Di tengah kecenderungan perfilman Indonesia yang mengandalkan formula-formula secara komersial, film FOUFO hadir dengan jalan yang berbeda. Bayu Skak selaku sutradara tampaknya tidak sedang berusaha menyesuaikan diri dengan selera pasar perfilman yang sudah mapan, melainkan menawarkan kemungkinan lain tentang bagaimana sebuah konsep artistik film dapat dibangun. Film yang rilis pada 9 Juli silam memadukan komedi, drama, dan science fiction dalam satu ruang cerita, menyisipkan animasi sebagai bagian dari penceritaan, memilih rombengan sebagai lanskap utama, lalu membiarkan humor mengalir hampir di setiap jeda dialog.

Keeksotisan film ini tidak berjejak pada kompleksitas pilihan genrenya. Menariknya, ada sejumlah ironi yang justru mempertegas identitas film itu sendiri. Kita bisa menyaksikan secara riil bahwa para pemerannya sebagian besar bukan aktor profesional bukan pawang film yang kondang, sementara kisah tentang keluarga Madura itu ditulis dan disutradarai oleh seseorang yang bukan berasal dari latar budaya tersebut. Seluruh pilihan itu menjadikan FOUFO tampil sebagai sebuah diferensiasi yang menarik di tengah arus sinema nasional.

Konfigurasi semacam ini memang lebih akrab dijumpai dalam perfilman akbar internasional—misalnya melalui Everything Everywhere All at Once atau Palm Springs—yang sama-sama berani mempertemukan komedi, drama, dan fiksi ilmiah dalam satu bangunan naratif. Ihwal perfilman Indonesia, keberanian semacam itu masih tergolong jarang, sehingga FOUFO layak dibaca sebagai upaya memperluas kemungkinan estetika sinema lokal, alih-alih sekadar menawarkan kebaruan unsur sebagai sensasi.

Pusat narasi FOUFO bertumpu pada hubungan Muslim dan ibunya, Saiqonah. Ambisi terbesar Muslim sebetulnya sederhana sekaligus sangatlah berat. Ia hendak memberangkatkan sang ibu ke tanah suci. Ketika biaya pelunasan haji tidak kunjung terpenuhi hingga tenggat tempo, ia mengambil keputusan untuk meminjam uang ke bank dengan dalih modal usaha. Pilihan ini bukan semata-mata menjadi pemicu konflik cerita, melainkan juga membuka cara pandang masyarakat Madura terhadap laku-ritus ibadah haji. Bagi banyak keluarga Madura, berhaji bukan menunaikan rukun Islam kelima belaka, tetapi menjadi penanda keberhasilan hidup sekaligus kehormatan sosial. Karena itulah, perjuangan Muslim patut memperoleh makna yang melampaui persoalan ekonomi.

Beban tersebut dipikul oleh sebuah keluarga besar yang hidup berdesakan di rumah yang lebih tepatnya menyerupai gudang rombengan. Di bawah satu atap tinggal Muslim, ibunya, saudara, ipar, hingga keponakan. Masing-masing membawa persoalan sendiri. Latif sebagai anak sulung, terbaring sakit sehingga kehilangan pekerjaan. Ipul diceritakan lebih banyak abang-abang lambe daripada menghasilkan penghasilan. Sementara Kacong, meskipun bukan bagian dari keluarga inti, hadir seolah telah menjadi anggota keluarga. Alih-alih menjadi latar semata, rumah rombengan itu berfungsi sebagai ruang tempat berbagai keterbatasan ekonomi, relasi kekerabatan, dan harapan hidup saling bertumpuk keranjingan nasib yang tak tentu.

Keseharian mereka berubah ketika menemukan sesosok alien yang crash landing di kampung halaman. Mereka menyebutkan dengan Foufo. Sebutan itu sebetulnya adalah pelafalan lokal terhadap UFO yang disesuaikan dengan dialek Madura layaknya ungkapang te.. sate.. . Kehadiran makhluk asing ini tidak langsung menghadirkan petualangan spektakuler sebagaimana lazimnya film fiksi ilmiah. Sebaliknya, ia perlahan menyatu ke dalam ritme kehidupan keluarga tersebut, ikut menanggung persoalan-persoalan mereka, sekaligus menjadi katalis yang menggerakkan konflik ke arah yang lebih kompleks.

Ketegangan FOUFO mencapai mundak cilaka ketika harapan Saiqonah untuk berangkat haji kandas. Uang pinjaman bank yang digadang sebagai pelunasan selama ini ternyata telah digunakan Mbak Nur untuk membeli obat, mengusir para rentenir yang menghantuinya, bersolek di salon, hingga bancak’an bebek carok kepada tetangga yang sering mengejeknya tanpa sepengetahuan keluarga. Keputusan itu memang memiliki alasan yang dapat dipahami, tetapi justru memperdalam dilema moral yang dihadapi setiap tokohnya.

Dari titik inilah berbagai kepentingan saling bertabrakan. Muslim merelakan keris pusaka yang mengandung rhodium dan alumunium spesial demi membantu Foufo untuk memperbaiki pesawatnya. Sebagai balasan, sang alien menyembuhkan penyakit Latif, memulihkan penglihatan katarak Bu Saiqonah, membantu memeriksa USG kandungan Siti, hingga mengantarkan Saiqonah ke Mekkah pada ujungnya. Unsur-unsur fiksi ilmiah dalam FOUFO walhasil tidak hadir sebagai tontonan berbalut delusi, melainkan sebagai perangkat naratif untuk mengurai persoalan keluarga, pengorbanan, dan harapan yang sejak awal telah dibangun film ini.

Apa yang disampaikan Bayu Skak mengenai FOUFO agaknya menjadi kunci untuk membaca keseluruhan film ini. Dalam konferensi pers di Gedung Kencana Surabaya, 27 Juni 2026, ia menyebut bahwa FOUFO sebetulnya merupakan kisah tentang seorang anak yang berbakti kepada ibunya, dengan drama kehidupan juga sentuhan jenaka. Pernyataan tersebut penting karena menjelaskan bahwa komedi dalam FOUFO tidak dimaksudkan sebagai tujuan, melainkan sebagai cara bertutur. Tawa menjadi medium untuk mengantarkan penonton memasuki persoalan-persoalan yang jauh lebih dekat dengan realitas sosial.

Di balik kelucuan para tokohnya, FOUFO menyisipkan beragam kritik yang berangkat dari kehidupan sehari-hari. Sosok Ipul, misalnya, merepresentasikan ironi nasib guru honorer yang penghasilannya nyaris tak sebanding dengan kebutuhan hidup. Film ini juga menyinggung stereotip yang selama bertahun-tahun dilekatkan kepada masyarakat Madura, mulai dari stigma kriminalitas hingga asosiasi yang menyempitkan identitas mereka pada dunia besi tua dan rombengan. Namun, persoalan yang paling dominan tetap berkisar pada ibadah haji.

FOUFO memperlihatkan bagaimana keinginan menunaikan rukun Islam kelima berhadapan dengan kenyataan berupa mahalnya biaya dan panjangnya masa tunggu keberangkatan. Dalam salah satu scene film itu dikisahkan dengan kehadiran dua tokoh yang memilih berhaji dengan berjalan kaki. Hal tersebut menjadi gema dari fenomena yang beberapa waktu lalu ramai diperbincangkan di media sosial. Melalui adegan ini, tentu film ini tidak sedang menghakimi pilihan seseorang dalam beribadah, melainkan mengingatkan bahwa di balik setiap perjalanan menuju Tanah Suci selalu tersimpan pergulatan tentang ikhtiar, keterbatasan, dan harapan.

Akan tetapi, membaca FOUFO semata sebagai kisah bakti seorang anak kepada ibunya tentu belum cukup. Di balik narasi keluarga yang menjadi pusat cerita, Bayu Skak sesungguhnya sedang meminjam satu simbol yang memiliki bobot sosial sangat kuat dalam masyarakat Madura, yakni ibadah haji. Haji dalam film ini memanglah menjadi tujuan perjalanan religius. Ada hal yang lebih kontemplatif terkait ibadah tersebut, yakni perangkat kultural yang menggerakkan hampir seluruh keputusan tokohnya. Karena itu, kegagalan Saiqonah berangkat ke Tanah Suci dipahami sebagai tertundanya sebuah kehormatan yang telah lama diperjuangkan.

Berkenaan dengan paradigma tersebut, sejumlah kajian antropologi menunjukkan bahwa masyarakat Madura menempatkan ibadah haji sebagai salah satu penanda mobilitas sosial yang bernilai prestisius. Temuan ini dapat ditelusuri dalam Madura dalam Empat Zaman. Melalui kajian tersebut, Huub de Jonge menjelaskan bahwa gelar haji berfungsi sebagai identitas keagamaan sekaligus modal simbolik yang mengukuhkan otoritas dan meningkatkan prestise sosial pemiliknya di tengah masyarakat.

Kehormatan itu kemudian terpantul dalam berbagai praktik sosial, mulai dari penyematan gelar “Haji” di depan nama, perubahan posisi dalam forum-forum kemasyarakatan, hingga meningkatnya kepercayaan publik terhadap mereka yang telah menunaikan ibadah tersebut. Dalam arti lain, haji bukan hanya ibadah personal, tetapi juga institusi sosial yang membentuk relasi kuasa, pusat perhatian, kontrol masyarakat, dan pengakuan dalam komunitas.

Kerangka semacam itu pula membantu menjelaskan mengapa Muslim bersedia menanggung risiko utang demi memberangkatkan ibunya. Keputusan tersebut, jika dibaca hanya dari sudut pandang ekonomi, sudah jelas tidak rasional. Namun, dalam horizon budaya Madura, tindakan itu justru memiliki logikanya sendiri sesuai keyakinan mereka.

Berhaji dipandang sebagai puncak ikhtiar seorang anak kepada orang tua, sekaligus bentuk penyempurnaan martabat keluarga. Di titik inilah FOUFO memperlihatkan kecermatannya, sehingga film ini tidak serta merta menertawakan hasrat berhaji, tetapi mengajak penonton melihat bagaimana cita-cita religius dapat berkelindan dengan struktur sosial, harapan keluarga, dan beban ekonomi yang harus dipikul masyarakat kelas bawah.

Pembacaan tersebut juga sejalan dengan gagasan Pierre Bourdieu mengenai modal simbolik (symbolic capital). Bourdieu menjelaskan bahwa pengakuan sosial sering kali bekerja sama kuatnya dengan modal ekonomi. Melalui pembacaan masyarakat Madura, status sebagai haji dapat dipahami sebagai bentuk modal simbolik yang menghadirkan kehormatan, legitimasi moral, dan pengaruh sosial.

Walhasil, konflik yang dibangun FOUFO sesungguhnya tidak berhenti pada persoalan biaya pelunasan haji. Film ini sedang memperlihatkan bagaimana seseorang berusaha mempertahankan martabat keluarganya di hadapan sebuah sistem nilai yang menempatkan ibadah haji sebagai puncak capaian religius sekaligus sosial.

 

Penulis: Muhammad Ariby Zahron, mahasiswa Magister Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Memiliki minat pada kajian keislaman dan sastra profetis. Berdomisili di Gading Pesantren, Kota Malang. Kontak: 08982708671 | Instagram: @ariby_zahron.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here