Oleh : Qosem Syariati*

Sebelum kita menelanjangi hakikat cinta menurut Erich Fromm, maka perlu kita telanjangi hakikat cinta menurut para remaja sekarang atau bisa kita sebut kaum milenial. Berbicara tentang cinta memang gampang gampang susah, terkadang kaum milenial mengartikan cinta dengan apa kata realiatas yang pernah dia liat dan dia rasakan, semua tidak jauh dari apa yang dikatakan filosof hermeutik Dilthey “manusia dalam mendifinisikan sesuatu tak luput dari apa yang dia alami sebagai fakta, entah itu entitas atau non entitas” (eklaren).

Jika kita melihat lebih detail lagi hakikat cinta menurut kaum milenial, cinta adalah hal yang membahagiakan dan menyengsarakan, kadang memberikan kebahagian yang medakik atau kesengsaraan terus menerus. Fenomena tersebut adalah konsekuensi logis dari ketidakfahaman yang menyeluruh tentang hakikat cinta yang sebenarnya.

Dalam buku the art of loving yang terjemahannya seni mencintai, erich fromm memulai dengan apa yang menjadi kebutuhan dasar manusia, banyak tokoh yang telah menerangkan panjang lebar tentang kebutuhan manusia yang paling mendasar, namun bagi fromm yang paling mendasar dari umat manusia adalah penyatuan (integrai), atau kebersamaan agar terbebas dari penjara kesunyian. Keterasingan menurut fromm adalah penyebab pertama dari kekecewaan, kecemasan dan keputus asaan yang berakibat hilangnya harapan.

Banyak upaya yang dilakukan manusia untuk menanggulangi hal ini, namun semua belum benar-benar berhsil, salah satu upaya yang paling efektif adalah tindakan mencintai. Fromm berkata “solusi yang sebenarnya adalah penyatuan diri yang merupakan dzat yang maha besar dalam diri manusia” ini adalah hasrat yang paling hakiki, iya merupakan dzat yang membuat manusia tetap menjaga kebersamaan dalam ras, budaya, agama dll. Tanapa cinta manusia takkan pernah ada, tidak terbayangkan hidup tanpa cinta, pasti selalu ada gangguan-gangguan yang membuat ketenangan sebagai manusia terusik dan mengakibatkan kematian.

Mengerikan bukan? “ini adalah pesan yang sanngat bermakna, jika kita memikirkan dengan serius pesan itu pasti kita akan mengakui kebenarannya. Kadang kita memikirkan hal yang begitu mendakik dalam hidup kita. Seperti peperangan, permusuhan, konflik, penghianatan, kebencian dan kekecewaan tanpa menyadari kekuatan yang mendasainya. Faktanya adalah, kehidupan manusia terus eksis di planit bumi ini, padahal jika hitung kejahatan yang teru mengintai umat manusia. Hal ini merupakan bukti dari cinta yang bisa menyatukan dan mendamaikan kehidupan di planet ini.

Namun hal ini hanya teori, perlu untuk kita mengkaji lebih dalam sampai pada dataran praksis dari cinta. Pertama, terkuak fakta bahwa cinta memerlukan seuatu dari kita. Bagi Erich Fromm cinta itu adalah seni. Maka dari itu cinta adalah esuatu yang dapat kita pelajari, cinta bukanlah datang secara alamiah dan cinta bukanlah yang kita lakukan secara naluriah. Maka dari itu cinta perlu kita pelajari dan kita praktikkan sehari-hari secara aktif. Banyak dari kita terlampaui ide bahwa kita harus dicintai. Imbasnya, kita mempunyai kecendrungan menunggu, secara pasif orang yang mau mencintai kita, dan berakibat orang lain akan berbuat tidak adil ketika tidak ada seorangpun yang peduli terhadap kita, kebalikan dari itu kita haru aktif bertindak, kita harus mencintai. Bagi Erich Fromm, cinta memerlukan ikhtiar yang lebih banyak dan serius daripada kita menunggu dengan kepasifan. Oleh karena itu, jika kita berharap akan dicintai, maka kita harus mencitai terlebih dahulu. “cinta bukanlah jalan atu arah, banyak jalan untuk menuju cinta”

Pemahaman tersebut membawa kita pada praksis cinta yang kedua, yakni, karna cinta itu aktif bukan pasif, sejatinya cinta itu memberi. Sampai disini umat manusia secara umum dan remaja secara khusus salah memahami (kliru), memberi diartikan “pengorbanan diri” pasrah, dari mulai sisi pragmatis sampai sisi biologis, mereka juga acapkali mengartikan cinta itu merenggut kebebasan, merusak kepribadian sebagai individu. Fromm berkata hal itu keliru, dengan dua alasan.

Pertama, cinta tidak terbatas memberi dalam bentuk materi. Aspek yang paling penting dari memberi adalah kita memberikan diri kita sendiri, kehidupan kita, kesenangan kita, penderitaan kita,minat kita, pengetahuan kita, pengertian kita, dan keperdulian kita.

Yang kedua, memberikan diri kita sendiri dalam mencintai, sebagaimana orang takutkan, bukan berarti mengorbankan kebebasan kita sebagai individu. Hal ini terungkap di dalam agama Kresten dan Budha secara paradok, agar dapat menggapai Diri, kita perlu kehilangan Diri. Apa yang mesti kita hilangkan adalah, keegoisan diri,yakni segala sesuatu yang hanya berpusat pada diri sendiri. Kita harus menghilangkan ego kita agar bisa menggapai jiwa kita.

Dan bagi siapa saja yang masih mencemaskan kebebasan diri sendiri, Fromm menekankan bahwa memberikan diri kita sendiri dalam mencintai nyata-nyata dapat meningkatkan kebebasan kita untuk memberi. Mencintai adalah memberi. Hal ini memperkaya si pemberi karena mencintai dapat menambah kesadarannya untuk menjadi individu bebas dan aktif yang senantiasa memiliki sesuatu yang bernilai untuk diberikan kepada orang lain. Cinta adalah aktif, cinta itu memberi, dan cinta itu menghasilkan penyatuan yg memperkuat kesejatian individualitas kita.

Selain aspek-aspek cinta yg sifatnya mendasar ini, Fromm juga membahas elemen cinta lainnya, yakni keperdulian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Keperdulian merupakan perhatian aktif untuk kehidupan dan pertumbuhan orang yang kita cintai. Tanggung jawab merupakan upaya untuk merespon kebutuhan orang lain, yakni kesadaran akan keterbukaan atas orang yang kita cintai. Rasa hormat berarti kita menghargai orang lain sebagai seorang individu, yang kita terima dia sebagaimana adanya dan tidak mengubahnya atau tidak menjadikan dia sebagai obyek bagi kebutuhan kita sendiri. Pengetahuan berarti kita harus memahami orang lain, baik pada tataran rasional, intuitif, maupun pada tataran emosional.

Elemen cinta yang terahir adalah kepercayaan. Saya ingin membahasnya di sini secara singkat. Untuk memberikan diri kita kepada orang lain, kita harus memiliki kepercayaan kepada orang itu. Mencintai berarti membuka diri kita sendiri, dan dengan terbuka berarti kita memiliki kepekaan. Sebagian dari kita ragu-ragu melakukan ini karena dulunya kita memiliki pengalaman tersakiti atau dikecewakan. Namun, tanpa adanya kesadaran keterbukaan ini, yang dilandasi kepercayaan, maka tidak ada cinta. Oleh karena itu, cinta merupakan tindakan kepercayaan, dan siapapun yang memiliki sedikit kepercayaan maka dia juga memiliki sedikit cinta.

Setelah berbicara berbagai aspek cinta memberi, perduli, tanggung jawab, rasa hormat, pengetahuan, dan kepercayaan Fromm melanjutkan bahasannya pada jenis-jenis cinta yang berbeda, yakni: cinta saudara, cinta ibu, cinta ayah, cinta diri, dan cinta erotis. Ketika dia mengawali bahasannya mengenai cinta yang sifatnya persaudaraan, Fromm melontarkan pernyataan yang agak mengejutkan. Dia mengatakan, jika kita tidak mencintai semua orang maka kita sesungguhnya tidak mencintai siapapun. Tentu saja hal ini merupakan bagian dari 10 perintah Tuhan yg sulit dilaksanakan, yakni sejatinya kita tidak hanya mencintai orang yang mencintai kita, namun juga kita harus mencintai musuh-musuh kita.

Cinta sejati bertumpu pada satu sikap,yakni cara berfikir atau cara merasakan, yang ditujukan kepada seluruh semesta dan segala isinya. Hanya orang yang kapasitas kepribadiannya telah berkembang matanglah yang memiliki kapasitas untuk mencintai sesamanya dengan kerendahan hati secara total tanpa pamrih. Jika seseorang bilang,dia mencintai hanya pada satu orang, atau sekelompok orang, dan acuh tak acuh dengan yang lainnya, maka ini bukanlah cinta sejati.

Inilah yang disebut keegoisan diri, atau apa yang Fromm sendiri sebut dengan “Egoitisme untuk Duo”. Agar dapat mencintati dengan sebenar-benarnya mencintai, dan bukan dalam bentuknya yang egoistis, maka cinta harus senantiasa dalam keterbukaan, yakni cinta yang tak mementingkan diri sendiri, suatu cinta dalam wujud persaudaraan, yang merupakan sikap dasar yang mendasari semua jenis cinta yang lainnya.

 

“Berhentilah mencintai secara tidak sadar, sebab cinta adalah tindakan sadar manusia”

-Qosem Syariati-

 

*Penulis adalah Sarjana Sekolah Literasi 3

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here