Abdul Muhaimin
6 POSTS
0 COMMENTS
Pagi ini, gitar tua yang kau beri nama Martin itu tergantung malas di dinding dan memandangmu penuh harap. Tak seperti biasanya, ketika matahari sudah mulai beranjak dari singgasananya seperti ini, kau belum menyentuhnya sama sekali.
Biasanya kau sudah mengelusnya, mengelap beberapa sisinya dan tak lupa kau nyanyikan satu atau dua buah lagu bersamanya. Tapi pagi ini...
Jika ditanya apa cita-citaku. Aku akan menjawab dengan lantang, kelak aku ingin seperti ayah, menjadi petani. Seorang yang memiliki punggung legam karena terbakar panas matahari, dan memiliki tubuh kuat karena sering mencangkul dan mengangkat karung-karung padi. Hanya itu saja yang kutahu tentang ayah sebagai petani. Selebihnya aku melihat ayah sangat menyayangi kami sekeluarga dan selalu bahagia menjalani hari-harinya sebagai...
Orang-orang itu berbondong-bondong menuju Bukit Putri Tidur di pinggiran kota. Semuanya membawa tabung yang ada tulisannya O2 (oksigen) di punggungnya. Tidak hanya orang dewasa. Anak-anak pun melakukan hal yang sama dengan orang tuanya. Mereka sudah diajarkan untuk ikut mengumpulkan oksigen setiap hari minggu. Bersama orang tua mereka, saling gotong royong mengisi tabung itu demi memenuhi pasokan oksigen murni untuk...
Kau tahu sendiri kan ini tahun politik. Sudah seharusnya kita ikut menyelamatkan pohon-pohon samping rumah, pinggir jalan, apa lagi hutan. Kau tahu sendiri kan ini tahun politik. Banyak bermunculan calon-calon kepala daerah bahkan calon presiden yang menjanjikan berbagai macam solusi kehidupan. Tak terkecuali untuk alam.
Kau juga pasti tahu kan. Pohon-pohon itu mendapat ancaman serius. Kita boleh khawatir tentang hutan...
Judul : Edelweiss di Bulan Juli
Penulis : Yenik Wahyuningsih
Penerbit : Ellunar
Tahun : Juli, 2019
Tebal : x + 90 hlm, 14,8 cm x 21 cm
ISBN : 978-623-204-166-0
Harga : 36.000
Puisi, kehadirannya tidak pernah bisa diduga. Kadang diksi-diksi yang padat dengan muatan makna itu muncul secara tiba-tiba. Tidak peduli seseorang dalam kondisi sedang bahagia ataupun sedang sedih. Bahkan, setiap kata yang...
Seperti biasa, setiap hari saya selalu menyempatkan mampir ke kedai kopi Kang Sholeh. Duduk menikmati kopi hitam dan memandangi kantor walikota. Kadang saya mampir setelah mengajar dari kampus. tapi juga tidak jarang, saya justru mampir saat berangkat ke kampus. bahkan lebih sering lagi, saya justru datang dengan mentraktir kopi mahasiswa yang meminta bimbingan skripsi.
“bimbingannya di kedai kopi kang Sholeh...









