Bagaimana mungkin manusia bisa kecewa kepada Tuhannya, padahal Tuhanlah (sejatinya) obsesi manusia di dunia dan kelak di akhirat. Bagaimana mungkin seseorang merasa terhina dan nelangsa dalam menjalani hidup, padahal Tuhan adalah Sandaran Vertikal seluruh manusia?

Teramat banyak di antara kita yg masih kecewa pada nasib, dan itu artinya kecewa pada Tuhan, sang Maha Penentu nasib. Jika demikian, Tuhan akan semakin sulit kita “temukan” di tengah ketakpastian hidup ini, terutama di kota-kota yang bising dengan knalpot-knalpot kepalsuan dan huru-hara politik. Bukankah kerap kali kita terombang-ambing antara harapan dan putus asa, tak tentu arah dan serba terpedaya?

Di jantung kota-kota besar, di mana para imigran berjudi dan kaum urban berkerumun mengais nasib mereka, Tuhan semakin sulit ditemukan pada tiap jengkal-jengkal kehidupan. Sehingga, menjadi kaum urban harus pandai-pandai “mencari” Tuhan. Lho, mengapa sulit mencari Tuhan di perkotaan, di pusaran ekonomi dan politik kelas taman kanak-kanak ini?

Sebenarnya, Tuhan ada di mana-mana dan di siapa-siapa, semau-mauNya, tak perlu apa dan bagaimana. Tuhan adalah pihak kedua ketika Anda sedang sendiri, menjadi pihak ketiga manakala Anda sedang berdua. Apabila Anda seorang pengkhotbah di gereja atau pura, maka Tuhanlah salah satu jemaat Anda.

Dan, ini yang banyak politisi, para begundal dan gerombolan bromocorah Senayan tak percaya, setiap kali mereka rapat atau sidang menentukan, me-mark up, dan lalu menyunat anggaran, Tuhan juga sedang geleng-geleng sembari tersenyum di tengah-tengah mereka.
Sesekali, kalau Anda bosan karena terlalu sering piknik dan liburan ke luar sana, keluar jauh dari diri, tengoklah ke dalam diri Anda, masuklah ke relung paling dalam. Ada apa?

Karunia paling berarti yang dihadiahkan Tuhan dalam hidup ini sesungguhnya bukalah berupa gelimang kekayaan, gemerlap jabatan, pesona wanita yang molek jelita, prestasi dan kemewahan hidup, akan tetapi kesempatan, yakni kesempatan menjadi manusia yang berakal sehat—untuk menginsyafi betapa kita manusia sering mengecewakan Tuhan, dan bukan sebaliknya, Tuhan mengecewakan hamba-Nya.

Namun demikian, yang mengkhawatirkan bukanlah apakah Tuhan ada di pihak kita, tapi apakah kita berada di pihak Tuhan. Apa sebab? Tuhan tidak pernah membangunkan para pemalas! Sehingga, akhir dari upaya terbaik manusia adalah awal dari campur tangan Tuhan.

Prinsip semacam ini hanya dimiliki mereka yang puasa. Semoga kita semua mendapat barakah dan kearifan sebagaimana dianugerahkan Allah kepada para kekasihNya.
Jika demikian, apa yang Anda pikirkan dan Anda yakini, tidak bisa menghasilkan sebesar apa yang Anda lakukan. Tata kelola di dalam diri ini pula yang seharusnya kita latih dengan Nabi Muhammad Saw sebagai rule model.

Tidak ada jaminan keberhasilan dalam mencoba dan berbuat sebagaimana diteladankan sang Nabi, akan tetapi tidak mencoba adalah jaminan gagal sama sekali. Hanya dengan mencoba dan istiqamah mencontoh kepribadian sang Nabi serta mantulkan nilai-nilai Kitab Suci, kita insya Allah menjadi generasi qur’ani. Namun yang menjadi pertanyaan: apakah Nabi Muhammad pernah kecewa dan putus asa dalam berdakwah? Apakah dibenarkan bagi para waskita dan bijak bestari untuk berlarut-larut dalam kesedihan?

Kanjeng Nabi itu manusia, tentu saja manusia paripurna, sehingga pernah sekali-dua kali galau dan sedih, kecewa dan marah, lelah dan bosan, merasa gagal dan kalah, meskipun hal itu tak pernahmengurangi sedikitpun kemuliaannya sebagai Pemimpin para Nabi dan Rasul (sayyidul anbiya’ wal mursalin). Selama 12 tahun berdakwah di Mekah hanya mendapat pengikut 124 orang, itu artinya rerata hanya 10 orang dalam setahun, belum lagi tekanan fisik dan mental, ancaman pembunuhan dan sabotase. Sehingga, segera Allah SWT mengingatkan Nabi (dan tentu saja semua umat Islam): “Dan jikalah Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua seluruh penduduk bumi. Lantas, apakah engkau akan memeksa umat manusia supaya beriman semuanya?” (QS. Yunus: 99). Pada kesempatan lain, Allah SWT juga menegur Nabi kita, sebagai bukti bahwa Nabi Saw sangat dicintai oleh Allah SWT dan dijaga dari dosa (ma’shum), yakni pada QS. Kahfi: 6 yang artinya “Maka, barangkali engkau akan bunuh diri karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman terhadap Al-Qur’an ini?”

Akhirul kalam, manusia sejatinya tak pernah kecewa kepada siapapun, lebih-lebih kepada Tuhan. Manusia hanya kecewa terhadap harapan-harapannya sendiri yang ia sematkan dan ia minta dari orang lain. Padahal, bukan tugas orang lain untuk membahagiakan kita, tapi tugas kita sendiri!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here