian, berarti perempuan telah meningkatkan kualitas dan terus selalu belajar sehingga ia dapat memiliki dua senjata yang melekat pada dirinya yakni perasaan halus yang dapat menyentuh hati dan argumentasi kuat yang menyentuh nalar.

Kemampuan menyentuh rasa saja tidak cukup untuk mewujudkan kepemimpinan yang sehat. Keteraturan dalam organisasi telah mengakar dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman, banyak perempuan yang telah sadar akan manfaat berorganisasi yakni membantu perempuan dalam menyuarakan hak-haknya, mudah memecahkan masalah dan mengangkat harkat martabat dalam tatanan sosial.

Hal ini sejalan dengan pengalaman keteraturan organisasi perempuan yang digeluti oleh ibu Khofifah Indar Parawansa, Gubenur Jawa Timur. Lahir dari sebuah organisasi IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) sewaktu kelas 3 SMA, dan melanjutkan pada organisasi PMII saat menjadi mahasiswa. Dapat diketahui bahwa kelahiran perempuan dalam kepemimpinan sebuah daerah disebabkan oleh keteraturan organisasi perempuan.

Jadi asumsi orang pengorganisasian perempuan cenderung tidak teratur itu salah adanya. Karna mana mungkin dalam ketidakaturan organisasi dapat melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan yang bijaksana. Lantas bagaimana mungkin dinyatakan bahwa pengorganisasian perempuan itu cenderung tidak teratur?

Bukankah al-Quran menguraikan betapa bijaksananya Ratu Saba dapat memimpin wilayah Yaman? Hal ini tertera dalam QS. An-Naml:44. Kemudian, bukankah dalam kenyataan dahulu dan dewasa kini, sekian banyak perempuan berorganisasi atau membentuk gerakan sampai ia dapat menjadi pemimpin berbagai negara berhasil dalam kepemimpinannya, melebihi keberhasilan dari sekian banyak kepala negara laki-laki, contohnya saja Cleopatra, seorang pemimpin perempuan mesir yang demikian kuat, ganas dan cerdik. Ia langsung menangani urusan-urusan administratif di wilayah kekuasaanya, ia juga menanggulangi kegentingan seperti bencana kelaparan dengan memerintahkan lumbung-lumbung kerajaan membagi-bagikan bahan pangan kepada rakyat yang kelaparan dilanda musim kemarau pada permulaan masa pemerintahannya.

Dengan melihat contoh peran perempuan dalam kepemimpinan tak lain disebabkan karena kecerdasanya, pintar berkomunikasi dan berorganisasi. Dengan organisasi perempuan mampu mengembangkan kemampuan komunikasi, memperjuangkan hak-haknya, membangkitkan jiwa kepemimpinan, serta untuk meningkatkan kualitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here