MALANG – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) bekerja sama dengan Oase Institute menggelar kegiatan bertajuk “Transformasi Digital Movement menuju Eco-Interfaith Movement: Penguatan Ekoteologi bagi Pemuda Komunitas Lintas Iman di Kota Malang” di Oase Cafe & Literacy, Kamis (30/7/2026).

Diskusi menghadirkan budayawan Irfan Afifi sebagai narasumber dan dimoderatori oleh Al Muiz Liddinillah sebagai kreator digital sekaligus pegiat komunitas lintas iman. Ketua pelaksana, Emi Setyaningsih, hadir memberikan sambutan. Tim pengabdian juga beranggotakan Mohamad Anas dan Arif Mustapa. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

Kegiatan ini menghadirkan pemuda dari berbagai komunitas dan latar belakang keagamaan di Kota Malang. Program tersebut bertujuan memperkuat pemahaman mengenai hubungan agama, tradisi, dan kelestarian lingkungan sekaligus mendorong terbentuknya gerakan ekologis lintas iman.

Dalam sambutannya, Emi menyampaikan bahwa persoalan lingkungan tidak cukup dipandang sebagai persoalan teknis, tetapi juga perlu ditempatkan sebagai persoalan moral, sosial, budaya, dan spiritual.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak pemuda lintas iman melihat bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Agama dan tradisi lokal memiliki sumber nilai yang kuat untuk membangun kesadaran ekologis,” ujar Emi.

Menurutnya, kegiatan ini merupakan pengembangan dari program Digital Movement yang sebelumnya berfokus pada literasi digital dan kampanye perdamaian. Pada 2026, gerakan tersebut dikembangkan menjadi Eco-Interfaith Movement, yaitu gerakan yang mengintegrasikan moderasi beragama, ekoteologi, literasi digital, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Dalam pemaparannya, Irfan menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari kondisi batin manusia. Ia membedakan antara jagat katon (alam yang tampak) dan jagat batin (alam batin manusia). Menurutnya, kerusakan lingkungan merupakan cerminan dari rusaknya jagat batin.

“Kalau ingin memperbaiki alam, terlebih dahulu yang harus diperbaiki adalah jagat batin manusia,” jelasnya. Ia menilai masyarakat tradisional memandang alam melalui relasi yang bersifat simbolik dan sakral, bukan semata-mata material. Namun, perkembangan sains modern yang berorientasi pada rasionalitas membuat alam semakin dipahami hanya sebagai objek yang hanya dinilai dari keuntungan.

Irfan Afifi menambahkan bahwa tradisi Jawa memiliki pandangan yang kuat mengenai hubungan manusia dengan alam. Alam tidak semata-mata ditempatkan sebagai objek yang dapat dimanfaatkan, tetapi sebagai bagian dari tata kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.

Menurut Irfan, pandangan tersebut memiliki irisan dengan ajaran berbagai agama. Meskipun menggunakan istilah dan simbol yang berbeda, agama-agama memiliki titik temu etis dalam ajaran untuk merawat kehidupan, mencegah kerusakan, dan menjaga keberlanjutan alam.

Irfan juga mengangkat ungkapan “tandur urip” dalam tradisi masyarakat Jawa. Secara harfiah, tandur berarti menanam dan urip berarti kehidupan. Namun, maknanya tidak terbatas pada kegiatan menanam tumbuhan.

“Tandur urip bukan sekadar menanam pohon. Tandur urip berarti menanam kehidupan. Apa pun yang kita lakukan seharusnya menumbuhkan kehidupan, bukan justru merusak atau mematikannya,” jelas Irfan.

Dalam kerangka tersebut, manusia tidak hanya mengambil hasil dari bumi, tetapi juga memiliki kewajiban menjaga kesuburan, merawat sumber air, memelihara pepohonan, dan memastikan bumi tetap menjadi ruang hidup yang layak bagi generasi berikutnya.

falsafah tandur urip dapat menjadi dasar gerakan bersama lintas iman. Setiap agama memiliki bahasa dan simbol yang berbeda, tetapi semuanya dapat dipertemukan dalam komitmen untuk merawat kehidupan. Dialog lintas iman karena itu perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti mengurangi sampah, menanam pohon, menjaga air, dan membangun pola hidup yang tidak merusak lingkungan tambah Irfan.

Diskusi berlangsung dalam format dialog sore yang diikuti peserta dari berbagai kalangan. Selain pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan sesi tanya jawab yang disambut antusiasme tinggi peserta, hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan kepada narasumber sehingga diskusi berlanjut melampaui waktu yang telah dijadwalkan.

Setelah sesi diskusi berakhir, suasana keakraban tetap terjalin melalui kegiatan ngopi dan jagongan bersama. Momen tersebut menjadi ruang bagi narasumber dan peserta untuk melanjutkan perbincangan secara lebih santai sekaligus mempererat jejaring antarpeserta.

Melalui kegiatan ini, FISIP UB dan Oase Institute berharap lahir gerakan pemuda lintas iman yang tidak hanya aktif dalam dialog, tetapi juga terlibat dalam aksi ekologis dan kampanye digital untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama.

Penulis : Fariqah Nadzirah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here