Dari kacamata saya, setidaknya ada dua generasi dengan angka pertumbuhan cukup tinggi mengiringi kemajuan peradaban umat manusia hari ini. Secara kasuistis tentu yang saya amati di Indonesia. Hidup di peradaban serba digital memungkinkan seseorang untuk melakukan banyak hal dengan lebih mudah dan instan dengan tanpa harus mengorbankan banyak waktu dan mengeluarkan tenaga secara jur-juran. Lihat saja, saat lapar, anda hanya perlu membuka ponsel pintar anda, memilih kategori makanan yang anda kehendaki, lalu menekan pilihan “order” untuk memesan makanan tersebut. Dalam hitungan menit seorang penjual jasa akan datang mengetuk pintu rumah anda dengan menenteng makanan yang sudah anda pesan. Tanpa adanya penyedia jasa online tersebut, kemungkinannya tentua dua, masak sendiri atau terpaksa ke warung-warung terdekat. Untuk melakukan satu dari dua hal tersebut, berarti ada waktu dan tenaga yang terpaksa dipertaruhkan. Bayangkan, betapa dimanjanya kita saat ini.

Pemanjaan demi pemanjaan yang pada akhirnya melahirkan suatu generasi baru yang dengan bangga diperkenalkan sebagai “generasi (kaum) rebahan”. Itu pertama. Yang kedua, mengingat segala kebutuhan hidup bisa dengan mudah diakses melalui mesin digital bernama gadget (anytime and anywhere) maka gadget menjadi benda wajib yang musti dibawa ke manapun tuannya pergi. Benda yang satu ini nggak boleh ketinggalan, nggak boleh jauh-jauh. Hal lain kenapa gadget harus selalu dibawa adalah karena dari sanalah seseorang memperoleh hiburan. Termasuk yang sedang digandrungi oleh kawula muda yaitu, game-game action berbasis online, Mobile Legend misalnya. Sekali ada yang berujar, “mabar skuy”, maka bisa dipastikan satu regu mereka bakal memiringkan gadgetnya masing-masing, lantas menganggap yang berada di sekitarnya saat itu hanyalah fana belaka. Generasi ini mari kita sepakati, kita beri sebutan “generasi (kaum) ha-pe miring”.

Dibanding generasi yang pertama (generasi rebahan) saya cenderung sinis dengan generasi ha-pe miring ini. Kalau generasi rebahan, hampir tidak mungkin merugikan orang lain. Sebab toh kalau rugi, ya pasti mereka yang tanggung sendiri, Misal, sehari-hari rebahan, nggak pernah kerja, siapa yang rugi? Jelas bukan kita. Bahkan sepengalaman saya, saya sering diuntungkan teman saya yang suka rebahan. Gara-gara dia males jalan ke warung, akhirnya nyari diskonan dan ngorder beberapa jenis makanan. Dan ya, saya selalu kebagian. Bahkan gara-gara parahnya tingkat mager generasi rebahan seperti teman saya ini, bapak-bapak Grab atau Gojek (misalnya) bisa dapat uang jajan buat anak-anaknya.

Sementara itu, generasi ha-pe miring ini saya kira kok malah sangat tendensius merusak suasana. Udah pas main teriak-teriak nggak jelas, dan yang paling sakit nih, kita sebagai lawan biacara harus nerima banget dikacangin. Saya paling sebel ketika seorang kawan ngajak ke warkop, kirain buat ngobrol-ngobrol, eh tahunya cuma buat nyambung Wi-Fi, dan setelah itu dia sudah tenggelam dengan dunianya sendiri, Ya kenapa nggak coba ikut main? Nah, ini harus saya jelaskan. Saya itu nggak pernah tertarik sama sekali buat nginstall game-game apapun di ponsel pintar saya. Alasannya sederhana, pertama, ya emang karena ponsel pintar saya nggak pintar-pintar amat (nggak support). Kedua, sebagai anak desa mindset saya sudah terlanjur terbentuk bahwa yang namanya ngopi itu ya ngolah pikir. Dan ngolah pikir itu hanya bisa dilakukan dengan ngobrol dengan sesama. Nggak harus obrolan berat, bisa berupa topik sehari-hari.

Saya nggak ngelarang temen-temen baut nge-game, sebab bagaimanapun hiburan itu penting. Tapi seenggaknya ya tahu waktu dan kondisi, lah. Sebab asli, rek, yang namanya dikacangin itu ngaudubillah rasanya. Saya cerita sedikit, jadi kemarin siang saya dan salah seorang kawan duduk di bangku panjang samping warung makan. Seorang kakek tua yang tidak lain adalah suami si pemilik warung menanyakan hal-hal sederhana kepada kawan saya yang duduknya lebih dekat, seperti, “kamu asli mana, nak?” dan beberapa pertanyaan basa-basi lainnya. Karena masih sibuk dengan ha-pe miringnya, kawan saya menjawab sekenanya, tanpa sedikitpun menoleh ke arah si kakek. Matanya seolah nggak bisa bergeser barang sedetik dari layar gadgetnya. Entah geram atau bagaimana, si kakek memegang pundak kawan saya sambil berujar: “benda kwi (gadget) penyakit, nak, tak kandani.”

“Saya dulu sempat punya hp. Tapi setelah itu nggak pernah mau beli lagi” sambungnya. “Ceritanya itu pas saya sedang keluar rumah, hp saya ketinggalan. Nah, tiba-tiba mantan pacar saya menelepon. Ya karena saya nggak di rumah, telepon itu diangkat sama istri saya, setelah itu langsung dibanting. Sejak saat itu saya kapok nggak main hp. Lebih baik kehilangan hp daripada kehilangan orang-orang di sekitar kita, kan.” Tutupnya kemudian. Dari sini masih berpikiran “nggak apa-apa” ngacangin lawan bicara yang di depan mata, sementara kita justru sibuk dengan kawan-kawan di dunia maya?

Masukkan gadget anda saat orang lain sedang membutuhkan telinga yang siap mendengar sambatannya. Banyak solusi, banyak keputusan-keputusan krusial, dan banyak hal-hal besar yang lahir dari proses perbincangan-perbincangan sederhana dan saling mendengarkan macam ini. Dan yang paling penting adalah, menjaga perasaan lawan bicara kita.

Kalau kata Jean Baudrillard—filsuf Prancis—inilah kehidupan hiperalitas. Dimana orang-orang lebih sibuk dengan dunia dan aau kawan maya mereka. Orang-orang lebih rela menghabiskan waktu berjam-jam, bertaruh banyak kuota, untuk saling berbalas dengan kawan maya mereka baik melalui game virtual atau aplikasi-aplikasi lain. Namun enggan menyediakan satu menit saja untuk bercengkerama dengan orang-orang di dekatnya. Tapi cobalah sejenak merenung, ketika anda mati, yang susah payah ngurusin dari mandiin sampe menguburkan itu ya orang-orang di dekat anda. Orang-orang dari alam maya mana mau tahu. Bayangkan, jika orang-orang di sekitar anda sakit hati pernah anda kacangin (dengan ha-pe miring) setiap kali nongkrong dan nggak mau ngurus jenazah anda, maka anda pasti akan berpikir; seandainya kematian bisa dibatalkan sekarang juga? Kapok. Lah nggak ada yang mau ngurus jenazah anda eee, masa mau mandi-mandi sendiri.

Penulis
Muchamad Aly Reza – Sarjana Sekolah Literasi III

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here