Kau tahu sendiri kan ini tahun politik. Sudah seharusnya kita ikut menyelamatkan pohon-pohon samping rumah, pinggir jalan, apa lagi hutan. Kau tahu sendiri kan ini tahun politik. Banyak bermunculan calon-calon kepala daerah bahkan calon presiden yang menjanjikan berbagai macam solusi kehidupan. Tak terkecuali untuk alam.
Kau juga pasti tahu kan. Pohon-pohon itu mendapat ancaman serius. Kita boleh khawatir tentang hutan kita. Tapi kita juga tak boleh lupa dengan pohon yang berada dekat dengan kita. Kau sendiri juga pasti tahu, pohon-pohon itu tak bisa protes sendiri pada penguasa.
“Kau ini kenapa?”
“Masih saja kau menganggapku bercanda, ini sudah genting.”
“Apanya? Kepentinganmu?”
“Masih saja kau berprasangka padaku. Kau tahu sendiri aku sudah tak berkecimpung di dunia politik.”
“Lalu?”
“Aku ingin menebus kesalahanku.”
“Kesalahan apa?”
“Apa hubungannya denganku?”
“Begini maksudku, dengarkan dulu!!!.”
Lima tahun yang lalu, benar katamu aku punya kepentingan di dunia politik. Kau juga tahu kan, aku menjaga jarak denganmu. Teman seperjuanganku saat menjadi aktivis lingkungan. Aku memilih jalan lain yang kupikir akan lebih mudah dan kemungkinan berhasil lebih tinggi. Aku mengabaikan yang sederhana. Seperti yang biasa kau lakukan bersama teman-temanmu.Menanam pohon untuk penghijauan. Sedangkan saat itu, aku muluk-muluk seolah ingin menyelamatkan bumi pertiwi ini dengan caraku sendiri.
“Aku tahu kau memang seperti itu, tak usahlah kau ceritakan, aku sudah tahu semua.”
“Jangan kau potong dulu ceritaku ini!”
“Kamu kenapa sih?”
“Mau memaksaku mendengarkan janji-janjimu lagi?”
“Ini beda dengan yang lalu. Aku sudah berubah.”
“Cukup, mau kuungkit lagi kesalahanmu?”
Kau ingatkan?, saat memilih jalan itu. Hampir setiap hari kuingatkan, agar kau tak mengambil tawaran itu. tapi hasilnya nihil. Kau keras kepala. Merasa punya kuasa atas banyak hal jika kau berhasil dalam tahun politik lima tahun lalu. Aku juga tahu, sebenarnya pemimpin yang kau usung saat itu mendulang kemenangan telak di daerah kita ini. Tapi kau tak puas dengan semua itu. Tentu ini soal uang kan? Kau merasa dirugikan. Lalu kau kembali lagi menemuiku, dan berbicara penuh busa, padahal aku tahu, yang sebenarnya terjadi adalah kau kalah. Kau ingin menuntut balas atas sakit hatimu.
Tahun ini kau kembali ke jalan yang kau tinggalkan dulu. Melawan banyak kepentingan yang mengatasnamakan orang banyak, yang kenyataannya justru merusak alam. Hutan-hutan mulai gundul. Kau mungkin juga masih mengikuti kegiatan teman-teman yang tak berhenti menanam pohon. Tapi kau memilih mengamati dari jauh. Jangankan bawa cangkul. Menenteng bibit pohon pun kurasa kau sudah tak kuasa. Kau lebih berat dengan gengsi dalam hati. Bukan hati, tapi kepalamu yang hanya berisi tentang kekuasaan, eksistensi semu, bahkan uang belaka.
Kalau kedatanganmu ke sini hanya untuk memberi tawaran tentang keberpihakan di tahun politik. Aku yang merintis gerakan penghijauan ini denganmu dulu, akan dengan tegas menolaknya. Aku tahu kau ikut andil dalam merintis gerakan ini. Tapi semangatmu luntur saat tawaran di tahun politik lima tahun yang lalu memberikan posisi yang lebih menjanjikan dalam hidupmu.
“Kau masih marah?”
“Tidak, tapi aku tidak lupa dengan penghianatanmu dulu.”
“Itu artinya kau marah.”
“Tidak, aku tidak marah. Buktinya masih saja kusapa kau jika bertemu.”
“Tapi?”
“Kecewa iya, kau justru memfitnah gerakan yang kau rintis sendiri.”
“Itu persolan lain. Aku tahukesalahanku sangat fatal. Aku buta.”
“Sudahlah itu hanya mengingatkanku dengan sakit hati yang lama kupendam.”
Aku tahu kesalahanku saat itu tidak bisa dimaafkan. Kau memang akan sulit melupakan yang terjadi lima tahun yang lalu itu. kau memang sudah bersikap baik padaku dan tak lelah mengingatkanku untuk lepas dari jeratan kepentingan itu. kalau boleh, aku datang ke sini ingin kembali lagi seperti yang dulu. Ikut aksi menanam lagi.
Aku kembali bukan karena keberhasilanmu mengingatkanku. Tapi aku juga tidak menafikkan ini juga karena kegigihanmu mengingatkanku. Yang paling penting adalah aku ingin kembali.
“Tidak bisa kupungkiri, ini rumahmu.”
“Apa masih berlaku?”
“Maksudmu?”
“Seorang yang telah berbuat salah kembali diterima?”
“Tentu, meski sejujurya aku ragu. Aku sudah banyak dibongongi oleh para politikus itu.”
Aku pastikan, aku benar-benar menyesal. Aku juga tidak akan mengulangi kesalahanku. Dengarkan sedikit ceritaku. Kita bergerak bersama lagi menghijaukan bumi ini. Ini sangat genting. Banyak di antara kita yang mengabaikannya. Selain merusak nilai estetika yang meneduhkan mata. Yang dilakukan oleh para pedagang juga politikus itu sangat mengancam hidup pohon-pohon itu.
“Besok ikut aku.”
“Ke mana?”
“Mencari paku.”
“Maksudmu?”
“Sudahlah! Besok aku ke sini habis subuh. Pastikan kau sudah bangun.”
***
Kenapa kau mengajakku menyusuri jalan tengah kota ini? Ini bukan kebiasaan kita dalam bergerak. Kau pastinya tidak lupa kan, kalau kegiatan menanam pohon lebih banyak dilakukan di hutan-hutan gundul. Kau membangunkanku saat belum waktunya subuh. Aku memang tidak terpaksa bangun. Tapi kalau hanya jalan-jalan saja dan mendengarkan orang sepertimu berceloteh. Aku akan sangat menyesalkan itu. aku meragukanmu. Aku merasa kau belum berubah. Kalau boleh berprasangka. Aku khawatir ini hanya jebakanmu saja. Menjebakku kemudian mengambil kesempatan yang sudah kau rencanakan dengan politikus-politikus di negeri ini.
“Kamu ini kenapa sih? Sudah kubilang, aku mau mengajakmu mencari paku.”
“Untuk apa?”
“Coba lihat pohon-pohon sepanjang jalan ini”
Yang kita lakukan sebelumnya, sebelum aku terjerumus dalam dunia politik itu sudah benar. Kita bergerak menghijaukan lahan-lahan gundul akibat ilegaloging. Aku tahu sudah hampir ratusan hektar yang kita hijaukan.
“Kau merasa berjasa dengan itu semua?”
“Kau ini kenapa sih? Masih saja meragukanku.”
“Setelah apa yang kau lakukan pada kita semua? Apa itu belum cukup?”
“Kan aku sudah mengaku bersalah.”
Beberapa bibit pohon yang kita tanam memang tumbuh menjulang. Tapi tak sedikit pula yang mati. Entah itu memang mati karena tak dirawat atau memang sengaja dicabut oleh seseorang. Kita luput dengan itu. Kedepannya kita harus lebih fokus lagi. Usai menanam bibit itu kita juga harus merawatnya secara rutin dan memastikan bibit itu tumbuh dengan aman.
“Ternyata kau hanya mau mengritik kegiatan kita dulu. Yang sudah kau tinggalkan dan kini hanya aku yang melanjutkan.”
“Bukan, bukan itu. Lagi-lagi hatimu penuh prasangka padaku.”
Ini soal lain. Soal pengalamanku berkecimpung di dunia politik. Saat pemilihan kepala daerah kita lima tahun yang lalu. Aku benar-benar larut dengan janji salah satu calon. Aku tak lupa dengan keinginan kita melihat hutan di lereng gunung yang ada di kota kita ini kembali hijau. Aku memilih jalur lain. Mendekati penguasa dan memanfaatkan otoritasnya untuk menggerakkan masyarakat kota kita agar sadar akan pentingnya kelestarian lingkungan.
“Kau ditipu?”
Sepertinya memang aku yang terlalu percaya pada calon kepala daerah itu. aku mengikuti gaya berpolitiknya. Bahkan aku tahu, seberapa besar kemungkinannya dia akan memenangkan pemilihan kepala daerah lima tahun yang lalu. Benar saja, dia menang.
Tapi benar juga katamu. Aku ditipu. Janji-janji tentang gerakan melestarikan lingkungan hanya menguap begitu saja. Dua bulan masa pemerintahannya, justru ia manfaatkan untuk mengeluarkan kebijakan seluas-luasnya untuk para investor. Tentunya investor dalam dunia industri. Yang membuatku sadar dan sakit adalah saat dia mengatakan akan mengubah kotaku, kota kita ini menjadi kota industri.
Aku mengajakmu ke sini karena aku ingin kembali ke jalan kita dulu. Bukan melewati jalur yang tak pasti. Apa lagi melewati jalur yang belakangan kuanggap instan. Janji-janji para politikus banyak yang tak terealisasi. Anehnya janji-janji itu selalu muncul setiap pemilihan kepala daerah.
Di jalan ini, di salah satu sudut kedai kopi, tujuh tahun silam. Kita duduk mendiskusikan gerakan tanam pohon untuk kota kita. Sepagi ini aku ingin kembali ke jalan itu. aku ingin memulainya dengan mengajakmu menyelamatkan pohon-pohon yang ada di sepanjang jalan ini. Kau tahu kan. Para politikus itu lupa ia banyak membebankan janji-janji manis. Tentu, janji manis yang tak selamanya bisa benar-benar berbuah manis.
“Maksudmu menyelematkan pohon?”
“Lihatlah dan pegang ini!”
“Mari kita cabut foto-foto para calon kepala daerah yang dipaku di batang pohon”
“Maafkan aku.”
“Sudahlah, aku mengerti perasaanmu. Sebelum pohon-pohon ini mati karena memikul janji manis. Mari kita selamatkan hidupnya!”








